Presentasi Pertama Mengubah Duniaku

Posted on

 

Cerpen Isykarima Al Qibthia

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Teeett….” dering bel berbunyi menyeru siswa-siswi untuk segera masuk ke kelas masing-masing. Terkadang ada yang masih menikmati bekal dan ada juga yang terpaksa membawa makanan ke dalam kelas karena ketidakcukupan waktu untuk menghabiskannya.

Satu bola bakso terakhir menantiku untuk memakannya dan “hap” kini perutku terasa kenyang dan terisi kembali dan aku merasa kembali fit untuk memulai pelajaran berikutnya. Aku segera menuju kelas yang letaknya agak jauh dari kantin, kelasku di lantai tiga. Tak mau kena hukuman karena terlambat, aku berlari. Terlihat Nina teman sekelasku juga berlari nampak dari kejauhan. Sepertinya guru bahasa Indonesia sudah datang di dalam kelas. Aku dan Nina tahu betul akibatnya jika terlambat.

“Coca, Nina kalian terlambat. Ibu akan memberi tugas tambahan buat kalian lho!” sahut lembut Ibu guru yang tekenal ramah itu. “Maafkan kami Bu, jangan bu hehe… Kami janji tidak akan terlambat lagi” lirihku dengan kepala tertunduk.

“Kalau begitu kalian maju presentasi pertama, kalian bersedia kan?” sahut Ibu guru dengan tersenyum. “Bersedia Bu, terima kasih”. Ibu guru mengangguk lalu mempersilahkan kami untuk duduk. Nina memandangku dengan tidak yakin. Dengan adanya dorongan kata-kata akhirnya kuberhasil menumbuhkan keberanian Nina.

“Presentasi tokoh pahlawan pertama adalah kelompok putri, yang akan dilakukan oleh Coca dan Nina. Coca, Nina silahkan maju ke depan!” perintah Ibu Guru. Aku dan Nina melangkah dengan percaya diri. Ku buka makalah yang berjudul Cut Nyak Mutia ini dengan ucapan salam.

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucapku, lalu teman-temanku menjawab salam yang ku ucapkan. Kuberanikan diri untuk melangkah ke depan.  Memulai menjelaskan kepahlawanan tokoh Cut Nyak Mutia ini. Nina yang menulis gambaran presentasi di papan tulis. Kujelaskan betapa besar pengorbanan Cut Nyak Meutia dan suaminya Teuku Chik Tunong dengan gigih melawan Belanda. Mereka berjuang selama bertahun-tahun tak mengenal menyerah. Segala kekuatan mereka kerahkan hanya untuk berperang dengan memakai taktik. Akhirnya tahun 1902 mereka berhasil mengalahkan Belanda. Perjuangan mereka tak berhenti sampai di situ. Mereka terus melawan, berjuang hingga suami Cut Meutia gugur dan Cut Meutia meneruskan perjuangan, menikah dengan Teuku Syamsarif dan akhirnya mereka sahid dalam pertempuran.

Sudah  30 menit sudah kami menjelaskan makalah kami, dengan salam dan berlinang air mata kami menutup presentasi. Kami merasa Cut Nyak Meutia adalah sosok yang luar biasa, perempuan pejuang kemerdekaan yang masih jarang namanya terdengar, bahkan mungkin saja kami tidak pernah menengar namanya jika guru kami tidak memberikan kami tugas ini.

Sorak tepukan teman-teman terdengar membuatku dan Nina bangga. Bu Guru mempersilahkan para siswa untuk mengajukan pertanyaan . Kulihat ada siswa yang mengacungkan tangan.

“Baik Dodi silahkan.” timpal Bu Guru. “Mengapa memilih Cut Nyak Mutia? padahal banyak pahlawan la    ki-laki Indonesia yang lebih gigih melawan Belanda” cetus Dodi dengan muka penasaran.

Baca Juga >  Perempuan Karir di Masa Iddah, Bagaimana Pandangan Fiqh?

Pertanyaan itu membuatku heran mengapa sekarang ini yang diidolakan hanya pahlawan laki-laki? Kujawab dengan lantang.

“Jika pada tahun 1905 Cut Meutia tidak ada, pasti belanda tidak akan kalah. Jika Cut Meutia tidak berjuang pada tahun itu mungkin sampai sekarang bangsa ini masih dijajah oleh belanda. Mengapa kamu hanya tahu tentang pahlawan laki-laki saja? Banyak pejuang perempuan untuk membela anah air, akan tetapi sejarah mereka masih sedikit dibanding dengan pejuang laki-laki. Oleh karena itu kami ingin menulis sejarah mereka, agar kita semua mengenal para pejuang bangsa baik itu pejuang laki-laki maupun perempuan.” jelasku.

“Baiklah, kalau begitu seberapa jauh kalian mengenal pejuang perempuan? Saya jadi penasaran kira-kira siapa lagi pejuang atau pemimpin perempuan Indonesia? Karena yang saya tahu hanya ibu Kartini yang setiap tahun kita peringati juga ada lagunya. Tetapi yang lain? Saya tidak pernah mendengarnya.”kata Dido penasaran.

Aku pun terdiam,siapa lagi ya tokoh perempuan pejuang bangsa yang dengan kecerdasan dan keahliannya bisa mengalahkan Belanda. Atau mereka juga menjadi seorang pemimpin di masanya, atau mungkin mereka adalah sosok yang sangat berpengaruh. Saya mulai mengingat-ingat siapa lagi pejuang perempuan yang saya kenal selain Cut Nyak Meutia, RA Kartini, Cuk Nyak Dien, dan siapa lagi.

“Bagaimana apa kalian bisa menjawab pertanyaan Dido?” tanya ibu guru dengn tersenyum.

“Ibu, ternyata kami juga tidak banyak mengenal pejuang perempuan bangsa ini. Kami hanya mengenal RA Kartini, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia.” Jawabku.

“Wah, kalian semua hebat. Presentasi hebat, pendengar yang hebat pula. Benar memang, sejarah pejuang laki-laki sudah banyak kita dengar, sudah banyak yang ditulis bahkan sudah banyak fotonya menghiasi dinding-dinding kelas. Akan tetapi pejuang perempuan masih sedikit. Sebenarnya banyak sekali seperti HR. Rasuna Said, Dewi Sartika, Ibu Fatmawati, Nyi Ageng Serang, Nyai Khoiriyah Hasyim, Nyai Walidah Dahlan. Juga perempuan-perempuan hebat dalam mengisi kemerdekaan seperti Ibu Megawati, beliau presiden perempuan pertama di negara ini, ibu Ainun Habibie istri BJ Habibie yang juga seorang dokter. Yang masih hidup juga banyak ada ibu Sinta Nuria Wahid, Ibu Sri Mulyani, dan lain-lain. Mereka semua perempuan muslim yang hebat.”

Kami terdiam kaget mendengar penjelasan ibu guru.

“Jadi, mari kita mengenal sejarah untuk membuat sejarah selanjutnya. Mari kita mengenal pejuang dan pemimpin bangsa, untuk menjadi generasi yang siap menanap masa depan.” Lanjut bu guru.

Aku pun semakin nge-fans sama beliau. Ibu guru satu ini sangat gemar memberikan wacana-wacana pengetahuan. Memang dia seorang guru bahasa Indonesia, akan tetapi bagi saya dia adalah guru ilmu pengetahuan.

“Terima kasih ibu, kami akan banyak membaca dan belajar lagi” kataku dengan penuh semangat dan ibu guru pun tersenyum manis.

*Siswa asli Sleman, kelas VIII MTs Binaul Ummah Bantul