Bangkitmedia.com, YOGYA – Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang cukup besar di tengah dominasi media digital. Hal tersebut ditegaskan Anggota DPD RI Dapil DIY Dr KH Hilmy Muhammad MA dalam seminar pra-Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-16 bertajuk ‘Merawat Ketahanan NU: Realitas Identitas dan Masa Depan di Aula Kantor PWNU DIY, Ahad (25/10/2026).
“Dalam catatan kami, sekitar 75 juta penduduk Indonesia atau 52,6 persen disebut berasal dari generasi Z, dengan perhitungan yang merujuk pada populasi 288,3 juta jiwa serta kategori generasi Z dan milenial,” terang Pengasuh Ponpes Al Munawwir Krapyak tersebut.
Ditambahkan pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut, persoalan generasi muda tidak semata berkaitan kecerdasan. Namun juga tekanan ekonomi, kesehatan mental, dan penggunaan gawai secara berlebihan.
“Bukan masalah kecerdasan semata,” tegasnya.
Pihaknya tidak lupa menyoroti kebiasaan menggunakan gawai selama tujuh hingga delapan jam sehari, bahkan hingga 20 jam dalam kasus tertentu. “Paparan media sosial yang berlebihan, dapat memengaruhi standar hidup anak muda, memicu krisis identitas, dan mendorong perilaku fear of missing out (FOMO),” ujarnya.
Dalam seminar tersebut, hadir empat narasumber, yakni Dr H Hilmy Muhammad MA, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid SPsi MPsi, Dr Fahmy Akbar Idries SE MM dan Prof Dr H Fathorrahman Ghufron MSi. Forum tersebut menjadi ruang refleksi untuk memetakan tantangan NU sekaligus merumuskan strategi penguatan organisasi menghadapi perubahan zaman.
Sekretaris PWNU DIY Dr H Muhajir MSI menekankan perlunya pembaruan cara ber-NU, khususnya dalam merangkul generasi muda. Menurutnya, NU perlu menjaga tradisi intelektual, kemandirian, dan keberanian menyampaikan kritik demi kepentingan masyarakat.
“NU perlu meremajakan kembali cara ber-NU Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Cara ber-NU terus berubah, terutama di kalangan anak-anak muda,” ungkap Muhajir.
Sementara itu, Alissa Wahid menekankan pentingnya pembenahan tata kelola organisasi agar kehadiran NU benar-benar dirasakan masyarakat. Ia menggarisbawahi keluarga, perempuan, dan pendidikan sebagai bidang strategis untuk memperkuat ketahanan NU.
“Penguatan tersebut perlu ditopang pilar umum berupa ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, serta pilar keagamaan yang mencakup bimbingan rumah tangga, ekonomi keluarga, dan pemberdayaan perempuan. Langkah ini diharapkan memperkuat kesejahteraan keluarga sekaligus hubungan antara jam’iyah dan jamaah,” kata Alissa.
Sedang Fahmy Akbar Idries, menekankan pentingnya ketahanan politik warga NU dengan menjadikan pedoman berpolitik sebagai rujukan. “Prinsip kebebasan yang bertanggung jawab, persaudaraan, dan musyawarah perlu terus dirawat agar sikap politik NU tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Adapun Fathorrahman Ghufron mengingatkan perlunya strategi dakwah yang lebih dekat dengan karakter generasi muda. Ia menyoroti kecenderungan sebagian anak muda yang semakin jauh dari organisasi keagamaan dan menekankan pentingnya kehadiran NU di ruang digital.
“Harus ada perubahan strategi agar masyarakat, baik offline maupun online, merasa nyaman dengan NU,” jelasnya. Penguatan konten di TikTok, YouTube, dan platform digital lainnya, termasuk pelibatan kader serta kiai sesuai bidang keahlian, dinilai dapat membantu menjawab persoalan sosial masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ideologi.
Seminar ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi penguatan organisasi. Hasil diskusi akan menjadi salah satu bahan penyusunan arah kebijakan dan program PWNU DIY dalam Konferwil ke-16 yang dijadwalkan berlangsung pada 16 Januari 2027 di Pesantren Al Miftah, Nanggulan, Kulon Progo. (*)








