Pondok pesantren Ma’hadut Tholabah didirikan secara resmi pada tahun 1916 M/ 1336 H oleh KH. Mufti bin Salim bin Abdur Rahman seorang ulama asal desa Balapulang Kabupaten Tegal. Beliau diambil menantu oleh Kyai Sulaiman, seorang Kepala Desa Jatimulya yang dikenal kaya raya di wilayah Kecamatan Lebaksiu. Saat itu KH. Mufti bin Salim bin Abdur Rahman telah mulai merintis kegiatan pesantren ini sejak tahun 1913 M, yakni dengan membuka kegiatan pengajian umum di Masjid Jami’ dukuh Babakan yang diikuti oleh 12 orang dari lingkungan Babakan.
Ketika kegiatan sudah mulai berjalan 3 tahun dengan peserta kegiatan mulai banyak, maka pada tahun 1916 M, beliau mulai mengembangkan kegiatan keagamaannya dengan membangun sebuah mushola di ujung selatan pedukuhan Babakan yang merupakan sentral seluruh kegiatan keagamaan yang dipimpin oleh beliau. Sedangkan para peserta pengajian yang berminat untuk bermukim, mereka membangun sendiri tempat pemukiman sejumlah 4 kamar yang masing-masing berukuran 3×2 m2 dengan lokasi sebelah selatan mushola. Sejak saat itulah tempat aktivitas keagamaan ini dikenal dan dikukuhkan sebagai pondok pesantren Ma’hadut Tholabah.
Pondok pesantren Ma’hadut Tholabah merupakan salah satu pesantren salaf yang menyelenggarakan berbagai aktivitas dalam kesehariannya seperti MI, MTs, MA. Dimana semua lembaga tersebut berdiri di bawah naungan pondok pesantren dalam hal ini Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah (YPPM). Pondok pesantren ini juga merupakan pesantren yang masih mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik, meskipun di daerah Babakan itu sendiri telah banyak berdiri pondok pesantren lain. Akan tetapi santrinya tidak kalah banyak dengan pondok pesantren yang ada di sekitarnya. Selain itu, pondok ini juga memiliki program bagi masyarakat sekitar yaitu Majlis Ta’lim sabtunan (bapak-bapak), selasanan (ibu-ibu) dan sebagainya.
Pondok pesantren yang jumlah keseluruhan santrinya sekitar 500 orang memiliki visi yaitu membentuk pribadi santri yang beriman, berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah, serta berakhlakul karimah. Dimana dalam perwujudannya dengan pelaksanaan bimbingan keagamaan melalui kajian kitab mar’atus sholihah terkhusus di kawasan asrama putri yang dibimbing oleh Nyai Hj. Masruroh. Di samping itu, dalam proses membentuk akhlak santriwati beliau menggunakan metode jargon yaitu tulisan-tulisan yang ditempel di dinding-dinding pondok pesantren seperti jangan menggosob, dan lain sebagainya.
Pendidikan yang Mandiri
Sedangkan misi dari pondok pesantren ini yaitu menjadikan pondok pesantren sebagai sarana pendidikan yang mandiri dan menitik beratkan pada penanaman keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.serta tujuannya ialah mengembangkan normatif Islam secara analisis dan empiris. Proses pelaksanaan bimbingan keagamaan dan metode yang digunakan dalam pemberian bimbingan keagamaan yaitu metode mauidhotul khasanah. Dimana materi yang disampaikan berhubungan dengan akhlak yang dilakukan sehari-hari santriwati seperti akhlak terhadap orangtua, akhlak terhadap guru, dan akhlak terhadap teman.
“Faktor pendukung dalam melakukan bimbingan keagamaan di pondok ini yaitu asrama santriwati yang masih dalam satu komplek dengan pengasuh sehingga memudahkan pengasuh dalam mengawasi, adanya dukungan dari masyarakat sekitar seperti sekolah pagi yang berbasis agama.” tutur Nyai Hj. Masruroh S.Pd.I selaku pembimbing di pondok pesantren tersebut. Materi yang disampaikan oleh pembimbing tentang akhlak seorang wanita yang berhubungan dengan keseharian santri seperti akhlak terhadap orangtua, akhlak terhadap guru, dan akhlak terhadap teman.
Menurut salah satu santriwati di pondok pesantren terebut, ia belajar di pondok karena awalnya dipaksa oleh orangtua dan menginginkan agar anaknya pintar mengaji dan berakhlak mulia. Namun setelah mengikuti bimbingan keagamaan, ia merasa lebih baik dalam perilaku, mulai tahu bagaimana etika atau perilaku terhadap orangtua, guru, dan teman.
“Saya merasa menyesal, apalagi saya merasa perilaku saya dulu durhaka terhadap orangtua.” ujar salah satu santriwati di pondok pesantren tersebut. Selain itu, setiap kali memberikan nasihat ustadzah atau pembimbing selalu menasihati tentang akhlak dan mengarahkan kepada santri-santrinya agar berakhlakul karimah. Para pembimbing juga menggunakan metode ceramah dan terkadang diselingi cerita-cerita tentang wanita sholihah agar santri tidak jenuh mendengarkannya. Selain itu pembimbing juga mencontohkan atau memberikan keteladanan agar para santrinya meneladani perilaku beliau.
Selain itu, akidah juga sebagai salah satu mata pelajaran di pondok pesantren Ma’hadut Tholabah yang bertujuan untuk menjadikan anak didik menjadi manusia yang memiliki akidah yang lurus. Adanya kitab yang ditulis sendiri dalam bahasa Jawa oleh sesepuh/ pendiri pondok pesantren ini yaitu ilmu Aqo’id namanya Mu’taqod 62 (sewidak loro), inilah yang menjadi ciri khas pondok pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal dengan ilmu Aqo’idnya, dimana setiap santri wajib untuk menghafalkannya minimal 3 kali khatam dan lancar dalam menghafalkannya untuk satu buku/ kitab. Nyai Masfu’ah menerangkan mengenai pembelajaran akidah memaang santri berhasil dalam segi kognitif, akan tetapi dari aspek afektif dan psikomotorik belum tercapai dengan baik. Sehingga hasil belajar pun belum nampak dalam perubahan sikap dan tingkah laku santri secara terpadu.
* Penulis: Susila Wati, mahasiswi prodi PBA STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta








