Bangkitmedia.com, YOGYA– Forum silaturahim pengasuh pesantren se-DIY yang secara berkala diadakan RMI PWNU DIY dengan sebutan Damparan sekaligus Pembukaan Silatnas Bunyai Nusantara Ke-empat baru saja selesai diselenggarakan di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta.
Silaturahim Bunyai Nusantara IV sukses diselenggarakan di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta selama dua hari, Sabtu-Ahad (1-2/11/2025). Kegiatan tersebut juga menjadi ajang Forum Silaturahim Pengasuh Pesantren se-DIY yang diadakan RMI PWNU DIY dengan nama DAMPARAN. Bersamaan dengan acara tersebut, juga dilangsungkan Silaturahim Nasional (Silatnas) mengambil Tema ‘Transformasi Standar Pesantren: Merawat Tradisi, Membangun Inovasi’ di Universitas Alma Ata Yogyakarta.
Hadir pada kesempatan tersebut, tidak kurang dari 600 peserta meliputi pimpinan pengasuh pesantren NU (Kyai dan Ibu Nyai) se-DIY dan pengasuh pesantren putri (Ibu Nyai) dari berbagai wilayah di Nusantara. Acara diawali sambutan tokoh agama dan pejabat, seperti Ibu Nyai Hj Dra Ida Rufaida Ali, GKR Hemas serta keynote speech Ketua Umum PBNU Dr (HC) KH Yahya Cholil Staquf.
Acara Damparan sekaligus pembukaan Silatnas diawali lantunan shalawat Mahallul Qiyam oleh Ibu Nyai Hj Nurhanah Zamzami dilanjutkan pembacaan tahlil oleh Ibu Nyai Hj Luthfiyah Jirjis. Kehadiran GKR Hemas dan GKR Mangkubumi menjadi simbol dan dukungan tentang pentingnya peran perempuan dalam pembangunan SDM, khususnya dalam bidang pendidikan.
GKR Hemas memaparkan sejarah peran ulama perempuan dalam pembangunan bangsa Indonesia. Selanjutnya, Ketua PBNU juga meneguhkan besarnya peran Ibu Nyai dalam pengelolaan pesantren dari dulu sampai saat ini.
Diskusi yang digelar menyoroti sejarah dan tantangan modern yang dihadapi pesantren, pentingnya kolaborasi, serta konsolidasi antar pesantren untuk menghadapi isu sosial seperti perundungan. Acara ini juga memperkuat jaringan perempuan pesantren dari berbagai daerah sebagai pusat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, ditutup dengan penghargaan tokoh inspiratif dan doa untuk kemajuan serta keberkahan pesantren di Nusantara.
Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU DIY KH M Nilzam Yahya MA menekankan pentingnya sinergi antara tradisi pesantren dan inovasi modern serta posisi pesantren sebagai mitra strategis negara dalam membangun pendidikan bermartabat. Selanjutnya, rektor Universitas Alma Ata Prof dr KH Hamam Hadi MS SpGK DSc memaparkan bahwa Kampus Alma Ata menjadi contoh sukses transformasi yang menggabungkan tradisi keagamaan dan kemajuan akademis, termasuk pembukaan fakultas kedokteran dan peningkatan peringkat universitas.
Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menyampaikan tentang standar pesantren masa depan. Beliau membahas enam aspek transformasi yang harus dilakukan pesantren: pengasuhan, kurikulum, SDM, tata kelola, kelembagaan, dan infrastruktur dengan tetap fokus menjaga tradisi sambil berinovasi agar relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan global. Transformasi ini penting agar lulusan memiliki ilmu agama dan umum, akses ke birokrasi dan teknokrasi serta mampu menghadapi dinamika sosial ekonomi modern. Peran sentral Bu Nyai dalam kepengasuhan dan pengelolaan pesantren juga disoroti sebagai kunci keberlangsungan dan kemajuan pesantren.
Kegiatan inti seminar nasional dibawakan tiga narasumber yang semuanya merupakan Bunyai sekaligus akademisi. Ibu Ny Hj Dr Hindun Anisah MA memaparkan tentang kurikulum integratif pesantren. Ibu Nyai Hj Dra Badriyah Fayumi Lc MA menjelaskan tentang transformasi kepengasuhan di pesantren serta Ibu Nyai Hj Dr Maya Fitria MA Psikolog menjelaskan tentang pengembangan SDM pengelola pesantren.
Penekanan seminar diberikan pada pentingnya pengasuhan dan pengembangan SDM di pesantren sebagai lembaga pengasuhan alternatif yang melindungi hak anak dan membangun karakter bangsa. Selanjutnya, diskusi membahas tantangan kekerasan, khususnya kekerasan seksual, serta sistem pengasuhan yang melibatkan aktif pengasuh guna mengurangi risiko tersebut.
Selain itu, peningkatan kualitas SDM, kurikulum adaptif, jaringan antar pesantren, dan pengakuan peran strategis Bu Nyai dalam manajemen pesantren menjadi fokus utama. Dialog dan tanya jawab memperkaya pemahaman isu mental health santri dan perilaku oknum pengasuh muda serta solusi budaya dan struktural untuk masa depan pesantren yang lebih beradab. Sesi penutupan dilakukan dengan memberikan penghargaan kepada narasumber dan peserta terpilih. Acara ini menegaskan pentingnya semangat dan kolaborasi perempuan pesantren dalam mendorong kemajuan pesantren dan perempuan Nusantara secara keseluruhan. (Lina, Maya)








