ibu nyai

Perempuan Hebat Penggerak Pendidikan

Posted on

Gus Rijal Mumazziq Z, Rektor INAIFAS Jember.

Imam Said Ibnu Musayyab, salah seorang pemuka fuqaha’ sab’ah di Madinah pernah menolak pinangan Putra Mahkota Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Al-Walid ingin menikahi putri Imam Said. Tapi beliau menolak, sebab menantu Abu Hurairah ini menginginkan seorang ulama, bukan umara, sebagai menantu.

Kelak, Imam Said menikahkan santrinya, Muhammad bin Wada’ah yang miskin tapi alim dengan putrinya yang jelita, hafal al-Qur’an dan mewarisi kekayaan intelektual ayahandanya. Ketika masih pengantin baru, Muhammad bin Wada’ah mau keluar rumah untuk ngaji kepada mertuanya. Istrinya mencegah. “Duduklah, aku yang akan mengajarkan ilmu ayahku kepadamu, suamiku.” Akhirnya sang suami belajar kepada istrinya selama satu bulan penuh. Demikianlah di antara etika menghormati pemilik ilmu.

Bagi saya, ini keren. Imam Said, seorang pemuka tabiin itu, mendidik putrinya untuk mewarisi gudang keilmuannya. Beliau tidak mempersiapkan putrinya sebagai “konco wingking” (teman di ruang belakang), melainkan menempanya untuk menjadi seorang ulama. Dalam hal memilih menantu juga sama. Beliau menolak pinangan anak raja, malah memilih santrinya yang miskin tapi cerdas dan saleh sebagai pendamping hidup anaknya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Di Indonesia, saya juga teringat gaya para ulama NU dalam memperlakukan anak dan istrinya. Contohnya, KH. M. Hasyim Asy’ari. Sejak awal beliau mempersiapkan putrinya sebagai pewaris kekayaan intelektualnya. Nyai Khairiyah Hasyim, putri sulungnya, terkenal sebagai tokoh pendidikan. Bersama suaminya, KH. Ma’shum Ali, penulis Amtsilatut Tashrifiyyah itu, beliau merintis sebuah pesantren di Seblak, tidak jauh dari pesantren ayahnya. Setelah suaminya wafat, Nyai Khairiyah menikah dengan KH. Muhaimin Abdul Aziz, Lasem. Bersama beliau, Nyai Khairiyah berangkat ke Makkah.

Di sana, beliau mendirikan Madrasah Kuttabul Banat. Sekolah kaum hawa. Benar-benar penggerak pendidikan. Madrasah ini merupakan madrasah pertama kali di Saudi Arabia yang diperuntukkan bagi perempuan. Beliaulah yang menjadi direktur utama sejak perintisan, 1942 M. Pada tahun 1957, Presiden Soekarno meminta Nyai Khairiyah kembali ke Indonesia, memintanya memajukan dunia pendidikan. Beliau menuruti anjuran ini, karena selain suaminya wafat di tahun 1947, Nyai Khairiyah melihat jika kiprahnya sudah lama ditunggu umat di tanah air.

Pendiri NU lainnya, KH. Bisri Syansuri, didampingi perempuan hebat, Nyai Nur Chadidjah. Putri Kiai Hasbullah Said, Tambakberas ini, nggak mau ongkang-ongkang kaki sebagai ibunyai. Beliau aktif mendampingi suaminya dalam menggerakkan pendidikan bagi kaum hawa. Tahun 1919 (versi lain 1922), beliau meminta izin kepada suami untuk mendirikan madrasah untuk kaum hawa, dan kemudian berkembang menjadi pesantren putri. Nyai Nur Chadidjah, adik KH. Abdul Wahab Chasbullah, ini memang dikenal sebagai perintis sekolah kaum perempuan di PP. Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang. Jadi bukan hanya “istri pengasuh”, melainkan pengasuh itu sendiri. Salah satu pesan beliau kepada para santri putrinya, “Tirakatmu menentukan masa depan suamimu.”

Karakteristik pejuang By Nur Chadidjah menurun kepada putrinya, Munawaroh alias Nyai. Solihah, istri KH. A. Wahid Hasyim. Ibunda Gus Dur ini ditinggal wafat suaminya pada 1953. Beliau menjanda di usia muda, 31 tahun, dalam kondisi hamil dan harus membesarkan 5 orang anak. Alih-alih pulang ke Jombang, beliau memilih membesarkan keenam anaknya sendirian, di Jakarta. Dan, kita tahu, keenam anaknya punya kiprah kinclong di masyarakat.

Melihat gaya perlakukan dan persamaan di bidang pendidikan putra-putri di Indonesia di era kolonial, juga mengingatkan kita pada kiprah Syekh Zainuddin Labay el-Yunusi, ulama penggerak pendidikan di Minangkabau. Beliau mendidik adiknya, Syaikhah Rahmah El-Yunusi, agar tidak hanya pasif, melainkan aktif bergerak sebagai reformis. Perempuan cerdas yang kemudian dikenal sebagai pendiri Madrasah Diniyah Putri di tanah Minangkabau. Gelar Syaikhah didapatkan beliau usai kunjungan ulama Universitas al-Azhar tahun 1950-an di Minangkabau, yang kemudian terinspirasi untuk merintis Kulliyyatul Banat, lembaga perkuliahan kaum hawa di Mesir.

Selain kakaknya, corak pemikiran Syaikhah Rahmah ini dipengaruhi oleh Buya Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka. Tak hanya bergerak di bidang pendidikan, Syaikhah Rahmah juga memelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padangpanjang, serta menjamin seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka sewaktu Revolusi Nasional Indonesia.

Baca Juga >  Presentasi Pertama Mengubah Duniaku

Satu abad sebelum Syaikhah Rahmah bergerak di bidang pendidikan, ada ulama perempuan lain dari Sumatera tapi lahir, berkiprah dan wafat di Hijaz. Beliau adalah Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad al-Palimbani. Ya, benar, beliau adalah putri Syaikh Abdusshamad Al-Palimbani. Sejak awal, ayahnya mengkadernya menjadi seorang ulama. Ini keren. Di tengah dominasi kaum pria dan kultum patriarkis yang kuat dan cenderung brutal, Syekh Abdusshamad justru mempersiapkan putrinya menjadi pelanjutnya. Kelak, kiprah Syaikhah Fathimah juga diakui oleh para ulama sezaman. Sebab, selain memiliki otoritas mengajar Sahih Bukhari, sanad keilmuan para ulama Nusantara, di antaranya melalui matarantai keulamaan beliau melalui jalur Syaikh Nawawi al-Bantani.

Dalam catatan Ustadz Amirul Ulum, Syaikhah Fathimah al-Palimbani meriwayatkan Kitab Shahih Bukhari dari ayahnya, Syaikh Abdusshamad ibn Abdurrahman al-Palimbani yang meriwayatkan dari Syaikh ‘Aqib ibn Hasanudin ibn Ja’far al-Palimbani yang meriwayatkan dari Syaikh Thayyib ibn Ja’far al-Palimbani yang meriwayatkan dari Syaikh Ja’far ibn Muhammad ibn Badrudin al-Palimbani yang meriwayatkan dari Syaikh Muhammad ibn ‘Alaudin al-Babili yang meriwayatkan dari Syaikh Ali ibn Yahya al-Ziyadi yang meriwayatkan dari Syaikh Ali ibn Ibrahim al-Halbi yang meriwayatkan dari al-Syam Muhammad ibn Ahmad al-Ramli yang meriwayatkan dari Syaikhu al-Islam al-Qadhi Zakaria ibn Muhammad al-Anshari yang meriwayatkan dari al-Hafidz Syihabuddin Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani yang meriwayatkan dari Syaikh Ibrahim ibn Ahmad ibn Abdul Wahid al-Syami yang meriwayatkan dari Abil Abbas Ahmad ibn Abi Thalib al-Dimasyqi yang meriwayatkan dari al-Siraj al-Husein ibn al-Mubarak al-Zabidi yang meriwayatkan dari Abi al-Waqt Abdul Awwal ibn Isa al-Harawi yang meriwayatkan dari Abi al-Hasan Abdurrahman ibn Mudhaffar al-Dawudi yang meriwayatkan dari Abi Muhammad, Abdullah ibn Muhammad al-Sarkhasi yang meriwayatkan dari Abi Abdillah, Muhammad ibn Yusuf al-Farbawi yang meriwayatkan dari Imam al-Bukhari.

Di kemudian hari, Nyai Khairiyah binti KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan jalur sanad Sahih Bukhari ini dari ayahnya dan suaminya, KH. Muhaimin Abdul Aziz Al-Lasemi.

Tanpa bermaksud mengecilkan kultur budaya bangsa lain, kita melihat apabila di kawasan Nusantara sejak satu milenium silam, memiliki banyak perempuan-perempuan hebat. Mereka tak hanya berkiprah untuk bidang politik-sosial, melainkan juga menggerakkan pendidikan. Ada Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya yang mendampingi masa sulit sang suami usai kehancuran Singhasari dan perintisan awal Majapahit. Gayatri, yang kemudian menjadi biksuni, mempersiapkan putrinya, Tribuwanatunggadewi, sebagai suksesor usai Jayanegara, anak tirinya dibunuh Ra Tanca, 1329. Kelak, dari rahim Tribuwanatunggadewi ini para raja Majapahit lahir. Nyaris bersamaan dengan keruntuhan Majapahit, Sunan Ampel ditemani istrinya, Nyai Ageng Manila, merintis pesantren dan menempa anak serta para santrinya menjadi da’i handal. Di era yang sama, ada juga bangsawan cum pengusaha kaya raya, Nyai Gede Pinatih, yang membiayai banyak ekspedisi dakwah di sekujur Nusantara.

Satu abad setelah keruntuhan Majapahit, ada Ratu Kalinyamat, Jepara. Putri Sultan Trenggono, Raja Demak (1521-1546), ini dikenal kiprahnya dalam melawan ekspansi Portugis dan pelatak dasar arsitektur dan seni ukir khas Jepara. Di Aceh, kita juga mengenal Laksamana Kemalahayati. Di Makassar, ada I Fatimah Daeng Takontu yang merupakan putri Raja Gowa XVI, Sultan Hasanuddin. Nama terakhir selain pejuang tangguh, juga penggerak pendidikan di istana. Yang pasti, ada banyak nama perempuan penggerak bidang sosial-politik dan pendidikan di Indonesia. Bisa panjang jika ditulis lengkap.

Fakta-fakta di atas membuktikan apabila selain tekad dari perempuan, peranan keluarga dalam mencerdaskan anak dan istrinya juga tidak kalah penting. Perempuan dan laki-laki memiliki kesetaraan dalam meraih timba untuk mengangsu kaweruh (menuntut ilmu), memiliki kesamaan derajat dalam mencapai otoritas keilmuan sebagai seorang cerdik cendekia, serta mempunyai hak yang sama untuk menjadi pribadi terbaik sebagaimana anjuran Rasulullah: manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Wallahu A’lam Bisshawab.