Pedukuhan Ngoto Melestarikan Tradisi Nyadran

  • Whatsapp
Pedukuhan Ngoto Melestarikan Tradisi Nyadran

Pedukuhan Ngoto Melestarikan Tradisi Nyadran

Di Pedukuhan Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, tradisi nyadran (kirim doa kepada leluhur) masih terus terjaga. Rangkaian kegiatan dilakukan pada dua mushola dan satu masjid yang ada di pedukuhan yang terletak di selatan simpang empat Ringroad Wojo ini. Belum lagi ditambah permintaan khusus dari warga, yang mengundang jamaah tahlil ke rumah (8/04/21).

Dimulai dari Mushola Kopti yakni musholla yang berdiri di tengah pusat Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia yang terletak di RT 01 Ngoto. Sema’an Al-Qur’an 30 juz, diakhiri dengan mengundang mubaligh kondang Yogyakarta, KH. Henry Sutopo pada malam harinya. Sepekan kemudian, berganti di Musholla Al Munawwaroh, yang juga terletak di RT 01 Ngoto. Majelis sema’an diakhiri dengan Pengajian Nyadran dibalut Songsong Ramadan, mengundang Rois Syuriah PCNU Gunungkidul, KH. Bardan Usman, M.Pd.I.

Disambung berikutnya nyadran pedukuhan yang dipusatkan di Masjid Nurul Huda Ngoto. Sema’an Al Qur’an selepas subuh hingga maghrib. Di majelis ini dipimpin kiai muda kharismatik, Umaruddin Masdar. Keesokannya, majelis tahlil nyadran di kediaman Kiai Umar, mengundang secara khusus Rois Syuriah PWNU DIY KH Mas’ud Masduki.

Kenyataan itu menandaskan di saat gempuran modernitas terus terjadi, tradisi nyadran turun-temurun alhamdulillah terus lestari di kampung kami. Ditambah dengan berkah rawuhnya para kiai, dapat menambah kemantapan jamaah, masyarakat dan warga dalam menjalani amaliyah ini.

Penulis lantas teringat nasihat Gus Baha’ dalam satu satu ceramahnya, “Status orangtua ditentukan anak keturunannya.” Maksudnya, status dan kedudukan orangtua/leluhur yang telah wafat, akan sangat ditentukan anak-cucunya: apakah mereka mau mendoakan atau tidak. Betapa bahagia orangtua dan leluhur di alam barzakh yang terus mendapat kiriman doa dari anak keturunannya.

Paling tidak ada 3 (tiga) manfaat yang dapat kita petik dari momentum nyadran. Pertama, mengingat kematian. Kanjeng Nabi SAW dawuh, orang yang cerdas adalah yang paling sering mengingat kematian. Dengan mengikuti nyadran, majlis doa tahlil-yasin-sema’an Al Qur’an minimal akan menyadarkan kita bahwa kematian begitu dekat dengan kita. Segala atribut yang kita miliki di dunia ini hanyalah relatif. Tidak akan pernah abadi.

Kedua, seperti yang disinggung di muka, manfaat yang diperoleh tentu kiriman doa dari anak-cucu kepada leluhur. Barangkali hal ini tidak dapat dinominalkan dengan angka berapapun. Anak-cucu bukan malah rebutan warisan, dan saling sikut untuk mendapat jatah terbanyak, namun tulus ikhlas mendoakan dengan mengundang tetangga kiri-kanan. Nikmat apalagi yang ditunggu orangtua/leluhur selain memiliki anak-cucu sholih-sholihah yang senantiasa melimpahkan ganjaran doa, bacaan Al-Qur’an, shodaqoh dan sebagainya.

Ketiga, nyadran menjadi momentum pererat silaturrahim antarwarga. Pandemi boleh jadi merupakan ujian solidaritas. Namun melalui nyadran, warga dapat bersatu—tentu dengan menjaga protokol kesehatan secara ketat—guyub, rukun, dan saling sapa satu sama lain. Nyadran seolah menyadarkan kepada kita bahwa dalam mengarungi kehidupan ini kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri. Kita butuh orang lain. Dan ini mengingatkan agar kita tidak jumawa.

Harapannya, jika saat ini kita rajin mendoakan orangtua dan leluhur yang telah sumare, suatu saat nanti kita yang akan mendapat kiriman doa dari anak-cucu kelak. Karena bagaimanapun juga, meminjam istilah Gus Baha’ di atas, status orangtua dan leluhur amat sangat ditentukan oleh anak keturunannya. Jika anak-cucu tampil sebagai orang sholih yang rajin kirim doa, alhamdulillah. Namun jika tidak, dan malah cuap-cuap jika kiriman doa tidak akan sampai, naudzubillah….

Demikian Pedukuhan Ngoto Melestarikan Tradisi Nyadran, semoga manfaat.

Penulis: Bramma Aji Putra

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *