Bu Amin Andung: Muslimat NU, Satu Wajah Banyak Peran

Ibu Amin Andung.

Bangkitmedia.com, YOGYA – Momentum 80 tahun Muslimat NU jadi waktu yang pas untuk melihat lebih dekat bagaimana perempuan NU bergerak di tingkat akar rumput. Dari ruang-ruang sederhana, mereka mengisi banyak peran sekaligus. Wawancara ini merekam cerita salah satu kader Muslimat NU yang kini menjadi Ketua Muslimat Umbulharjo Yogyakarta 2019-Sekarang, Ibu Amin Andung:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu. Terima kasih sudah berkenan berbagi cerita. Kami ingin mulai dari awal, bagaimana Ibu pertama kali terlibat di Muslimat NU?

Bacaan Lainnya

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Pertama itu saya dapat undangan pelantikan anak cabang Muslimat Umbulharjo di Pondok Nurul Ummah. Bersedia hadir, merasa sehati. Tapi ternyata di situ sudah tersusun kepengurusan PAC Umbulharjo dan saya ditunjuk sebagai ketua. Karena keberatan dan sama sekali belum berpengalaman saya menemui yang memberi undangan. Dengan alasan sudah mengedarkan seluruh kota, tidak memungkinkan mencari pengganti, jadi diminta tetap hadir saja, ibarat setor nama.

Dengan kondisi seperti itu, bagaimana Ibu menjalani awal kepemimpinan?

Beberapa bulan awal ya berjalan saja. Karena Ibu-Ibu saling support dan saling melengkapi, ada kebahagiaan tersendiri kala bersama, meskipun diakui saya belum punya pengalaman. Lalu saya diarahkan oleh sesepuh Muslimat, Bu Nyai Duri Umamah. Dari situ mulai ada rasa tanggung jawab terhadap kepengurusan. Kemudian kami mulai menyusun langkah, mengadakan pertemuan perdana di wilayah, biasanya di masjid untuk membahas kegiatan.

Kegiatan seperti apa yang kemudian disepakati?

Disepakati pertemuan dua bulan sekali, setiap Sabtu minggu kedua. Tempatnya berpindah-pindah, tiap kelurahan yang bersedia. Sekalian untuk silaturahmi dan mencari anggota baru. Waktu Covid sempat berhenti, dua atau tiga pertemuan. Setelah itu baru berjalan lagi sampai sekarang. Alhamdulillah sekarang sudah ada jadwal rutin bahkan untuk satu tahun ke depan.

Ibu Amin Andung (berdiri ke 13 dari kanan) pada pertemuan Muslimat NU di masjid Ashabul Kahfi Semaki, Maret 2026. (Foto: Hana Rusmalia)

Jika melihat perjalanan panjang ini, pasti sudah banyak hal yang dilewati. Jadi apa tantangan terbesar yang pernah Ibu rasakan?

Sulit menambah anggota baru. Sebenarnya Muslimat itu banyak, tapi sudah terlanjur aktif di organisasi lain seperti Aisyiyah. Di sana sudah seperti keluarga, jadi sulit untuk pindah. Di wilayah saya juga Aisyiyah organisasinya sudah bagus, jadi kami perlu banyak belajar. Ada juga di informasi kegiatan. Kadang pelatihan itu informasinya mendadak, bahkan satu jam sebelumnya. Jadi tidak bisa diikuti. Akhirnya yang ikut ya orang-orang yang sama. Padahal sebenarnya banyak yang ingin ikut.

Setelah hampir tujuh tahun berkiprah di Muslimat dan banyak bersinggungan dengan organisasi lain. Bagaimana Ibu melihat peran Muslimat dalam menjawab tantangan sosial hari ini?

Muslimat banyak yang terjun di masyarakat. Jadi kader posyandu balita, lansia, PAUD, bank sampah. Di samping itu juga aktif di kegiatan masjid seperti tadarus dan pengajian. Satu orang banyak baju. Satu orang bisa menjalankan berbagai peran.

Muslimat perlu terus belajar. Bisa lewat diskusi atau pelatihan. Tidak harus pendidikan formal. Banyak pelatihan seperti membatik, tata rias, kuliner, yang bisa jadi bekal usaha dan membantu ekonomi keluarga. Ke depan kami juga berusaha mencari informasi dan menyebarkannya, karena biasanya kuota terbatas dan pesertanya hanya orang yang itu saja. Harapannya Fatayat juga bisa lebih banyak ikut.

Berbicara tentang minat dan pelatihan yang berkaitan dengan karir ini, saya penasaran bagaimana perempuan Muslimat NU membangun keseimbangan antara peran domestik dan publik? Sebagaimana yang kita ketahui anggota muslimat selain tokoh publik juga memiliki peran sebagai ibu rumah tangga.

Keluarga tetap diutamakan. Harus bisa mengatur waktu. Biasanya kegiatan diadakan hari Sabtu pagi, setelah urusan rumah selesai. Jadi tidak meninggalkan tanggung jawab di rumah. Kami ikut menyesuaikan waktu kegiatan. Misalnya tadarus sekarang juga bisa dilakukan secara online. Jadi kalau tidak bisa hadir langsung tetap bisa ikut. Yang penting istiqamah.

Di momentum 80 tahun Muslimat ini, apa capaian atau harapan yang paling Ibu rasakan?

Ke depan Muslimat bisa lebih beragam dalam pendidikan. Bisa jadi bidan, dokter, perawat. Ada juga kampus seperti Alma Ata yang bisa diarahkan ke sana. Harapannya setelah lulus tetap membawa bendera Muslimat. Untuk tingkat lokal di Umbulharjo sendiri, Harapannya semakin regeng, semakin kompak, dan tetap berperan di bidang sosial kemasyarakatan. Tapi tetap utamakan keluarga.

Kesimpulan dari wawancara ini memperlihatkan satu hal yang jelas. Perempuan Muslimat NU hidup dalam banyak peran sekaligus. Mereka hadir di rumah, di masyarakat, dan di ruang-ruang ibadah, sering dalam waktu yang bersamaan. Tidak banyak yang terlihat sebagai pencapaian besar. Tapi justru di situ letaknya kekuatan itu tumbuh. (Hana Rusmalia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *