gus dur

Dialog Imajiner: Gus Dur dan Ucapan Selamat Natal

Posted on

Dialog imajiner ini sepenuhnya tanggung jawab penulis. Jawaban-jawaban Gus Dur dalam dialog ini merupakan imajinasi penulis sendiri berdasar pengalaman berinteraksi, membaca, mendengar dan melihat jawaban-jawaban Gus Dur dalam menjawab berbagai pertanyaan.

RD: Assalamu’alaikum Gus Dur….semoga panjenengan baik-baik saja.

GD: Alaikum salam….alhamdulillah saya baik-baik saja.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

RD: Tak terasa sekarang sudah menjelang haul Gus Dur yang ke-9. Gus Dur sudah meninggalkan kami semua Sembilan tahun….

GD: Iya…Ternyata sudah Sembilan tahun kita tidak bersama-sama lagi. Tapi saya mengikuti kok perkembangan di Indonesia. Saya juga tahu kalua Kiai Ma’ruf Amin sekarang menjadi Calon Wakil Presidennya Jokowi. Kemarin Jokowi juga dating ke Tebu Ireng dan saya berbincang sebentar dengan dia. Bantulah Jokowi, dia itu orang baik.

RD: Iya Gus…Tapi sowan saya kali ini bukan soal pilpres Gus. Saya tahu ini soal penting dan pasti Gus Dur punya pendapat. Banyak masyarakat Indonesia yang ingin mendengar pendapat-pendapat Gus Dur soal pilpres. Kalau Gus Dur berkenan, nanti saya sowan lagi untuk ngobrol soal pilpres.

GD: Oh..begitu. Ya sudah, nanti sampeyan ke sini lagi kalau gitu. Terus sampeyan mau tanya apa?

RD: Ini lho Gus….setiap Desember kok orang rebut soal ucapan Selamat Natal, seperti debat tahunan….

GD: Yo wis…biarkan aja, itu kerjaan prang yang kurang kerjaan. Masalah gitu aja kok dibesar-besarkan. Ucapan Selamat Natal aja kok dianggap merusak akidah itu kan kebangetan akidahnya. Itu justru menunjukkan orang yang rapuh akidahnya.

RD: Berarti boleh ya gus…?

GD: Ya tergantung akidahmu. Kalau sampeyan merasa rusak akidah dengan mengucapkan Selamat Natal, ya akidahmu rusak beneran. Apalagi mengucapkan Selamat Natal, lihat patung kuda kalau akidahmu merasa rusak ya…rusak beneran.

RD: Bahkan, Felix Siaw bilang kalau mengucapkan natal itu bisa dikatakan melakukan penistaan terhadap Islam.

GD: Felix sopo iku?

RD: Itu gus, muallaf yang aktif di HTI, bahkan pernah mengaku paling tahu sejarah Turki Usmani.

GD: Oh…iku bocah ora ngerti urusan….Suruh ngaji ke pesantren aja dulu. Jangan hanya kumpul dengan orang-orang HTI.

RD: Bukannya MUI juga mengharamkan mengucapkan Selamat Natal Gus…?

GD: Saya gak ada urusan dengan MUI. Tapi MUI juga pernah mengharamkan ucapan selamat natal. Yang ada itu larangan umat Islam ikut Bersama umat Kristiani dalam perayaan Natal. Kalau saya sih, saya pakai gampang aja….

Baca Juga >  Pendidikan Mesti Melahirkan Orang-Orang yang Jujur dan Lurus

RD: Pakai gampang gimana Gus maksudnya?

GD: Ya kalau imanmu merasa rusak hanya dengan mengucapkan Selamat Natal, ya jangan ucapkan.

RD: Terus gimana Gus….

GD: Ya kalau gak mampu mengucapkan ya tulis saja. Kan orang-orang itu rebut dilarang mengucapkan selamat natal, bukan menulis….Gitu aja kok repot. Kalau menulis masih juga gak sanggup dan merasa imanmu rusak, ya foto aja ucapan Selamat Natal, terus kamu kirimkan ketemanmu yang merayakan Natal…

RD: Mosok sampai segitunya Gus…

GD: Kalau itu pun kamu gak mampu, ya berarti imanmu perlu diperiksa.

RD: Masalahnya begini Gus, ada yang bilang kalau mengucapkan Natal itu sama dengan mengakui Yesus itu Tuhan, dan itu artinya kita sudah menjadi Kristen…

GD: Ah….orang itu mikirnya kejauhan. Mengucapkan Selamat Natal itu ya sebagai bentuk pengormatan saja. Gak ada urusannya dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan. Tapi kalau akidahmu gak sanggup, ya sudah gak apa-apa, jangan ucapkan.

RD: Kalau gak mengucapkan Selamat Natal gimana Gus?

GD: Ya nggak apa-apa juga. Barang gampang kok dibikin susah. Intinya, hormati dan hargai saudara-saudara kita yang merayakan Natal, itu saja. Bagaimana caranya? Ya itu urusan sampeyan, bukan urusan saya.

RD: Dulu Gus Dur sering mengucapkan Selamat Natal kan?

GD: Lha iya…temen saya Kristen kan banyak sekali. Saya ucapkan Selamat Natal ke mereka.

RD: Terus Gus Dur tidak dipersoalkan malaikat….

GD: Nggak tuh. Malaikat gak ada yang tanya soal itu. Kalau mereka gak percaya, suruh mati aja dulu…

RD: Ah…panjenengan niki lho gus…Nggih sampun ngoten mawon nggih Gus.

GD: Ya wis, salam saya untuk kawan-kawan sampeyan…..[]

Ciputat, 21 Desember 2018

Penulis: Dr KH Rumadi Ahmad, Ketua Lakpesdam PBNU.