Memperjuangkan Masa Depan melalui Pendidikan

Posted on

Muhammad Ishom (paling kanan) bersama gus dur dan habib hirzin 

 

Seorang pejuang tentu  mempunyai peristiwa penting dalam hidupnya. Jerih payah yang tak kenal lelah dan ketulusan dalam mencapai sebuah impian adalah sesuatu hal yang harus dilakukan oleh seseorang jika ingin menggapai sebuah kesuksesan. Berikut ini adalah sepotong kisah dari sang teladan asal Surakarta yang berjuang meraih pendidikan tinggi meski ia terlahir dari keluarga tak berpunya.

Pria berkumis ini mempunyai nama Muhammad Ishom. Ia dilahirkan di kota Surakarta pada tanggal 17 Juli 1963. Ia merupakan anak ke-4 dari 13 bersaudara. Ayahnya memiliki kesulitan belajar yang disebut disleksia yakni gangguan  belajar berupa kesulitan membaca dan menulis tanpa ada yang dapat mendampinginya. Meskipun begitu, Ishom kecil mengaku cukup beruntung karena  ibunya adalah sosok ibu yang sangat cerdas dan bertanggung jawab walaupun tidak pernah sekolah.

Dengan segala keterbatasan, Ishom kecil tetap memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu. Di antara keterbatasan tersebut misalnya adalah baju sekolah yang lusuh dan tas yang sudah jelek.  Ia pun tak memiliki sepatu dan buku-buku pelajaran. Suatu hari ketika ia duduk di kelas II SD Al-Islam I, wali kelasnya marah besar ketika melihat sampul rapornya  tak layak. Ia menggunakan kertas bekas  untuk menyampuli rapornya karena sang ibu tidak memiliki uang untuk membelikan kertas sampul.  Sampul bekas itu kemudian disobek dan diremas-remas wali kelasnya dan dibuang  ke tempat sampah. Tunggakan SPP sering Ia alami. Ibunya baru bisa melunasinya beberapa bulan kemudian.

Setamat SD, Ia melanjutkan sekolah ke Pesantren Al-Muayyad di Surakarta yang diasuh pamannya sendiri. Di pesantren ini, Ia mendapat keringanan biaya SPP. Enam tahun Ia belajar di pesantren ini dari Madrasah Tsanawiyah hingga tamat dari Madrasah Aliyah. Tahun 1983, setamat dari pesantren, Ia melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia memilih Jurusan Sastra Inggris UNS di Solo. Kuliah di UNS menjadi  pilihan satu-satunya mengingat  kondisi ekonomi yang ada. Ia tidak mungkin kuliah di Perguruan Tinggi swasta yang biayanya jauh lebih besar dari pada di UNS. Sambil belajar,  Ia tetap terus berjuang memperbaiki nasib dengan bekerja sebagai guru privat untuk anak-anak SD.

 

Tadinya Tak Berminat Melanjutkan Studi S-2

Tahun 1989, guncangan besar Ia alami ketika harus menulis skripsi. Kesulitan ini hampir membawanya pada puncak keputusasaan dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi. Kesulitan demi kesulitan dalam menyusun skripsi Ia hadapi tanpa ada yang dapat membantunya. Tetapi, pada akhirnya ia dapat menyederhanakan permasalahan penelitian sehingga lebih mudah untuk menyelesaikannya. Kesulitan itu berlangsung hingga kira-kira 1,5 tahun.

Trauma pada masalah kesulitan skripsi menjadikannya tidak berminat meneruskan studi S-2. Kemudian Ia bekerja menjadi guru bahasa Inggris di  SMA Al-Muayyad setiap hari Sabtu dan Ahad. Hari-hari di luar itu Ia bekerja di perusahaan batik di Surakarta pada  bagian ekspor. Tahun 1991, Ia ditugaskan untuk mengikuti pameran dagang di Hong Kong. Tahun 1992 dan 1993,  Ia ditugaskan lagi untuk mengelola pameran di Singapura. Tetapi,  beberapa bulan setelah pameran kedua di negara itu sang ibu memintanya untuk tidak lagi bekerja di luar lingkungan pondok pesantren. Ibunya lebih suka Ia bekerja sebagai pendidik. Karena baktinya pada sang ibu,  Ia berhenti bekerja dari perusahaan batik tersebut sehingga ia   hanya menjadi guru Bahasa Inggris.

Baca Juga >  Bagaimana Sikap Murid kepada Guru?

 

Inspirasi dari Negeri Paman Sam  

Pada tahun 1994, selain mengajar di SMA Ia juga menjadi manajer Kopontren  Al-Muayyad. Pada tahun 2002, Ia mendapat kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat.  Berkunjung  ke luar negeri memang menjadi impiannya sejak Ia menyukai siaran-siaran radio luar negeri.

Sejak kecil, Ia memang  mempunyai kegemaran mendengarkan radio luar negeri seperti: BBC Inggris,  Radio Moskow Uni Soviet (Rusia), Radio Australia, VOA Amerika, Radio Jeddah Saudi Arabia, Radio Libya, Radio Peking Cina, Suara Jerman Deutsche Welle dan sebagainya.

Kegemaran itulah yang menjadikannya tertarik pada hubungan internasional. Ia suka mendengar siaran-siaran radio berbahasa Inggris. Siaran yang paling ia sukai adalah VOA (Voice of America).  Hal inilah yang membuatnya ingin berkunjung ke VOA. Keinginan itu diakuinya seperti mimpi di siang bolong namun, Tuhan memang Maha Melihat dengan semua jerih payahnya. Ia kemudian mendapat kesempatan  berkunjung ke VOA, bahkan hingga  dua kali.

Kali pertama adalah pada tahun 2002, ketika Ia menjadi peserta studi banding di Amerika mewakili Pondok Pesantren Al-Muayyad. Kali kedua adalah pada tahun 2004 dimana  Ia ditunjuk oleh Kedubes Amerika Serikat di Jakarta untuk menjadi escort, yakni orang yang bertugas mengantar perjalanan agar bisa sampai tujuan dan kembali ke tanah air.

Kunjungannya ke Amerika yang pertama mempunyai dampak besar dalam hidupnya setelah Ia berkunjung ke beberapa universitas di sana. Sekembalinya dari negara itu, Ia termotivasi melanjutkan studi ke jenjang S-2. Pada tahun 2003, Ia diterima di  Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM Yogyakarta yang juga dikenal dengan nama  CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies). Diterima di UGM, membuatnya harus melepas jabatan Manager Kopontren karena untuk memfokuskan studi S2-nya. Tahun 2007 ia menamatkan pendidikannya di CRCS. Setahun kemudian,  Ia diterima sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Kini Ia telah memangku jabatan sebagai Pembantu Rektor II sejak tahun 2010.

Selain dosen, Ia juga dikenal  menjadi motivator bagi orang-orang di sekitarnya. Di dunia maya,  terutama lewat jejaring sosial Facebook, Ia membentuk Grup Belajar Mencintai Tuhan yang kini telah beranggotakan 1.729 orang. Di grup ini, Ia banyak berbicara tentang tasawuf seperti:  sabar, syukur, tawakal, istiqomah, ikhlas, qonaah dan kesederhanaan. Ia mengaku belajar tasawuf dari praktek-praktek yang dicontohkan almarhumah ibunya.

Menurut Arini Husnia, salah seorang alumnus SMA Al-Muayyad yang kini melanjutkan studinya di UIN Yogyakarta, Pak Ishom adalah seorang yang sangat menekankan kesederhanaan dalam hidupnya.  Kesederhanaan dan keikhlasannya dalam menjalani kehidupan inilah yang menjadikan Pak Ishom sosok yang berbeda dengan orang lain dalam tingkat yang lebih dari pada umumnya orang.

Ia berpesan agar selalu menjadi orang yang  lebih baik dan pantang menyarah dalam mencapai impian meskipun itu banyak rintangan dan jangan jadikan rintangan itu sebuah alasan untuk menyerah, namun jadikan rintangan itu sebagai sebuah pelajaran berharga juga harus yakin bahwasanya Tuhan memiliki rahasia dibalik kesulitan yang dihadapi.

Zainab, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran, Sleman Yogyakarta