Membedah Dinamika Islam di Arab dan di China
Senin 6 Januari 2020, Penerbit Buku Mojok menyelenggarakan acara menarik yakni peluncuran dua buku dan diskusi bertajuk “Islam di Arab dan China”. Acara digelar di WarungMoJok, Jl. Kapten Haryadi No.110, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.
Kalis Mardiasih, yang menjadi moderator acara, di awal diskusi menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara yang dihuni umat Islam terbesar di dunia tentunya sangat kompleks dinamika kehidupannya, dan tidak bisa lepas dalam hubungan dengan masyarakat Islam dari negara lain.
“Malam ini, tentu kita patut bersyukur karena akan kita diskusikan dua poros Islam yang sejak dulu memiliki kaitan kuat dalam dinamika keberadaan dan perkembangan Islam di Indonesia, yakni Negara Arab dan Negara China,” tegas Kalis.
Diskusi ini menghadirkan dua penulis yang baru-baru ini dirilis bukunya oleh penerbit BukuMojok, yakni Dinar Zul Akbar dan Novi Basuki. Kedua penulis ini–yang notabene Mas Dinar telah bertahun-tahun tinggal di Arab, begitu pun Mas Novi yang sudah sepuluh tahun tinggal di China, diharapkan Kalis mampu mendedahkan bagaimana kehidupan mutakhir Islam di Arab dan di China.
Dinar Zul Akbar adalah mahasiswa pascasarjana di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, yang bukunya berjudul “Banyak Jalan Menuju Takwa: Membincang Islam dengan Ramah dan Gembira” baru saja diterbitkan Penerbit BukuMojok (2019). Sedangkan Novi Basuki adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Sun Yat-sen University, Guangdong, China. Bukunya “Ada Apa dengan China: Esai-Esai Agama dan Politik China untuk Indonesia,” pun baru saja diterbitkan BukuMojok (2019).
Novi Basuki menyampaikan bahwa filosofi China dan bagaimana praktik-praktik kehidupan masyarakat China terkini yang kemudian dikaitkan dengan kondisi sosial politik Indonesia. Novi terlihat sering mengujarkan bahasa Mandarin China, ucapannya terlihat lancar dan fasih, kemudian dia menjelaskan maksudnya. Kalimat-kalimat yang terlontar begitu runtut penuh makna filosofis disampaikan dari rujukan literatur China klasik, namun dapat dijelaskan dengan ringan dan memahamkan pemirsa yang mendengar.
“Di negeri kita–Indonesia, ada saja orang dan mungkin banyak yang alergi terhadap hampir segala hal berbau China. Apalagi kalau pas musim politik. Sentimen SARA–anti China dihembuskan kelompok tententu dan banyak mengikutinya, ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan pada kehidupan di China,” tegas Novi.
Penjelasan Novi tentang kondisi orang-orang Islam Uighur seperti yang tertuang lewat bukunya. Kondisi keagamaan suku Uighur di wilayah Xinjiangbeserta 9 suku mayoritas penganut Islam lainnya yakni Hui, Kazakh, Kyrgyz, Dongxiang, Salar, Tajik, Uzbek, Baoan, dan Tatar–yang jumlahnya berkisar lebih dari 30 juta jiwa, dan situasinya tidak seluruhnya tepat seperti diberitakan oleh media tanah air.
“Persoalan di Xinjiang adalah masalah separatisme. Ada sekelompok orang yang, menggunakan kedok agama untuk mengerahkan massa,memprovokasi jamaah untuk memberontak pada pemerintah yang sah, dan berencana memisahkan Xinjiang dari Tiongkok. Sehingga pemerintah China mengambil kebijakan militer untuk dalam menyelesaikan persoalan di Xinjiang Selatan–Uighur. Masalah Uighur bukanlah persolaan anti Islam. Sebab suku Hui, muslim lainnya aman-aman saja melakukan aktifitas peribadahan,” lanjut Novi.
Sedangkan Dinar Zul Akbar, lewat bukunya mengetengahkan pengamatannya selamat tinggal di Arab Saudi, bagaimana praktik-praktik terkini kehidupan beragama masyarakat Arab sembari dikaitkan dengan praktik ke-islaman di Indonesia.
“Bagaimana sebenarnya seorang pemeluk agama mendefinisikan ketakwaannya? Apa sekadar menjalani serangkaian ritus keagamaan, atau menambah sebanyak-banyaknya pengetahuan soal agama yang dipeluknya, atau justru dua-duanya? Buku “Banyak Jalan Menuju Takwa” memuat tema beragam dengan contoh kasus yang relevan di Indonesia belakangan ini. Misalnya tentang laku teladan sahabat-sahabat nabi, fenomena pemakaian dalil-dalil, dan laku beragama sehari-hari, sampai nasihat-nasihat pemuka agama yang sederhana tapi penting dan masih relevan diterapkan dalam hidup bermasyarakat hari ini,” tegas Dinar.
Lebih lanjut Dina menyampaikan bahwa di Makkah dan Madinah, praktik pengajian-pengajian umum tidak sebebas di Indonesia. Begitu juga kitab-kitab kajian tafsir maupun fiqh dari berbagai kalangan ulama dan madzhab tidak mudah diperoleh di perpustakaan maupun tokobuku. Relatif yang banyak ada ada adalah kitab-kitab kajian Wahabi, madzab resmi pemerintah Arab Saudi.
“Namun, jangan mudah juga menganggap semua orang yang sekolah di kampus-kampus Kerajaan Saudi lantas dianggap berhaluan Wahabi? Misalnya, ada KH Ali Mustofa Yaqub–pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Ada KH Said Aqil Siroj yang saat ini menjadi Ketua PBNU. Ada juga KH Said Aqil Munawar mantan Menag era Gus Dur, dan KH Maftuh Basyuni mantan menag era SBY. Semuanya adalah alumni kampus-kampus Saudi yang jauh dari kata Wahabi,“ pungkas Dinar Zul Akbar.
Kontributor: M. Anwar, warga NU Pundong.
Demikian artikel : Membedah Dinamika Islam di Arab dan di China
Selamat menyelami semogadapat ber manfaat.
Sumber ini Ada disini








