Bangkitmedia.com, YOGYA – Kemeriahan Harlah ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama belum usai. Pada minggu pagi (19/04), Muslimat kembali menggelar senam massal yang diikuti anggota dari berbagai cabang dan anak cabang se-DIY di halaman DPRD DIY. Namun kegiatan ini bukan agenda olahraga biasa, pasalnya rangkaian acara juga dihidupkan oleh pengadaan bazar murah, layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang bertempat di bagian utara halaman gedung, hingga kupon doorprize berhadiah bagi peserta beruntung, yang menambah antusiasme audiens.

Acara dibuka melalui sambutan Ketua Panitia, Ibu Sri Hartini, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Yalal Wathon, dan Mars Muslimat. Dalam sambutannya, beliau menyoroti semangat ibu-ibu Muslimat yang hadir sejak pagi buta sebagai cerminan militansi yang tidak dibangun oleh seremonial semata. Dalam momentum harlah ini, Muslimat bertekad untuk menyajikan kegiatan yang membangun dan responsif bagi kebutuhan masyarakat. Pada kesempatan yang sama, turut diumumkan pemenang lomba paduan suara virtual yang sebelumnya menjadi bagian dari rangkaian peringatan harlah.

Mewakili Ketua PW Muslimat NU DIY, Dra Habibah Musthofa M. Si, menyampaikan bahwa kemenangan bukan semata soal peringkat, melainkan bagian dari proses peningkatan kualitas. “Juara hanyalah urutan angka, sejatinya semuanya adalah juara,” ujarnya seraya menekankan pentingnya kerja keras dan kerja ikhlas sebagai etos gerakan Muslimat. Dalam pengumuman tersebut, kelompok paduan suara PC Muslimat NU Kabupaten Sleman keluar sebagai juara pertama dengan perolehan nilai 264,6.
Sementara itu, Dr. KH Ahmad Zuhdi Muhdlor, SH, M.Hum menegaskan karakter Muslimat DIY sebagai kekuatan kebaikan yang terorganisir. Mengutip Sayyidina Ali, ia menyampaikan bahwa kebenaran yang tidak di-manage dengan baik akan dikalahkan dengan kebatilan yang di-manage dengan baik. Bagi Kyai Zuhdi, kekuatan Muslimat justru terletak pada tradisi atau sistem, dan tata kelola yang bekerja melampaui figur personal. Ia bahkan menyebut Muslimat seringkali lebih teratur dibanding ‘bapak-bapaknya’. Karena itu, ia mendorong penguatan good governance di lingkungan Muslimat, agar orientasi gerakan tidak bertumpu pada individu, melainkan pada aturan main dan tradisi yang kokoh, sehingga regenerasi kepemimpinan tidak menimbulkan keguncangan.

Hal senada disampaikan Umaruddin Masdar, Koornas Densus Nahdlatul Ulama sekaligus Wakil Ketua I DPRD DIY. Ia berharap Muslimat terus menjadi teladan, terutama dalam membangun budaya hidup sehat. Menurutnya, kesehatan adalah fondasi kehidupan sosial. Ia mengingatkan bahwa masyarakat yang tidak sehat akan membebani banyak anggaran, sementara kesehatan adalah nikmat besar yang sering diabaikan. Dalam sambutannya, ia juga mengaitkan pentingnya kesehatan dengan kesiapan menghadapi tantangan global—bahwa umat tidak cukup hanya bertahan, tetapi juga harus siap berdaya, maju, dan tidak tertinggal.
Lebih dari sekadar senam massal, kegiatan ini memperlihatkan satu hal penting: Muslimat tidak sedang merayakan usia semata, melainkan merawat tradisi kemandirian. Dari disiplin organisasi, penguatan tata kelola, perhatian pada kesehatan publik, hingga ruang partisipasi ekonomi melalui bazar murah, seluruh rangkaian ini menunjukkan bahwa gerakan perempuan di akar rumput dapat bekerja sebagai agensi sosial yang mandiri, teratur, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kegiatan ini juga didukung berbagai pihak, diantaranya DPRD DIY melalui penggunaan lokasi, Dinas Koperasi DIY melalui dukungan sarana, Kesmas DIY, LAZISNU melalui layanan kesehatan, Bank Syariah Indonesia KCP Ambarrukmo untuk dukungan doorprize, serta keterlibatan Banser, Garda Fatayat, dan lain-lain.(Hana Rusmalia)








