Mau Menjadi Haji atau Sebatas Wisatawan?

Kisah Seorang Haji Bersholawat Bertemu Rasulullah SAW

Haji, dalam prosesi yang singkat dan sederhana tidaklah sepanjang yang dibayangkan sebagian orang dalam rentang perjalanan 40 hari sebagaimana kebiasaan yang kita ketahui dari agenda haji reguler atau 27/30 hari pada agenda Haji Khusus.

Haji memang bukan hitungan jumlah hari, meskipun 5 hari utama menjadi penting dalam ritus prosesinya. Saya akan memulainya dari Tarwiyah, sebuah agenda penting sebelum haji dimulai.

8 Dzulhijjah (Tarwiyah)

Bacaan Lainnya

Tarwiyah itu momentum besar untuk memulai suatu kerja besar. Bila Arofah adalah puncak pendakian Haji, maka Tarwiyah adalah preparing yang amat menentukan mutu perjalanan Anda menuju Puncak. Ibrahim memulai dengan Tarwiyah (bertanya-tanya) seputaran mimpi penyembelihan sebelum akhirnya mengenali (‘arafa) dan menegaskan kebenaran mimpi tersebut. Nabi Muhammad juga memulai dengan Tarwiyah (penyediaan Air untuk Wuquf, yatarawwawna) sebelum akhirnya berangkat ke Arofah.

Hadits Muslim yang diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdullah diterangkan; “falammaa kaana yaumut tarwiyah tawajjahu ila Minna”, pada hari Tarwiyah, yakni 8 Dzulhijjah, Rasulullah mengarahkan perjalanan menuju Mina.

9 Dzulhijjah (Wuquf)

Arafah itu puncak haji, prosesinya disebut wuquf. Secara bahasa artinya berhenti sejenak. Waktunya dimulai sejak Zuhur hingga terbenam matahari. Lautan manusia di Padang Arafah tenggelam dalam prosesi yang mestinya tidak lagi difahami secara simbolik berbasis fiqih. Wuquf itu peristiwa besar yang melambungkan ruhani manusia dalam perjalanan melintasi cakrawala dunia. Tubuh hanya terbungkus dua helai kain ihram, tetapi jiwa-jiwa mereka diperjalankan oleh Allah dalam kesadaran paling sublim bahwa puncak kehidupan adalah PULANG. Tetapi pulang tanpa bekal tentu kepulangan yang tidak diharapkan. Pulang setelah berkarya itu yang utama. Sebagai Khalifah atas nama Allah di bumi maka karya kemanusiaan itu merupakan keniscayaan. Wuquf bukan untuk Tuhan. Wuquf adalah transendensi sang pelaku untuk meningkatkan diri menuju Tuhan. Itu mengapa lokasi Wuquf ada di Arafah yang berarti tempat mengenal. Bagaimana kita akan sampai kepada Tuhan bila kita tidak mengenali siapa Dia?

10 Dzulhijjah (Mabit di Muzdalifah dan Thawaf Ifadhah serta Sa’i Haji dan atau Jumroh ‘Aqabah).

Mabit di Muzdalifah adalah permenungan perdana setelah turun dari puncak kesadaran (Wuquf), waktunya tidak lama, hanya melewati tengah malam saja, setelah itu engkau bergerak ke Masjidil Haram untuk Thawaf Ifadhah atau ke Mina untuk melontar Jumrah Aqaba.

Permenungan mendalam nanti kau lakukan saat menginap di Mina pada tiga hari Tasyriq.

Di Muzdalifah, ada sebuah tradisi agung dalam mempersiapkan perlawanan melawan kejahatan di muka bumi ini. Ia dilambangkan dengan 7 butir batu yang bisa didapatkan di sekitar lembah dimana engkau bermalam dengan berlantaikan padang pasir dan beratapkan langit.

11 sd 13 Dzulhijjah (Mabit di Mina)

Jumrah artinya melontar. Dulu Ibrahim melawan persekusi Iblis dengan cara melontarinya dengan batu. Keras. Ya, kejahatan memang tidak boleh dibiarkan. Orang sing waras (sudah wuquf di Arafah), tidak boleh menyerah. Perlawanan atas kejahatan merupakan tugas utama kekhalifahan di atas muka bumi.

Bermalam di Mina, Anda boleh memilih. Bila ingin keluar sebelum waktu maghrib di Tgl 12 Dzulhijjah berarti Anda mengambil Nafar Awal. Bila keluarnya keesokan harinya, yakni di Tgl 13 Dzulhijjah berarti Anda mengambil Nafar Tsani.

tahallul
secara semantik ia bisa diartikan sebagai pelepasan. ya kita memang segera berlepas dari ihrom setelah sekian hari kita kenakan.

Kalau ihrom dari miqat itu starting point dalam ibadah haji dan umroh. Maka tahallul adalah ending-nya. kegiatannya memang cuma bercukur tetapi secara esoretik ia merupakan peneguhan spiritual untuk memulai hidup baru setelah dibekali sangat cukup.

Jadiiii…

Haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya.

Dan ini adalah kemestian.

Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah traveller yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih!

Penulis: Kyai Enha,

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *