Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah (kanan) memberikan cindera hati “Khot Asmaul Husna” Krapyak, kepada penulis.
MENGENANG tujuh hari kepergian Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah terus berkelabatan berbagai macam peristiwa yang pernah kami alami bersama beliau. Kami masih terlalu jauh untuk mencapai puncak ke khidmah an beliau pada Kholiq dan makhluk-Nya. Perbedaan kami cuma sedikit. Bedanya Bu Nyai sedikit-sedikit shodaqoh, sedang kami shodaqoh sedikit-sedikit. Bu nyai sedikit-sedikit rapi dan teliti, sedang kami sangat sedikit dalam hal ketelitian.
Beliau disiplin tapi smooth, beliau tegas tapi halus, beliau berkharisma tapi tak berjarak. Beberapa kisah di bawah ini yang syarat akan ilmu dan candaan Ibu.
Sandal Egrang di Sekaten Yogyakarta
Sekaten merupakan kegiatan tahunan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh dua keraton di Jawa, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Rangkaian perayaan secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir tanggal 12 Mulud (Rabiul Awwal).
Setelah adzan Maghrib, Ibu nimbali kami. “Sampean nembe uzur tho“?
“Injih Ibu”.
“Ayo melu aku ning Sekaten”.
“Injih”.
Seperti biasa, Ibu berjalan dengan memegang tangan kami erat-erat.
Tak terasa 10-15 menit becak membawa kami dari Krapyak ke Alun-alun Utara Yogyakarta. Setelah membayar becak, Ibu menunjuk ke gunungan tahu yang tertata rapi dengan taburan cabe yang disebarkan di atas tahu, menjadikan gunungan tahu semakin estetik.
Masih dengan pegangan tangan yang erat Ibu mengajak kami untuk membeli se kresek tahu krispi.
Langkah Ibu tiba-tiba tertahan, ternyata Ibu memakai sandal high heels, bagian bawah heels menancap di tanah yang masih basah. “Ya Allah...aku kok nganggo egrang tho Is“… “sampean pakai apa”
“sandal japit Bu”
“Ayo ijolan”
Deg. Jantung serasa berhenti sepersekian detik.
Pakai high heels, di alun-alun, banyak manusia lalu-lalang.
Tenang Is, ini bukan benteng takhesi yang harus ditundukkan, ini tidak sekedar dawuh, lebih dari itu, ini ilmu.
“Injih Ibu”…
Ibu melepas high heelsnya, lantas berganti sandal japit, akhirnya saya yang berganti memakai egrang dengan tertatih-tatih dan hati-hati. Dengan menggunakan sedikit ilmu meringankan tubuh, muter-muter alun-alun sambil dipegangi Ibu erat-erat.
Biasanya Bu Nyai yang megang tangan saya dengan erat, sekarang saya yang berpegang tangan Ibu dengan kuat.
Takut nggeblak.
Sampai dirasa cukup di Sekatennya, Ibu mengajak pulang dengan naik becak. Alhamdulillah, sandal Ibu saya lepas, lantas kudekap, di hatiku berbisik dengan wasilah Sandal ini nanti saya mau nderek’aken Ibu di surga.
Beliau tahu saya kelelahan, di atas becak beliau menghibur dengan cerita lucu tentang tahu. Dulu ada mbak santri dari Jepara. Ketika berangkat mondok naik bis. Di atas bis ditawari penjaja makanan ringan dan cemilan. mbak santri tersebut akhirnya memutuskan membeli tahu dengan pelengkap beberapa cabe hijau.
Sambil menikmati tahu goreng yang tinggal satu biji, mbak santri tersebut dengan enaknya mengginggit cabe duluan, baru tahunya belakangan. Tak sengaja kondektur bus lewat, tanpa permisi tahu yang tinggal sebiji kesenggol oleh tangan kondektur bus tadi, padahal cabe sudah masuk mulut & dikunyah duluan.
Mana nggak ada air minum lagi. Sepanjang jalan mbak santri tadi ngoweh-ngoweh kepedasan. Sampai Yogyakarta, kisah _ngoweh-ngoweh_tersebut ditulis di Kedaulatan Rakyat kolom di pojok Sungguh-Sungguh terjadi. Mendapat HR Rp 30 ribu, kemudian dibelikan tahu semua dibuat syukuran se kompleks. Saya dengar cerita Ibu tertawa ngakak, Ibu pun sama, tertawa lepas. Sejenak melupakan kisah sandal “egrang” Ibu.
Sandal Menghias Angkasa
Pagi itu saya diajak Ibu ke Kantor Depag Bantul. Kalau tidak salah ada pertemuan Pengasuh Pondok se-Bantul.
Pulang Ibu menunjukkan amplop putih kepada saya. “Ayo amplop iki digowo ning Manding”
Saya tidak tahu Manding itu tempat apa dan di mana. Hanya mengikuti arah petunjuk Ibu. Sampai di tempat baru kutahu ternyata Manding adalah sentra produksi tas, sandal, sepatu, dll.
“_Ayo Is, milih nanti dibayar pakai amplop ini.”
Saya menolak dengan halus. “Mboten Ibu, dalem mengantar mawon. We…gak oleh, kudu milih.
Injih Ibu
Sambil melihat-lihat sekilas ada yang menarik perhatian saya, sandal teplek dengan taburan mote-mote cantik. Tanganku meraihnya dari rak, kucoba pas size nya dan yang terpenting harganya paling murah di antara yang lain.
Ibu menoleh saya ketika mencoba sandal tersebut, spontan Ibu ngendikan, “We…sandalmu kok menghias angkasa”
“Menopo Ibu kerso?”
“Iyo…apik”.
“Injih meniko kagem Ibu, sandal dalem sampun katah”.
Ibu terus mencarikan saya sandal, dan kebetulan tidak ada size yang pas.
“Sampun Ibu, mboten menopo”.
“Ya wes…ayo nggolek maem wae.”
“Injih Ibu
Sambil jalan menuju sepeda motor, Ibu ngendikan “mengko oleh sandal sing menghias angkasa di surga ya”.
“Injih Ibu”. Aamiin.
Sandal cantik mempesona
Is, sampean di rumah?
Injih Ibu.
Aku arep ning omahmu.
Injih Ibu.
Telepon Ibu di suatu pagi.
Sudah menjadi tradisi, setiap tahun Ibu menghadiri haul Mbah Hamid Pasuruan.
Alhamdulillah, sudah ke sekian kali gubug kami dibarokahi Ibu beserta rombongan.
Seperti biasa Ibu ngersa’ake siram. Sudah kusediakan sabun cair kesukaan Ibu yang aromanya wangi segar dengan sentuhan parfum yang ringan.
Selesai siram, Ibu saya aturi dhahar, kebiasaan beliau sedikit-sedikit dicoba semuanya, ben gak meri liyane, sambil menunjuk ke piring-piring saji diatas meja.
Ibu senang kerapian, termasuk penataan piring dan sendok juga ada seninya. Ibu…ilmu apa yang tidak Ibu kuasai. Merias manten, mendekor kamar manten, nyetir, mendesign interior rumah. Semua bidang ilmu Ibu bisa, dari yang berbau duniawi terlebih lagi ukhrowi. Benar-benar diri ini laksana butiran debu.
Setelah dhahar, saya ngaturi Ibu sandal yang ringan buat keseharian. Setelah saya keluarkan dari box nya, langsung dipakai Ibu, we…sandale cantik mempesona (istilah yg dipakai Ibu secara spontan menggambarkan sandal semi sepatu yg diujung kepala sandalnya ada hiasan yang cantik dengan pita kecil dan hiasan manis lainnya.
Sandal itu memang masih baru dan belum pernah saya pakai. Kebetulan size kaki Ibu dengan saya sama. Saking senangnya sandal itu langsung dipakai mulai dirumah sampai Ibu kondur. Sandal Ibu yang ada di depan rumah,saya tata kemudian saya masukkan box, saya aturkan ke mbak yang nderek’aken Ibu.
Sambil menggandeng Ibu ke mobil, sandal cantik mempesona ini menemani perjalanan Ibu. Semoga nanti sandal itu akan mengajak saya untuk ikut ke surga, seperti halnya sandalnya nabi Idris yang tertinggal di surga, untuk kembali diambil si pemilik nya.
Ibu…
Tiada kata yang teruntai indah, karena engkaulah keindahan yang sebenarnya.
Ibu…
Cinta yang sebenarnya.
Mencintai karena cinta.
Cinta Al-Qur’an, cinta shodaqoh, cinta ilmu,
cinta sejati yang tak bertepi.
Allah…
Terima kasih Engkau telah hadirkan Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah dalam perjalanan hidup ini.
Sosok guru yang mengajarkan kehalusan budi, cinta kasih, pejuang sejati.
Senyuman di wajah yang tidak pernah berubah.
Doa terbaik untuk Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah.
Al-Fatihah…
Istiah Marzuki, Santri Bu Nafis & Khodimah PP Bahrul Ulum Pujon Malang









Masya Allah tabarakallah sosok Ibu sejati panutan para santri, in Syaa Allah beliau mulia di surga