Kisah Nyata Romantisme Kiai Ali Yafie dengan Istri Tercintanya

Posted on

Senin, 27 Januari 2020, habis isya saya berkesempatan ta’ziyah dan ikut tahlilan atas wafatnya Ibunda Maha Guru NU, KH. Helmi Ali, putera Romo Anregurutta KH. Ali Yafie, ulama tersepuh NU yang ‘alim ‘allamah, di rumahnya di Komplek Menteng Recidence Bintaro.

Ta’ziyah dan tahlilan ini sudah saya niatkan sejak saya berangkat dari Cirebon. Alhamdulillah, dengan kelancaran KRL akhirnya dapat mengikuti yasinan dan tahlilan.

Eh, di tengah-tengah tahlilan, Mas Helmi Ali –biasa saya memanggil– melihat saya dari kejauhan. Mendekatlah Mas Helmy ke tempat saya duduk. Lalu, saya diajaknya ke kamar pribadi Almukarrom KH. Ali Yafie (93 tahun).

Mas Helmi langsung memperkenalkannya, “Ini Mas Marzuki Wahid dari Cirebon yang dulu ikut mengedit buku Fiqh Lingkungan Hidup.” Kyai Ali tersenyum dan bicara “iya.. iya” sambil menepuk-nepuk pundak saya.

Saya pun menyampaikan ta’ziyah dan ikut memanjatkan doa untuk Almarhumah Almaghfurlaha Nyai Hj. Aisyah Umar (88 tahun) kembali ke hadapan Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah.

Tidak Pernah Beradu Mulut

Setelah tahlilan, Mas Helmi memberikan sambutan atas nama keluarga. Di dalam sambutan ini, Mas Helmy menjelaskan bahwa selama hidup bersama sekitar 76 tahun, Kyai Ali dan Almarhumah Nyai Hj. Aisyah belum pernah terdengar cek-cok, adu mulut, atau meninggikan suara karena suatu masalah yang tidak disepakati. Apalagi melakukan kekerasan dalam bentuk apapun, sungguh tidak pernah terjadi.

Kyai Ali dan Almarhumah Nyai Aisyah saling menghargai, saling mengerti, bahkan saling mendahulukan (mengutamakan pasangan) untuk sesuatu yang terbaik.

Pada suatu waktu, Kyai Ali keluar rumah untuk suatu keperluan. Almarhumah Nyai Aisyah tunggu rumah. Malam itu, seperti biasanya Almarhumah tidak mau makan sebelum suaminya tiba. Beliau menunggu setia kedatangan suami untuk makan bersama.

Merasa agak telat, Kyai Ali melepon melalui telepon rumah meminta maaf bahwa dirinya kemungkinan telat dan mempersilahkan istrinya untuk makan duluan. Tapi sang istri setia menunggu tidak mau makan hingga suaminya tiba.

Lalu, istrinya balik telp ke suaminya Kyai Ali, “Sudah sampai mana? ” Dijawab Kyai Ali, “Sudah sampai tempat A.” Tempat ini sebetulnya masih jauh dan lama tiba di rumah, tapi dijawab oleh istrinya, “Ehh, sudah dekat ya… Saya menunggu. ” Dijawab Kyai Ali, “Makan duluan saja, ini masih lama tiba di rumah. ”

Baca Juga >  Bagaimana Praktik Mubadalah dalam Keluarga? Ini Jawaban Gus Rijal Rektor

Sang istri tetap tidak mau makan menunggu kedatangan suaminya yang masih lama itu agar bisa makan bersana.

Mas Helmi pun bercerita yang lain tentang kesetiaan dan romantisme Kyai Ali dan Almarhumah. Cerita ini diriwayatkan oleh Ekky Sahruddin, tokoh HMI.

Menurutnya, pada saat Kyai Ali menjadi pembimbing umrah yang jamaahnya saat itu adalah Cak Nur dan istrinya, Ekky dan istrinya, dan tokoh-tokoh lain beserta istrinya.

Ketika itu, jamaah laki-laki memiliki agenda khusus ke luar dianter Kyai Ali, dan jamaah perempuan tinggal di penginapan. Tiba-tiba bepergiannya lebih lama dari jadual semula yang akan mengecewakan para istri.

Membaca ini, Kyai Ali berkirim surat ke istrinya yang dititipkan kepada jamaah yang pulang ke tempat penginapan. Isinya sederhana, hanya memberitahukan bahwa kemungkinan pulangnya lebih telat karena ada agenda bepergian tambahan dan meminta maaf atas ini.

Berkirim surat seperti ini hanya dilakukan oleh Kyai Ali. Suami-suami yang lain tak seorang pun berkirim surat ke istrinya. Anehnya, surat ini bocor hingga ke telinga istri-istri yang lain, termasuk istri Ekky Sahruddin. Dari situlah, Ekky mengetahui betapa perhatian dan romantisme Kyai Ali kepada istrinya.

Yang menarik, kata Mas Helmi, padahal Kyai Ali dan Almarhumah menikah itu tidak melalui pacaran seperti anak sekarang, tapi semacam dijodohkan.

Inilah sekelumit cerita kesetiaan istri dan suami dan romantisme keduanya dari sosok Almarhumah dan Kyai Ali.

Kita tahu Kyai Ali Yafie adalah kyai yang memperoleh anugerah gelar Professor karena keilmuan dan kiprahnya dalam pengembangan hukum Islam di Indonesia. Beliau pernah menjadi Rektor IAIN Ujung Pandang (1965-1971), Ketua Umum MUI (1990-2000) dan Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU (1991-1992).

Semoga Anregurutta Haji Ali Yafie tetap sehat dan diberikan umur panjang untuk membimbing kita semua. Amin.

Untuk almarhumah wal maghfurlaha Nyai Hj. Aisyah Umar, lahal fatihah…

Penulis: KH Dr Marzuki Wahid, Sekretaris Lakpesdam PBNU.