Kisah Anak Usia 6 Tahun Mampu Menulis Kitab dalam Ilmu Mantiq

Kisah Anak Usia 6 Tahun Mampu Menulis Kitab dalam Ilmu Mantiq

Posted on

Kisah Anak Usia 6 Tahun Mampu Menulis Kitab dalam Ilmu Mantiq.

Syaikh Fannari, ulama ma’qul dari Turki hanya butuh waktu setengah hari untuk mensyarah sebuah matan fenomenal karya al-Hakim al-Abahri, salah satu murid kesayangan Imam Fakhruddin al-Razi, rahimahumullah. Ya, setengah hari! Kitab beliau salah satu yang selalu dipuji-puji oleh syaikh Husam, bahkan beliau mengatakan bahwa syarah Fannari adalah syarah terbaik yang pernah ditulis untuk Isaghuji. Saya membaca biografi beliau dalam kitab cetakan Dar Tahqiq, dan diperkirakan beliau mengarang kitab itu ketika umurnya 25 tahun, usia yang cukup muda di kalangan para ulama untuk menulis karya fenomenal seperti itu.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Syaikh Abdurrahman Akhdari – rahimahullah – menadamkan Sullam Munawraq-nya pada umurnya yang 21 setelah itu beliau mensyarahnya. Para grand syaikh Azhar dan ulama-ulama setelahnya berlomba-lomba mensyarah dan menghasyiahi nadham berkah itu.

Ibnu Marzuq al-Hafid al-Talamsani lebih gila lagi. Di umur yang sangat-sangat muda: 6 tahun, beliau telah meringkas kitab mantiq Jumal karya Afdhaluddin al-Khanaji dengan menadhamkan kitab tersebut. Anak umur 6 tahun, Gaes! Di kala anak-anak sebayanya asyik-masyuk dalam bermain, Ibnu Marzuq telah menuliskan sebuah fan keilmuan. Berikut potongan nadham yang beliau senandungkan:

وإن ترى تقصيري يحتمل ♡ فلابن نحو الست عذر يقبل

“Jika kalian melihat, kekuranganku dalam nazaman ini, maka maafkanlah seseorang yang umurnya masih 6 tahun.”

Yang saya heran dan takjub, kapan beliau mempelajari ilmu Mantiq? Sebelum itu, tentu beliau pasti telah mempelajari ilmu Nahwu dan Ilmu Arudh, sebab mustahil secara adat bisa merangkai bayt syiir yang berisi keilmuan kecuali paham fan yang akan ditulis dan mengetahui kaidah-kaidah dalam ilmu Arudh dan Qafiyah.

Karena itu, sampai-sampai, Syaikh Mallawi mengatakan: “Siapa yang mengingkari bahwa anak umur segitu (6 tahun), bisa melakukan hal tersebut, seakan-akan ia mensifati Allah dengan sifat lemah (karena tidak mampu mengalimkan orang di waktu mudanya).

Salah seorang syaikh mengatakan bahwa boleh jadi ada orang yang masih muda, tapi ilmunya sudah tua. Sebaliknya, betapa banyak orang yang sudah tua, tapi ilmunya masih kanak-kanak.

Futuh adalah sebuah Istilah yang sering dipakai oleh masyaikh dalam mengungkapkan keterbukaan pemahaman oleh Allah. Diberikan malakah dalam memahami sebuah kitab dan menulisnya. Siapapun bisa difutuh oleh-Nya, tak peduli tua atau mudanya umur seseorang.

ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء. والله ذو الفضل العظيم

فتوحا فتوحا في العلوم مفاتحا
وإلا فهل تأتي علي المفاتح

[الشيباني]

Futuh Ya Rabb!

Berkah Umur

Syaikh Abdurrahman Akhdari al-Maliki (w. 920-953 H) salah ulama yang umurnya tidak terlalu panjang: hanya 33 tahun, tapi karangan beliau sekitar 20 lebih. Di umur 19 tahun, beliau mengarang nadam al-Siraj dalam ilmu falak. Dari bahar Thawil. Beliau juga mensyarah kitab tersebut. Umur 20 tahun, beliau menulis al-Durrah al-Baidha’ sebuah nadhaman dalam ilmu faraidh, ilmu hisab dan pembagian zakat. Nadhaman itu hampir 500 bayt! Dari bahar Rajaz. Di umur yang sama beliau juga mengarang kitab Azhar Mathalib, dalam ilmu falak. Umur 21, beliau mengarang nadham masyhur yang di pelajari di banyak wilayah di persada bumi, Sullam Munawraq, dalam ilmu mantiq. Syaikh Muallim Husam dan syaikh Musthafa Abdu Nabi mengatakan bahwa mendapatkan futuh dari kitab itu. Syaikh Musthafa Abdu Nabi mengatakan:

Baca Juga >  Saat Anakku Ngaji Posonan kepada Mbah Maimoen Zubair

“Seorang thalib yang membaca kitab itu dengan niat yang tulus, Allah akan menfutuhnya. Rahasia cara memahami kitab-kitab beliau: zikir sama nderes Alquran. Semakin banyak nderes Alquran dan zikir, pemahamanmu akan bertambah hari itu juga. Ini yang saya praktekkan berkali-kali.” Guru saya, mas Lingga pernah menjelaskan salah satu sir dalam Sullam di bayt,

صلى عليه الله ما دام الحجا ♡ يخوض من بحر المعاني لججا

“Jadi ma dama di situ bukan taqyid untuk shalla alaihi. Maknanya bukan semoga Allah memberi rahmat kepada Nabi, ‘selama’ akal membahas permasalahan-permasalahan sulit. Jadi jika akal tidak membahas permasalahan sulit, Allah tidak memberi rahmat kepada Nabi. Bukan seperti itu. Tapi dengan senantiasa bershalawat kepada Nabi, akal akan dipermudah dalam membahas permasalahan-permasalahan yang sulit.” Nadham yang ditulis anak 21 tahun, dan disyarah pendekar-pendekar ulama al-Azhar.

Umur 24, beliau menulis kitab Al-Qudsiyah, nadhaman tasawwuf dan suluk. Di tahun yang sama juga, beliau menulis kitab Arjuzah fi Thabiat Nafs. Umur 30, beliau mengarang kitab yang masyhur juga di kalangan pesantren, Jauhar Maknun Fi Shadafi Tsalasti al-Funun. Dan kitab-kitab yang lain.

Jadi kalau dihitung dan dipotong masa baligh, masa ngafal Alquran, dan hal-hal yang lain, 15 tahunan umur beliau untuk ilmu. Dan mengalir berkahnya berabad-abad hingga saat ini.

Umur bukan dengan Adad (kuantitas), tapi dengan madad (kualitas). Begitu kata syaikh Fathi. Kiai di pesanten juga pernah dawuh

“Jangan pernah minta panjang umur. Tapi minta keberkahan umur.”

Radhiyallahu Anhu. Disarikan dari tarjumah beliau yang ditulis syaikh Mustofa Abu Zaid.

Demikian kisah anak usia 6 tahun mampu menulis Kitab dalam Ilmu Mantiq dan juga kisah-kisah ulama lain yang luar biasa.

Buuts, 30 Maret 2020.

Penulis: Gus Syihab Syaibani, alumnus Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo, tinggal di Kairo Mesir.