KH. Muntaha Al Hafidz atau biasa disapa Mbah Muntaha atau Kiai Muntaha adalah sosok ulama kharismatik dan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Asy’ariyah Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Nama Kiai Muntaha populer berkat ide pembutan Al-Qur’an Akbar yang dicetuskannya pada tahun 1994. Al-Qur’an Akbar 30 juz yang digagas Kiai Muntaha konon (ketika itu) terbesar di seluruh dunia, yaitu berukuran 1 m x 1,5 m, belum termasuk rehal dan ketika seluruh Al-Qur’an itu dibuka.
Kiai Muntaha di kenal sebagai salah seorang ulama yang turut berjuang merebut kemerdekaan. Sebelum mendirikan dan mengasuh Ponpes Al-Asy’ariyah, beliau dikenal sebagai komandan Barisan Muslim Temangung (BMT) dan Anggota Konstituante dari fraksi NU.
Pada 29 desember 2004 lah, beliau wafat di RS Tlogorejo Semarang, pada usia 96 tahun. Almarhum Kiai Muntaha adalah seorang yang serius dan kreatif, sederhana, pemurah, dan pribadi yang berakhlak karimah, berahlak Qur’an. Orang-orang menyebutnya berhati segara (laut), hatinya bagai samudra luas. Dan seperti air, setinggi apapun tempatnya air mengalir ke arah dan tempat yang lebih bawah atau rendah.
Beliau berjasa besar dalam pengembangan Masyarakat Kalibeber khususnya. Dari segi perekonomian, hingga menjadi pusat pendidikan sehingga terwujud masyarakat Kalibeber yang sekarang adalah masyarakat yang open society (masyarakat yang terbuka). Dalam artian tidak gagap lagi dengan demokrasi pemikiran, teknologi dan keaneka-ragaman.
Hal sederhana yang pernah beliau ucapkan misalnya, “Iya-iya, mbiyen wong ngadep tempe kemul sedina-dina urung mesti entek, sak iki mben dina wong podo ngadep, yo entek, malah kurang“. Demikianlah tampak dari raut wajah beliau rasa syukur yang sangat kepada allah SWT melihat banyak orang di beri kemudahan ma’isyah (penghidupan) lantaran banyak orang berdatangan ke Kalibeber. Masih sangat banyak sekali teladan dari beliau yang sering di tuturkan oleh seoarang murid beliau sekaligus khodim beliau yaitu KH. As’ad Al-Hafidz (foto samping kanan) dalam segi ahlaq sehari-hari, wirid, ketekunan, hingga bagaimana memasyarakat sekarang maupun kelak setelah pulang ke keluarga dan berkeluarga. Beliau selalu mengingatkan santri-santri agar melatih istiqomah dalam hal-hal positif sejak dini. Beliaulah (Kiai As’ad Al-Hafidz) yang sekarang meneruskan perjuangan beliau dalam mendidik santri-santri yang menimba ilmu di Kalibeber.
Suatu waktu pernah di katakan oleh salah satu dzurriyyah beliau bahwa memang beliau (Kiai As’ad Al-hafidz) lah yang plek (sama persis) seperti Kiai Muntaha dalam tingkah lakunya.
Nderek ngalap barokah lan ridhone guru….
Oleh: Qoim Masula, Santri PPTQ Baitul Abidin Darussalam