Ketaatan Keluarga Ibrahim 2

Ketaatan Keluarga Ibrahim

Posted on

Dalam kitab Misykatul Anwar disebutkan, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1.000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Suatu jumlah yang di zamannya tergolong kaya-raya. Ketika suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang, “Milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengemukakan, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun.

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, ibu dan anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis. Bahkan Siti Hajar mengatakan: ”Jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk disembelih sebagai gantinya Ismail.”

Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblis pun lari tunggang-langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di Mina.

Ibrahim AS tetap tegar melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Pada saat itu, Allah SWT membuka dinding yang menghalangi pandangan malaikat di langit dan di bumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub menyaksikan keduanya.

Baca Juga >  Mbah Hamid Pasuruan Selalu Datang Haul  Syekh Abdul Qodir al-Jailani di Baghdad

“Lihatlah hamba-Ku itu, rela dan senang hati menyembelih anaknya sendiri dengan pisau, karena semata-mata untuk memperoleh kerelaan-Ku.” Lalu Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS untuk mengambil seekor kibas dari surga sebagai gantinya.

Dan Allah SWT berseru dengan firman-Nya, menyuruh kepada Ibrahim untuk menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak yang memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban.

Menyaksikan drama penyembelihan yang tiada bandingnya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril membuktikan ketaatan keduanya, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya “La ilaha illallahu Allahu Akbar.” Yang kemudian disambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.”

Ngoto, malam Arafah 1440 H

Bramma Aji Putra