Keistimewaan Sayyidah Aisyah Istri Rasulullah SAW

Keistimewaan Sayyidah Aisyah Istri Rasulullah SAW

Posted on

Dalam sebuah kesempatan Sayyidah Aisyah menampakkan rasa kecemburuannya di hadapan Baginda Rasulullah, lantaran terlalu sering Rasulullah menyebut Nama Sayyidah Khadijah ketika beliau berkesempatan bershodaqah:

“Ini shodaqah yang pahalanya aku berikan kepada Khodijah” Kata Rasulullah saat membagi shodaqah tersebut.
Mendengar ucapan itu, Aisyah berkata: “Kenapa selalu khodijah?, bukankah beliau telah lewat masanya Dan sekarang sudah ada penggantinya yang lebih baik?”.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Demi ucapan itu, Rasulullah murka yang Aisyah tidak pernah mengetahuinya murka seperti itu. Rasulullah berkata:

“Saat semua orang tidak mempercayaiku, maka ia Khodijah, orang pertama yang mempercayaiku. Saat banyak orang mengembargo perjuanganku, maka ia Khodijah yang membiayai perjuanganku. Saat semua istriku tidak mampu memberikan keturunan (anak) dariku maka Khodijah yang memberikan itu.”

Setelah peristiwa ini maka Bunda Aisyah tidak pernah mengungkit keberadaan Bunda Khodijah sedikitpun.
Karena itulah para Kyai jawa kalau berdoa di acara kemanten, selalu menyebut:

اللهم الف بينهما كما الفت بين نبينا محمد وخديجة الكبرى

(Ya Allah rukunkanlah keduanya sebagaimana telah kamu rukunkan antara Nabi Muhammad dan Khodijah kubro)

Keistimewaan yang menonjol dari sosok Sayyidah Aisyah adalah serapan keilmuan yang begitu banyak dari Rasulullah. Bahkan bisa dibilang, sebagai referensi atas permasalahan yang berkembang. Sehingga sering beliau menerima tamu untuk sekedar bertanya hukum atau bertanya tentang prilaku yang pernah dilakukan Rasulullah. Yang menarik lagi, Sayyidah Aisyah mampu menjelaskan permasalahan yang Nabi merasa kesulitan dalam menyampaikan karena masalahnya terkait tentang kewanitaan.

Baca Juga >  Islam Wasatiyah dalam Perspektif Muslimah Indonesia

Satu contoh, saat Rasulullah ditanya seorang perempuan tentang apa yang harus dilakukan bagi seorang perempuan ketika sesudah Menstruasi (Haid)?

Rasulullah menjawab: “ambillah sepotong kapas, kemudian berilah minyak misik, dan bersesucilah dengan kapas tersebut”.

Perempuan ini belum faham, maka bertanya lagi: ” Bagaimana caranya aku bersesuci dengan kapas? ”

Rasulullah tidak mampu menjelaskan, karena malu membicarakan urusan kewanitaan dihadapan perempuan. Karena itu Rasulullah hanya mengulang jawabannya: “Bersesucilah dengan kapas”.

Perempuan ini masih mengulang lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Dan Rasulullah tetap menjawab: “Subhanallah, bersesucilah dengan kapas “.

Melihat kondisi yang tidak kondusif ini, maka Sayyidah Aisyah berperan sangat baik. Ditarik perempuan tersebut masuk ke dalam kamar, kemudian diajarkan bagaimana cara bersesuci dengan kapas sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah.

Itulah kemulyaan dua umil mukminin.

Penulis: Abdullah Khoirzad, alumnus Mathole’ Kajen Pati.