tengku zulkarnain

Kasus Tengku Zul, Shorof dan Restrukturisasi MUI

Posted on

Kasus salah tashrif Tengku Zul bukan hal sederhana. Kesalahannya dikoreksi tapi koreksiannya juga salah. Sekali lagi, ini bukan hal sederhana. Ini persoalan kualitas kepengurusan MUI sebagai lembaga keagamaan yang konon menaungi umat Islam se-Indonesia.

“Ah, itu masalah kecil”, “itu salah redaksional saja”, “masalah teks kecil jangan dibesar-besarkan”. Ooo tidak sesederhana itu, Ferguso.

Kesalahan dalam mentashrif -di mana shorof adalah ilmu dalam bahasa arab yang menjelaskan perubahan bentuk kata dan makna- sangat berpengaruh pada penafsiran teks suci Qur’an-Hadits, sumber utama ajaran Islam, dan tentu seluruh rancang bangun ajaran Islam. Itu ilmu alat yang sangat mendasar, dipelajari sejak ibtida’iyah atau tsanawiyah.
Bagaimana mungkin ulama yang duduk dalam Majelis Ulama dengan jabatan yang tidak main-main bisa tidak mengerti ilmu dasar itu?

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Sebetulnya tidak apa tidak bisa bahasa arab masuk MUI. Tapi andai tidak tahu, ya tidak perlu membicarakan hal yang tidak ia kuasai tersebut. Misalnya ahli kimia tapi memang tidak tahu bahasa arab, sebetulnya nggak papa masuk MUI tapi ya bagian pemeriksaan kehalalan suatu zat, bukan jadi bagian fatwa atau wasekjen dan tak perlu kemana-mana mendaku sebagai ulama dengan titel KH di depan namanya.

Baca Juga >  Bertemu Nabi Khidir, Syaikhona Kholil Didik Kiai Hasyim Asy’ari

Ini bukan dumeh pernah belajar Bahasa Arab. Bukan pula urusan politik. Ini persoalan penyerahan persoalan/nasib umat Islam ke tangan MUI, yang ternyata di dalamnya ada orang-orang under-qualified.

Sepertinya ini saatnya melakukan restrukturisasi kepengurusan MUI, atau malah langkah awal pengembalian mandat MUI ke tangan ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU.

Penulis: Dokter Alim, Yogya.