Segala hal ada kadarnya, termasuk dalam mengasuh anak. Tidak terlalu sering melarang anak juga bagian dari pola asuh anak yang baik. Hal tersebut disampaikan oleh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau biasa disapa Gus Baha.
Suatu hari, Gus Baha pernah menerima seorang tamu. Tamu tersebut pernah bertemu ayah Gus Baha, Kiai Nursalim, dan menceritakan pengalamannya mengasuh anak. Orang tersebut awalnya sering melarang anaknya untuk menonton televisi atau bermain sepeda motor. Larangan itu kira-kira bertujuan agar anak tidak terkena dampak buruk dari televisi dan sepeda motor.
Alhasil, si anak mengenal serta menonton televisi di rumah tetangganya. Begitupun dalam belajar dan bermain sepeda motor, anak tersebut mengaksesnya melalui teman bermain. “Teman yang berjasa itu [kebetulan] tidak salat. Dan si anaknya lebih terdikte sama temannya daripada oleh orang tuanya,” kata Gus Baha, dikutip dari YouTube Mata Najwa dengan judul Gus Baha dan Abi Quraish Menjawab Soal Cinta, Taaruf dan Fans K-pop (Part 2).
Secara tidak langsung, si anak lebih nyaman ketika bersama teman daripada saat bersama orang tuanya. Saat bersama teman, anak tersebut bisa mengakses banyak hal yang dia suka. Anak merasa lebih diterima saat bersama teman. Sementara saat bersama orang tuanya, lebih banyak larangan untuk melakukan ini itu.
Alhasil, anak menganggap teman lebih berjasa daripada orang tuanya. Anak lebih menurut dengan teman daripada orang tuanya. Masalahnya, saat teman tersebut tidak baik, maka anak juga berpotensi meniru, dan sebaliknya.
“Saya kira ada televisi dan sepeda motor [bisa bikin] anak jadi nakal. [Tapi] manusia itu budaknya kebaikan, sehingga anak Anda utang jasa ke orang yang enggak salat, dia niru enggak salat, sementara melihat Anda (orang tua) sebagai orang yang tidak simpatik karena melarang terus,” kata Gus Baha.
Gus Baha kemudian mengingat perkataan ayahnya, bahwa memang televisi ada mudharatnya. Namun saat keluarga tidak punya televisi, maka anak akan menontonnya di rumah tetangga. Kondisi itu berpotensi mengganggu tetangga.
“[Sekarang] anak itu sudah berubah dan jadi baik lagi. [Itulah] betapa bahayanya terlalu keras [pada anak],” kata Gus Baha, Pengasuh Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan ilmu Al-Qur’an (LP3IA) Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah.
–
Penulis: Antariksa Bumiswara