Ini Rahasia Pondok Tegalsari Tak Lagi Ada Santrinya Sekarang.
Tadi malam saya beserta rombongan sowan ke salah satu sesepuh Tegalsari (Ponorogo) untuk mentashihkan nasab. Orang-orang menyebutnya Mbah Icuk. Menurut banyak orang, beliau adalah orang yang paling tahu sejarah Pondok Tegalsari dan orang paling bisa dipercaya tentang nasab Mbah Khotib Anom, Mbah Ki Ageng Muhammad dan Mbah Nur Shodiq (tiga saudara Tegalsari).
Sampai di rumah beliau, saya beserta rombongan mengutarakan maksud dan tujuan. Akhirnya beliau mengambil buku dan diselingi cerita tentang Tegalsari. Yang membuat saya kagum di usia menginjak 67, beliau bisa hafal tahun kejadian dan sejarah secara lengkap Pondok Tegalsari. Yang membuat saya kagum lagi dari beliau, catatan tentang silsilah dzuriyyah anak cucu Pondok Tegalsari begitu komplit, sampai nama mbah saya ada dalam catatan beliau. Bahkan masalah nasab, beliau begitu teliti, mencocokkan data, tahun hidup sehingga penyimpangan dalam segi nasab bisa diterka.
Contoh, Mbahkung saya yang menurut riwayat berasal dari Mayak, katanya dari Mbah Mad Darum bin Iro Sari ke atas ke Blumbang Segoro Kyai Sepet Aking bin Cokronegoro bin Hasan Besari. Ini adalah nasab yang keliru, blumbang segoro itu adalah putra Patih Selo Ajo.
“Apa mungkin kamu sampek Mbah Hasan Besari sampai cucu ke 14?” tutur beliau.
Beliau juga pernah dhawuh pada Gus Miftah yang nasabnya sama ke Mbah Mad Darum juga terlalu jauh kalau sampai 14, “jenengan kie ke 8 atau 9 sampai Mbah Ki Ageng Muhammad.”
Ternyata Mbah Cuk juga guru dari Gus Miftah. Foto profil beliau pun dengan Gis Miftah. Yang benar Nyai Mad Darum itu putra Mbah Ilyas bin Ki Ageng Muhammad. Mbah Mad Darum sendiri nasabnya sampai sekarang masih majhul.
Banyak obrolan tadi malam yang sempat saya rekam dengan hp. Beliau sanjang, nasab kie penting hanya sebagai pengingat kalau kita keturunan orang yang bisa ngaji harus bisa ngaji. Cuma itu saja bukan bangga-banggaan. Lebih penting lagi adalah ilmu dan harus diamalkan karena amal adalah mahar daripada ilmu.
Terakhir saya bertanya: “ngapunten Mbah, kenapa pondok Tegalsari kog sekarang gak ada santrinya..??? Kog yang meneruskan keturunannya seperti Ploso, Lirboyo, Jampes dsb?”
Beliau menghela nafas, lalu berkata.
“Kalau sabdonya Mbah Ki Ageng Muhammad, “kalau keturunanku pengen dadi wong mulyo kudu metu ko Tegalsari kudu berjuang dewe.”
Masya Allah, ternyata beliau Mbah Ki Ageng tidak ingin anak cucunya membanggakan nasab, harus berjuang sendiri. Gak oleh kramat gandol.
Akhirnya kesimpulan saya, dengan menyebarnya dzuriyyah Pondok Tegalsari, Islam di Jawa semakin kuat, semakin menyebar dengan melestarikan ngaji bandongan, sorogan dan makna lafadz utawi iki iku rumusan Mbah Ki Ageng Muhammad Besari. Karena Tegalsari adalah pondok paling tua di Nusantara, ketika Islam di Nusantara belum ada kajian kitab kuning dsb.
Demikian penjelasan Ini Rahasia Pondok Tegalsari Tak Lagi Ada Santrinya Sekarang, semoga bermanfaat.
5 Juni 2020.
Penulis: Khoirul Muttaqien Muhammad.
Mas mohon bantuan analisa dan telisik silsilah nggih, keluarga saya juga ada silsilah dari mbah Buyut Putri dari garis mbah Kung saya masih keturunan Mbah Madarum dari istri yg ke 4, putra ke 4 yaitu Nyai Abu Bakar, Kertosari. Mungkin bisa bantu…? matur suwun