Bangkitmedia.com, YOGYA – Ketua PBNU Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi, KH Masyhuri Malik, bernostalgia di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Jumat (01/08/2025) malam. Hal ini terjadi saat pria asal Batang JawaTengah ini menjadi narasumber pada Rutinan Alumni Malam Sabtu Legi di Asrama Taman Santri Pondok Pesantren Krapyak. Acara diikuti para alumni Krapyak dari lintas angkatan.
“Saya tidak akan memberi pengajian kepada saudara-saudara yang hadir di sini,” kata mantan Ketua LazisNU PBNU ini.
Kyai Mashuri lantas bercerita pengalamannya menjadi santri, mulai di Pesantren Al Hidayat Lasem Rembang sampai di Ponpes Krapyak. Di Lasem ia ngaji kepada KH Ma’shoem (ayahanda KH Ali Maksum Krapyak) tahun 1959-1972. Setelah itu ngaji kepada KH Syakir (adiknya KH Ali Maksum).
Selanjutnya nyantri kepada KH Abdul Hamid Pasuruan. Setelah merasa cukup menjadi santri dirinya berencana pamit untuk boyongan. Tapi ketika keinginannya itu disampaikan kepada Mbah Hamid, justru di suruh nyantri dulu kepada KH Ali Maksum di Krapyak. “Di Krapyak yang tinggal di Kompleks H,” kenangnya.
Awalnya ia merasa tidak kerasan di Krapyak, karena kegiatan ngajinya hanya pagi di sore-malam. Sedang siang tidak punya kegiatan. Melihat hal ini kemudian KH Ali Maksum memberinya kunci perpustakaan dan memintanya membaca kitab-kitab yang ada di sana. “Waktu itu Mbah Ali bilang, di sini semua buku ada, termasuk yang dilarang membaca oleh Bapaknya Mbah Ali, yaitu KH Ma’shoem. Mbah Ali menyuruh saya membaca semua kitab-kitab itu,” ungkapnya.
Perjalanan selanjutnya, Mbah Ali meminta Masyhuri untuk kuliah. Menerima perintah ini ia bingung, sebab tidak mempunyai ijazah MTs (waktu itu masa belajar di MTs 6 tahun, setelah itu ke jenjang perguruan tinggi). Namun Mbah Ali dengan tenang mengatakan akan membuatkan ijazah MTs untuk dirinya. Kemudian, tiga bulan sebelum pendaftaran mahasiswa baru IAIN (sekarang UIN), Masyhuri Malik dimasukkan ke MTs dan kurang tiga bulan sudah lulus, bahkan ranking dua, sehingga bisa melanjutkan kuliah.
“Saya kuliah naik motor. Dari kompleks H motor dituntun melewati halaman ndalem Mbah Ali. Melihat saya nuntun motor mau kuliah, Mbah Ali menyuruh saya menyapu, tapi dengan perintah yang halus, yaitu “Kamu kalau sebelum kuliah nyapu dulu gengsi apa tidak?” Saya kira ini perintah yang demokratis,” kata Masyhuri.
Kiai Masyhuri mengaku sekarang dirinya bisa seperti ini karena para kiai yang pernah menempa hidupnya. Tanpa mereka tidak tahu apa jadinya. Bahkan juga mengingatkan para hadirin bahwa kita semua saat ini tinggal menikmati tinggalan para pendahulu. Pertama tinggalan NU dengan amaliah ahlusunnah wal jamaah. Kedua tinggalan NKRI, di mana dengan adanya NKRI hidup menjadi sejahtera dan sebagainya. Karena itu ia mengajak agar kita membuat tinggalan untuk bisa dinikmati generasi berikutnya. (Lutfi)








