Ibu Risma, Sebelum Subuh Sudah Kontrol Kondisi Masyarakatnya

risma wali kota surabaya

Ibu Risma. Sulit menemukan kesepakatan rakyat surabaya tentang pangilan yang tepat buat beliau, Mbok, Emmak, Bunda, Mbak, Ibu, bahkan Mommy.

Walaupun demikian satu Surabaya Insya Allah sepakat bahwa beliau adalah figur panutan, sederhana, tidak gila jabatan dan melayani. Nama besar beliau bukan dilahirkan dari gelar akademik yang mentereng apalagi keturunan ningrat yang hebat. Beliau besar dengan ketulusan melayani sesama dan pengabdian buat semua.

Foto foto beliau sangat natural, kebanyakan candid. Bukan berasal dari fotographer yang sengaja diundang untuk menghasilkan angel yang pas. Masyarakat Surabaya berlomba mengambil gambar beliau karena ingin mengabarkan pada saudara lainnya. Ibu lagi padamin kebakaran, atur lalu lintas, sapu jalan, masuk sungai atau pungut sampah. Tangan beliau tak pernah berhenti melayani warga.

Bagi saya, mungkin beliau SATU SATUnya kepala daerah yang berani jalan sendirian sebelum subuh untuk kontrol wilayahnya. Semua lansia dianggap ayah/ibunya, tak heran makanan sehat beliau kirimkan setiap hari agar mereka makan makanan sehat. Anak-anak Surabaya adalah anaknya, mata beliau menangis deras kala mengetahui Ada biaya sekolah yang harus ditanggung mereka. Mulutnya sangat santun dalam kebaikan dan sangat amat galak dengan kesalahan.

Ibu, mengapa ibu undang kami untuk koordinasi, apakah kami salah mengelola masjid?

Beliau turun dari panggung, untuk menjawab pertanyaan marbot. Beliau bersujud di kaki pengurus masjid itu. Maafkan kesalahan bahasa saya bapak. Datar, sambil penuh penyesalan. Ibu Risma tidak membela diri atau berkelit. Nalar ketulusan lebih dahulu beliau tunjukkan dibandingkan kekuasaan. Mana ada pimpinan negeri ini yang mau sujud minta maaf kecuali bunda Risma. Mana ada pejabat yang mau masuk ke danau bersihkan lumpur dengan ukuran setinggi dada.

Beliau tidak takut kematian, gagal melayani dan mencintai rakyatnya adalah ketakutannya. Kala penggusuran Dolly, sesuatu yang gagal dilakukan banyak pimpinan cowok, beliau pimpin upaya itu didepan. Beliau berpamit pada keluarga, “Kalau hanya untuk Risma, ngapain sampai patah tanganku. Ini untuk Surabaya. Kalau mau, silakan bunuh saya daripada anak Surabaya hancur,”

Saya tidak upload betapa tertib dan tertatanya Surabaya dibandingkan sebelumnya. Banyak mukjizat pembangunan berjalan seiring dengan kesuksesan pemberdayaan. Saya hanya berharap, banyak kepala daerah mau meneladaninya. Sebuah kota di tangan pimpinan yang tepat akan maju pesat luar biasa.

Panjang umur ibu kami, tetaplah bersih dan melayani, Ibu kebanggaan kami semua.

(Penulis: Andi Fajruddin Fatwa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *