Humor: Saat Gus Dur Ziarah Bersama Tokoh Muhammadiyah

Humor: Kiai Madura, Gus Dur dan Covid-19

Posted on

Satu hal yang susah kita lupa dari mendiang Gus Dur adalah humor dan anekdotnya. Salah satu anekdotnya yang sepontan muncul ketika melihat silang sengkarut penanganan dampak covid-19 adalah cerita kiai Madura yang baru pertama kali naik Bus di Jakarta.

Diceritakan, dalam salah satu kesempatan, PBNU mengundang para kiai dari berbagai daerah. Semua kiai dari penjuru Indonesia datang ke Jakarta, karena undangan tersebut. Salah satunya, kiai dari Madura. Dalam perjalanan dari bandara ke lokasi kegiatan, para kiai tersebut naik bus yang sudah disiapkan oleh panitia.

Di tengah perjalanan, terjadi keributan kecil di dalam bus para kiai. Pasalnya, salah satu kiai dari Madura tersinggung karena diingatkan oleh kiai yang lainnya.

“Kiai, ngapunten, hati- hati kiai, sebentar lagi kita masuk tol. Monggo jendelanya ditutup. Tangan kiai pun masukkan, kiai. Berbahaya. Tangan kiai bisa kena kendaraan lain. Bisa patah, kiai.”

“Sampeyan ini, jadi kiai, kalau belum pernah jadi komandan banser ya begini. Sampeyan dulu ketua rayon PMII IAIN, yaa? Bagaimana bisa sampeyan takut hanya dengan mobil buatan orang Cina. Sampyan dulu ndak pernah ikut Susbalan Banser, ta? ndak pernah ikut makan gotri, ta, ya ?,” jawab kiai Madura dengan ketus.

Tidak mau ribut berkepanjangan, kiai tersebut langsung diam. Kemudian kembali ke tempat duduknya, sembari geleng-geleng.

Bus tetap melaju dan kiai dari Madura, ternyata tidak hanya tidak mengindahkan peringatan dari teman sesama kiai tadi. Lebih dari itu, dia menggerutu hingga satu bus pun mendengarnya dan dibuat bingung, harus berbuat apa.

“Kita ini para kiai, masak takut hanya dengan mobil Cina. Takutlah pada qodlo’ dan qodar Allah. Apa gunanya wirid tiap malam, ngamalkan ijazah idza bathostum bathostum jabbar, lau anna qur’anan suyyirot bihil Jibal….ya Jabbar ya Qohar … kalau dengan mobil buatan kapir Cina saja takut. Memang yang menentukan mati, mobil? Ketabrak mobil pun kalau takdirnya tidak mati ya tidak mati. Ditabrak truck pun kalo catatan di lauhul Mahfud, matinya diomelin istri. Ya, mati di rumah, diomelin istri…” gerutu si kiai hingga didengar seluruh penumpang bus tersebut.

Mendengar ucapan kiai ini, seorang kiai politisi mendekat.

“Ngapunten kiai, kita mau masuk Jakarta, di Jakarta ini banyak orang memakai mobil karena tuntutan kerja, sebagian mereka hanya supir, sebagian mereka mobilnya cuman kredit. Kasihan kiai, nanti kalau sampai tangan kiai mengenahi mobil mereka. Mobil mereka bisa rusak. Apa lagi saya melihat tangan kiai ini sudah menyatu dengan khodam ya Jabbar ya Qohar. Mobil mereka bisa luluh lanta, kiai. Kasihan nanti supirnya, kiai. Dia bisa dimarahi bosnya. Apa lagi yang masih kredit. Bisa tidak berani pulang tujuh bulan, takut dimarahi istrinya…”

Baca Juga >  Humor Gus Dur: Puasa Setengah Tahun Saja

Sepontan kiai itu menutup jendela dan memasukkan tangannya sembari berucap,

“ iya, kasihan mereka”

Seisi bus, seketika itu saling pandang dan tertawa di dalam hati. Hehehehehe.

Selama ini, saya hanya tertawa, tiap membaca anekdot Gus Dur ini dari berbagai versi. Namun hari ini, ketika saya melihat dengan mata telanjang dari berbagai media, bagaimana sebagian tokoh agama, hampir dari semua agama, menyikapi penyebaran covid-19. Saya mbatin, ternyata anekdot Gus Dur hari ini menjadi nyata. Tidak hanya terjadi pada kiai Madura, tapi tokoh agama semua bangsa, semua agama. hehehe.

Dalam anekdot Gus Dur, kiai Madura hanya tokoh fiksi. Tentu bukan merujuk tokoh factual, apalagi menghinakan kiai Madura. Dalam salah satu ceramahnya, Gus Dur juga pernah menggunakan cerita yang sama dengan menyebut kiai yang bukan dari Madura.

Tapi, disesuaikan dengan konteks dan imajinasi humor audiensnya. “guyonan itu modal kiai kampung” begitu kata Gus Dur dalam salah satu ceramahnya.

Gus Dur boleh mengatakan itu sekedar humor, sekedar modal kiai kampung untuk mencairkan suasana pengajian. Bagi saya hari ini, di tengah silang sengkarut tingkah-pola dan gaya-pongahnya sebagian tokoh agama dalam merespon penyebaran covid-19, anekdot Gus Dur ini bisa menjadi satu perspektif yang bisa kita gunakan dalam melakukan pendekatan komunikasi pada tokoh agama. Agama apa pun, di mana pun.

Rumus komunikasi dengan tokoh agama dari humor Gus Dur di atas hanya ada dua :

1. Jangan berbicara risiko / dampak diri pada dirinya kiai, pastor, romo, bikhu dan sejenisnya. Mereka dari sananya sudah dikonstruksi untuk tidak takut pada persoalan dunia lebih dari persoalan akhirat. Lebih dari itu, mereka sudah biasa berkorban untuk orang lain. Dalam konteks beragama, mereka menjadi ukuran tertinggi relasi hamba dengan Tuhannya. Dalam Bahasa muslim, keyakinan qodlo’ dan qodar salah satunya. Maka jika kita menyoal sisi ini pada mereka, pastilah komunikasi kita patah, seketika.

2. Ajak mereka bicara dampak pada umat, santri, jamaah, dan warga. Maka, mereka akan segera tersentuh hatinya. Hati mereka pada dasarnya sangat halus. Jauh di atas rata -rata umat umum. Mereka akan tersentuh jika yang akan menjadi korban adalah umat, santri, jamaah. Apalagi jika korban itu menyentuh kelompok warga yang lemah alias Dzuafa’.

Selamat mencoba.

Penulis: Gus Ghozi, sekretaris LKK PWNU DIY.