Haji Susah Berdiri Di Pesawat Karena Banyak Dosa

Haji Susah Berdiri Di Pesawat Karena Banyak Dosa

Haji Susah Berdiri Di Pesawat Karena Banyak Dosa

Di musim haji banyak cerita aneh. Ada yg merasa kehilangan uang padahal uang ditaroh di dompet. Ada yang kesasar jalan padahal biasanya juga lewat situ. Dan lain-lain.

Semua kejadian di tanah suci biasanya disangkut pautkan dengan kehidupan semasa di tanah air.

Seorang kawan pergi berhaji. Sampai di bandara Madinah, dia tidak bisa berdiri. Sudah dua kali dia coba berdiri, tetap saja gagal. Hening sejenak. Dia diam. Dia berpikir mungkin karena dosanya terlalu banyak. Maka dia istighfar berkali-kali, sampai keras suaranya.

Pramugari mendekat dan bertanya penuh perhatian, “Bapak kenapa? Muka Bapak pucat sekali!”

Kawan saya menjawab, “Saya tidak bisa berdiri.”

Dia pun mencoba berdiri lagi. Dan, gagal lagi.

Pramugari, “Bapak, coba dibuka dulu seat-beltnya …”

Demikian Haji Susah Berdiri Di Pesawat Karena Banyak Dosa

*Artikel ini viral di media sosial dan blog. Redaksi kesulitan menyertakan sumber pertama.

baca artikel ini juga

Jalan Kaki Setiap Hari Enam Km Tanpa Merasa Lelah

Selama di Kota Mekah, kami selalu berusaha untuk shalat berjamaah di Masjidil Haram, karena pahalanya dilipat-gandakan oleh Allah100 ribu kali dibanding mesjid lain di dunia, sedang di Mesjid Nabawai 10 ribu kali lopat dibanding mesjid lain.

Selama di Madinah, karena letak pemondokan yang sangat dekat dengan Mesjid Nabawi, tidak ada masalah kami menjalankan shalat di untuk melaksanakan shalat Arbain (40 waktu selama delapan hari). Tapi di Mekah, karena jarak pemondokan dengan Masjidil Haram cukup jauh, sekitar 3 km (PP 6 Km), karena tidak ada angkutan bis atau mobil (karena demikian banyak jamaah di kota Mekah), terpaksa kami jalan setiap hari bolak-balik ke Masjidil Haram.

Biasanya satu jam sebelum waktu Shalat Subuh kami sudah berjalan menuju Masjidil Haram agar tidak ketinggalan Shalat Subuh berjamaah, dan baru pulang ke pemondokan setelah Shalat Isya, atau sekalian iktikaf di mesjid untuk shalat malam. Soal makan, tidak ada masalah, karena ada restoran Indonesia dan banyak orang Indonesia yang berjualan masakan Indonesia di sekitar Masjidil Haram dengan harga relatif murah..

Jarak sejauh itu kalau di Indonesia pasti ditempuh dengan kendaraan, apakah mobil pribadi atau angkot atau sepeda motor atau sepeda. Tapi di Mekah saat ibadah Haji, entah karena tidak ada pilihan lain, jalan kaki 6 km setiap hari, tidak begitu terasa, taremausk bagi kakek-nenek dan kaum wanita.

Bakaruddin Is

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *