Bangkitmedia.com, BANTUL – Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Al Hadi menggelar pagelaran wayang bertajuk “Wayang Santri”, Minggu, 23 Februari 2025 di halaman Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hadi, Krapyak Wetan, Bantul. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara yang digelar pada malam puncak Haflah PPM Al Hadi. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga salah satu bentuk momen perayaan dalam proses satu tahun belajar di PPM Al Hadi, juga sebagai bentuk rasa cinta terhadap budaya Indonesia.
Riski Widia Faturrahman, dalang dalam pagelaran wayang santri, menceritakan ia mengambil tema tentang Kayu Sidoguri, merupakan pohon yang dijadikan pemujaan oleh masyarakat karena dapat memberikan harta secara instan.
“Pertunjukkan ini menceritakan tentang Kayu sidoguri. Kayu itu adalah sebuah pohon yang disembah-sembah oleh beberapa masyarakat,” terang Riski saat diwawancarai di halaman PPM Al Hadi.
Ditambahkan, pagelaran ini merupakan upaya bentuk kritikan terhadap masyarakat di era teknologi yang kian pesat agar tidak gampang terjerumus oleh hal-hal yang bersifat mistik.
“Sekarang kan ramai sekali masyarakat percaya kepada satu golongan yang memberikan uang, kekayaan secara instan dan lain sebagainya. Itu masih terjadi di era sekarang, sampai ada beberapa yang mengatasnamakan Islam (agama). Kalau dulu kan mungkin cuma jalur hitam (sihir), sekarang jalur putih pun diperjualbelikan untuk itu. Saya menaikkan ini bahwasanya kita harus melek dan harus memanfaatkan perkembangan zaman ini sebijak mungkin,” jelasnya.
Riski dan timnya turut senang dapat menggelar pagelaran wayang di PPM Al Hadi. Ia berpesan, sebagai santri harus bisa melek teknologi agar tidak ketinggalan zaman dan tidak mudah dipengaruhi, namun tetap menjaga nilai-nilai lokalitas sebagai warga Indonesia yang berbudaya.
Di sisi lain, KH Anis Masduqi, pimpinan PPM Al Hadi, mengatakan, perayaan Haflah ini merupakan bentuk rasa syukur bersama. Ia juga berpesan para hadirin (santri dan santriwati) seharusnya mengungkap nikmat ibadah tidak hanya dengan momentum seperti ini saja. Melainkan, harus dengan didikan hati agar dapat merasakan nikmatnya ibadah.
“Pentingnya mengungkap nikmat juga harus dengan hati, hati kita yang perlu kita didik. Bukan hanya sikap kita, tetapi hati ini perlu kita didik sehingga bisa merasakan nikmatnya beribadah, nikmatnya kita belajar, nikmatnya kita melakukan semua kebaikan, itu adalah suatu bentuk syukur. Saya kira yang perlu kita hayati pada malam hari ini, tidak hanya event kita menyaksikan beberapa sesi nanti ya, tetapi semoga syukur pada malam hari ini sampai ke dalam hati kita,” tuturnya. (Yusuf)