Hadirkan Bacaan Kritis bagi Generasi Milenial

Posted on

Pesatnya laju perkembangan dunia teknologi melahirkan wajah baru dalam literatur generasi milenial. Tahun 1980-an dan 1990-an, generasi muda disuguhi ragam bacaan kritis, dunia perbukuan juga banjir dengan karya-karya yang menggetarkan nalar mahasiswa. Sangat berbeda dengan generasi milenial di awal abad ke-21, bacaan yang mereka konsumsi begitu ringan, santai, dan praktis. Ini dibarengi dengan banjir media online yang menyajikan ragam bacaan singkat, sedikit penalaran, dan bertumpu pada smartphone.

Inilah salah satu yang mengemuka dalam seminar diseminasi hasil penelitian “Literatur Keislaman Generasi Milenial” yang diselenggarakan di Yogyakarta, 30 Januari 2018. Diskusi penelitian ini dilakukan oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Convey Indonesia, dan Ikatan Sarjana NU (ISNU).

Prof Noorhaidi Hasan, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, menjelaskan bahwa  bacaan generasi milenial paling tinggi adalah islamisme populer. Mereka berkembang dengan bacaanya sendiri yang sebenarnya sangat potensial dalam membangun demokrasi Indonesia masa depan. Mereka sebenarnya telah mengawinkan Islam dalam kerangka yang luas, seperti Islam dan demokrasi, Islam dan HAM, dan sebagainya. Walaupun ada diantara mereka yang mengikuti bacaan jihadis, tetapi jumlahnya masih kalah dengan islamisme populer.

“Literatur keislamaan generasi milenial yang mengacu pada bacaan islamisme populer sebenarnya sudah sesuai dengan arah demokratisasi di Indonesia. Yang sangat berbahaya dan perlu diwaspadai adalah gejolak politik dalam Pilkada atau Pemilu, dimana aktor politik bisa memanfaatkan mereka untuk kepentingan jangka pendek. Politik mudah sekali mengkapitalisasi simbol-simbol dan isu keagamaan, sehingga sangat berbahaya dalam menggiring generasi milenial dalam ruang yang tidak demokratis. Mereka sangat berbahaya kalau dimanfaatkan dalam gerakan jihad yang anti demokrasi,” tegas Prof Noorhaidi yang juga Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana NU (ISNU) DIY.

Baca Juga >  Walikota Bersama PCNU Semarang Nobatkan Habib Syech Penggerak Shalawat dan Nasionalisme

“Dalam konteks ini, tepat yang ditegaskan Prof Amin Abdullah, bahwa kita harus  berani menyuguhkan bacaan kritis kepada generasi milenial. Jangan menyerah dengan keadaan, tetapi harus ada perjuangan untuk tetap hadir dengan bacaan-bacaan kritis, sehingga generasi milenial mampu tampil sebagai generasi masa depan untuk Indonesia,” lanjut Prof Noorhaidi.

Optimisme juga disuguhkan oleh Hairus Salim, pegita buku dan budaya, yang menegaskan bahwa bacaan kritis akan tetap mengisi bacaan generasi milenial. Walaupun bacaan instan lagi marak, tetapi bacaan kritis tetap tumbuh dengan pembacanya. Walaupn tidak sekencang media online, tetapi buku kritis tetap diproduksi akan selalu berkembang di masa depan. Penelitian ini, bagi Salim, sangat membantu para pegiat buku dalam memetakan konteks dunia pembaca hari ini dan sekaligus menjadi masukan sangat berharga bagi dunia perbukuan dalam mendesain produksi buku bagi generasi milenial.

Dalam diskusi ini, selain dihadiri Prof. Noorhaidi Hasan dan Hairus Salim, juga ada pembicara lain, yakni Dr. Suhadi, Dr. Roma Ulinnuha, Dr. fosa Sarassina, dan Nendra Primonik. Para pesertanya adalah akademisi, aktivis ormas/NGO, unsur pemerintah, wartawan, dan mahasiswa. (Amru)