Gus Dur dan 20 Menit di Kamar KH Abdullah Faqih Langitan

kiai faqih langitan

“Kiai Faqih (KH Abdullah Faqih) mengatakan, kalau saya jadi calon presiden, beliau akan mendukung dengan doa-doa,” kata KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pertengahan Oktober 1999, beberapa hari menjelang Sidang Umum MPR RI Pemilihan Presiden.

Dua hari menjelang SU MPR, KH A Hasyim Muzadi menemui Gus Dur menyampaikan pesan Kiai Faqih. Isinya, jika Gus Dur maju calon presiden, ulama akan setia di belakang mendoakan.

Kiai Abdullah Faqih adalah ulama kharismatik yang dikenal sebagai kiai khos. Beliau selalu jadi rujukan, bukan hanya urusan agama melainkan juga politik. Keputusannya sering disebut Gus Dur sebagai “Suara Langit”.

Kiai Faqih termasuk seorang wali. Kewaliannya, menurut Gus Dur, bukan lewat lelaku tarekat atau tasawuf, melainkan karena kedalaman ilmu fikihnya.

Menurut cerita kakak sepupu KH Abdullah Faqih, KH Imam Mawardi Z.I, KH Abdullah Faqih memiliki tim kerja spiritual khusus. Tim khusus yang terdiri dari sembilan sampai 12 orang ini bertugas menjalankan spiritual khusus ketika bangsa ini sedang menghadapi masalah genting. Salat malam, puasa sunat, dan zikir rutin.

Ahad, awal Januari 2001, di tengah serangan politik dari “Senayan” kian keras, Gus Dur sowan ke rumah Kiai Faqih, di kompleks Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Begitu turun dari kendaraan dari perjalanan yang melelahkan, Gus Dur langsung memasuki kamar pribadi Kiai Faqih. Mereka berdua melakukan pembicaraan khusus selama 20 menit. Hanya empat mata.

Di luar ruangan puluhan kiai sepuh sudah menunggu. Mereka antara lain KH Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri), KH Zainuddin Jazuli (Ploso, Kediri), KH A Muchit Muzadi (Jember), KH Muslim Rifa’i Imampuro alias Mbah Liem (Klaten, Jawa Tengah), KH A Hasyim Muzadi (Malang), dan KH Zarkasi (Banyuwangi).

“Kalau saya sudah tak kuat, saya akan lari ke Kiai Abdullah Faqih,” kata Gus Dur di hadapan para kiai yang menunggunya begitu keluar dari kamar Kiai Faqih.

Kini, mayoritas dari mereka sudah tiada. Menghadap Sang Kekasih. Kepada mereka, Al Fatihah.

(Penulis: Abdul Hady JM, Surabaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *