Gus Baha dan Quraish Shihab Bicara Cinta, Jodoh, dan Cara Melihat Tuhan

Gus Baha (Sumber foto: Instagram @untaian.ilmu

Segala urusan di dunia ada ilmunya. Islam mengatur semua lini kehidupan manusia, bahkan perkara cinta.

Dalam YouTube Mata Najwa dengan judul Gus Baha dan Abi Quraish Menjawab Soal Cinta, Taaruf dan Fans K-pop (Part 2), Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim dan Muhammad Quraish Shihab banyak bicara tentang cinta dan jodoh. Mereka mendapat banyak pertanyaan baik dari para netizen, maupun cucu Quraish Shihab yang kebetulan hadir di lokasi.

Berikut beberapa ringkasan pertanyaan dan jawabannya.

Pertanyaan: Bolehkah berselawat agar berjodoh dengan seseorang?

Ringkasan jawaban dari Gus Baha:

Gus Baha mengatakan bahwa berharap kepada Allah SWT merupakan hal yang bagus, apalagi menghidupkan harapan dengan selawat. Sesuatu yang tidak bagus, lanjut Gus Baha, berupa memaksakan kehendak.

“Di antaranya sarana supaya hajat kesampaian [yaitu] memperbanyak selawat, apalagi calon yang kita idamkan karena kebaikannya, enggak masalah [selawat untuk berjodoh dengan seseorang],” katanya.

Pertanyaan: Saat tidak mendapatkan jodoh atau sering putus, apakah harus pasrah?

Jawaban Gus Baha:

“Sedari awal sudah [harus] pasrah, sabar dan berusaha,” katanya.

Jawaban Quraish Shihab:

Apabila ingin mendapatkan pasangan yang sempurna, maka menikah saja saat di surga. “Di dunia tidak ada yang tidak berkekurangan. Pilih lah yang agamanya baik, dan pilihnya yang baik. Jangan cari yang sempurna, semua ada kekurangan,” katanya.

Pertanyaan: Bagaimana cara taaruf yang benar?

Jawaban Gus Baha:

Gus Baha mengatakan cara taaruf yang benar dengan tidak melanggar syariat Islam.

“Kalau masih dalam proses yang baik, masih ditoleransi. Dulu [taaruf] cukup dengan melihat, sekarang harus kenal, jangan beli kucing dalam karung,” katanya.

3 Hal Penting untuk Menjemput Jodoh Menurut Prof Quraish Shihab

Pertanyaan: Bagaimana cara menghadirkan Allah SWT dalam hati kita?

Jawaban Gus Baha:

Gus Baha mengatakan bahwa hubungan terdekat seseorang harusnya dengan Allah SWT. Hal tersebut lantaran Allah SWT lah yang menciptakan manusia.

Cara menghadirkan Allah SWT dalam hidup bisa dengan kegiatan sehari-hari. Misalnya saat minum, maka perlu ingat siapa yang menciptakan air. Siapa yang menciptakan awan hingga menjadikannya proses hujan dan menjadikan air di Bumi.

Termasuk juga saat makan, siapa yang bisa menghidupkan tanaman hingga akhirnya bisa menjadi makanan di piring kita. Semua terjadi karena izin Allah SWT.

“Di Rahim, [kita] enggak tahu cara ngatur oksigen dan sebagainya, [kita] sering tergantung pada Allah, semua harus merasa butuh sama Allah,” katanya.

Pertanyaan: Bisakah kita melihat Tuhan?

Jawaban dari Quraish Shihab:

Quraish Shihab mengatakan bahwa Tuhan bisa dilihat. Tuhan menampakkan dirinya sesuai kemampuan kita melihat. Namun apabila kita tidak bisa melihat Tuhan, maka Tuhan ingin memperkenalkan dirinya dengan menciptakan alam raya.

“Kenapa ada ini, kenapa ada itu, tidak mungkin itu ada kalau tidak ada yang menciptakan,” katanya.

Dalam konteks mengingat, perlu ada jangkah emosi ingatan. Semisal saat seseorang melihat foto, maka akan teringat orang yang ada dalam foto. Itulah jangkah atau pengungkit kita pada ingatan tertentu.

“Orang tidak mau pakai jangkarnya, jadi lupa. Jadikan semua [yang ada di dunia sebagai] jangkar [untuk mengingat Allah]. Misal dengar guntur ada doanya, itu ikhtiar yang diajarkan, jadi tidak pernah lupa,” katanya.

Pertanyaan: Ada orang yang hartanya habis untuk merawat orang tua. Meski sudah habis banyak biaya untuk berobat, namun orang tuanya tidak selamat. Bagaimana?

Jawaban dari Gus Baha:

Gus Baha mengatakan saat seseorang kehabisan harta untuk merawat orang tua, harusnya justru bangga. Uang yang habis untuk kebaikan lebih baik secara manfaat.

Penulis: Antariksa Bumiswara

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *