Catatan Hati Seorang Suami: Cinta Tidak Selamanya Seperti Dewi Shinta dan Sri Rama

Sebelum menikah kukira engkau akan selamanya seperti Dewi Sinta yang penyabar, tidak pernah marah, dan halus budi. Ternyata ketika menikah adakalanya engkau marah yang kadarnya tak terbayangkan sebelumnya.

Sebelum menikah barangkali engkau juga mengira aku seperti Sri Rama, yang selalu sabar menghadapi setiap keadaan. Rupanya, setelah dijalani engkau baru tahu bahwa aku bisa marah seperti Rahwana yang menakutkan.

Lantas, hanya karena itu aku akan meninggalkanmu? Atau hanya persoalan itu kamu akan menjauhiku? Rupanya kamu dan aku paham bahwa itu bukanlah alasan yang halal bagi kita untuk saling menjauh.

Seiring dengan waktu, pelan-pelan aku memahamimu. Begitu juga kamu, sedikit demi sedikit mulai memahamiku. Aku dan kamu mulai tidak terusik dengan kemarahan itu. Sebab, kami sadar, marah seorang suami atau istri bukan berarti benci, tapi cinta yang terus bersemi.

Tak apalah sesekali marah. Mungkin aku atau kamu memang benar-benar salah. Sehingga dengan marah, meski tak ramah, kamu atau aku jadi sadar bahwa kamu bersalah kepadaku, atau akulah yang salah kepadamu.

Terkadang, usai marah-marah aku atau kamu sadar bahwa sebenarnya akulah yang salah. Bukan kamu yang kena semprotan marah. Sehingga aku atau kamu tidak malu untuk meminta maaf sebelum telat karena kemarahan yang salah alamat.

Cinta itulah yang membukakan hati untuk menerima kesalahan kami. Sehingga terucap, “maafkan aku yang telah membuatmu marah, wahai pendamping hidupku.” Cinta itu pulalah yang menumbuhkan semangat untuk memaafkan kesalahan sehingga terlontar dari bibir kami, “kumaafkan kesalahanmu, karena aku sangat sayang kepadamu.”

Sudahlah, ngapain terus marah-marah, wong aku sudah sadar bahwa akulah yang salah. Sudahlah, ngapain terus marah-marah, wong kamu sudah kumaafkan sejak sebelum kamu berbuat salah.

Penulis: Masykur Arif, Annuqoyah Sumenep.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *