Bahaya Memaknai Al Qur’an Hanya Lewat Terjemahan

Bahaya Memaknai Al Qur'an Hanya Lewat Terjemahan

Bahaya Memaknai Al Qur’an Hanya Lewat Terjemahan Menurut Gus Baha

Belum genap empat tahun ke belakang. Saat Dinamika kehidupan bangsa ramai dengan hiruk pikuk pol itik identitas. Berbagai simbol dan narasi keagamaan tumbuh subur dlm benak alam bawah sadar hampir pada setiap individu orang Indonesia. Saling klaim tentang kebenaran, menyudutkan pihak-pihak yang tidak sepemikiran dan narasi-narasi lainnya yang bertanggung jawab dan mengambil klaim lebih agamis.

Umat ​​Islam terombang ambing dalam kutub yang berbeda. Pro-kontra dengan arus identitas besar yang sama-sama mengklaim kebenarannya. Pada sisi tersebut, muncul berbagai tokoh agama, ustadz atau mereka-mereka yang menganggap dirinya ustadz dengan berbagai latar belakang dan kepentingan yang ada di balik kemunculan-kemunculannya, membuat semakin riuh gap antar pendukungnya.

Berbagai skenario dan rekayasa dilakukan demi menggapai pengaruh dan massa. Medsos, tim kreatif dan aneka persiapan persiapan mengangkat popularitas dan meraih simpati massa. Umat ​​larut dalam narasi-narasi keagamaan terbangun berdasarkan asumsi dan informasi yang diambil di dunia maya tersebut. Banyak yang diuntungkan dengan kegamangan umat awam tersebut dan banyak yang menari dalam kejumudan massal atas nama agama tersebut.

Lalu muncullah sosok baru KH. Bahaudin Nursalim ( Gus Baha ) dalam ranah jagad dunia maya kita. Sosok Gus Baha tampil secara natural, sederhana, tanpa diolah dan mengalir secara normal. Dengan kealimannya, cara penyampaiannya, penampilan sederhananya dan segala hal yang dikeluarkan dari mulutnya. Semuanya menandakan Gus Baha sebagai sosok pencerah, peneduh, dan muara dari carut-marut narasi keagamaan kosong yang booming di jagad maya.

Gus Baha mampu mengisi issue-issue berdasarkan ilmu, bukan atas dasar asumsi atau klaim atas dasar pemikiran itu sendiri. Berbagai disiplin ilmu dikuasai secara utuh. Hafidz (hapal 30 Juz Al-Quran), menguasai tafsir, fiqh 4 madzhab, ilmu alat (nahwu-sorof), hadist, tasawuf dan mampu menyerasikan metode akademik modern dengan khazanah keilmuan Islam klasik, serta kuat dalam penggunaan bahasa.

Dengan komposisi itu, fenomena kemunculan Gus Baha dalam jagad medsos kita, menjadikan narasi-narasi keagamaan kosong yang booming di medsos menjadi kering jika membandingkan dengan kajian-kajian yang disajikan oleh Gus Baha. Gus Baha mampu menjadi mata air ilmu bagi narasi keagamaan yang ada, mampu meluluhlantakkan segala issue hoaks, ujaran kebencian, klaim kebenaran yang berlandaskan agama yang muncul di medsos hanya dengan sekali pukul.

Bagi audiens yang memiliki dasar ilmu pengetahuan yang minim, atau yang merasa memiliki ilmu yang lebih dalam, jika mengikuti kajian-kajian yang disampaikan Gus Baha, maka pasti akan tertegun dan bergumam oooh, kok bisa ada orang sepintar itu. Atau bergumam oooh ternyata aku masih bodoh dan jauh dari kedalaman ilmu. Kekaguman akan kajian-kajian yang disampaikan oleh Gus Baha tersebut tidak aktif oleh kalangan awam, tetapi hampir bisa dipastikan kekaguman tersebut juga aktif oleh mereka para alim ulama, kaum cendikia dan para pengkaji Ilmu.

Dari mufassir seperti Prof. Quraish Shihab, Kyai Said Aqil, kalangan pengasuh-pengasuh pesantren, para pakar dan guru besar kampus-kampus Islam, semuanya mengakui kealiman dari sosok yang bersahaja tersebut.

Semoga dengan fenomena kemunculannya tersebut dan dengan kedalaman ilmunya, Gus Baha mampu menjadi kebijakan umat yang sedang terombang-ambing dalam kekosongan ilmu, yang mampu menjadi bandul bagi kajian-kajian keagamaan yamg kajian dan mampu menjadi penggerak umat untuk selalu belajar dan haus akan ilmu serta bisa mengingatkan akan pentingnya persatuan umat agar bisa bangkit dan maju hanya dengan Ilmu.

Akhirul kalam, mengutip dengan sederhana perkataan beliau,

“sejatinya niat awal saya hanyalah untuk mengaji, jika kemudian populer itu bukan karena saya, tapi mungkin karena apa yang saya sampaikan adalah ilmu-ilmu dari Allah dan mungkin karna Allah muncul kemudian popularitas itu ada dan saya tidak peduli dengan popularitas tersebut, saya hanya sekedar menyampaikan tentang ilmu-ilmu ketuhanan tersebut. “

Wallahualam.

_________________

dalam sesi ngaji tersebut gus baha membahas tetang Bahaya Memaknai Al Qur’an Hanya Lewat Terjemahan. Gus Baha menyarankan kitab Al Itqon Fii ‘Ulumul Qur’an untuk dikaji dalam memaknai Al-Qur’an.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *