Alissa Wahid: Sentimen Agama Sering dijadikan Alasan Tindakan Kekerasan

imagecontentSentimen-sentimen agama sekarang ini sering dijadikan alasan untuk tindakan-tindakan kekerasan. Berbagai kasus bermunculan ini membuat rasa saling percaya terahdap agama lain semakin menipis.

“Ini bukan melulu persoalan di indonesia, bahkan dari hasil perjalanan ini (ke beberapa negara-red.), saya mendapati bahwa Indonesia masih membawa kabar baik untuk dunia. Ini yang menarik. Dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain, Indonesia kondisinya masih jauh lebih baik,” jelas Alissa Wahid, saat memberikan sambutan pada agenda Sosialisasi Hasil Survei Jaringan Gusdurian Nasional dan INFID, di UC UGM, 14/122016.

Alissa Wahid menambahkan, persoalannya adalah  untuk melihat kondisi kita hari ini, kita perlu melihat, kita perlu menengok dari mana kita dulu, dan ke mana kita menuju. Kecenderungan apa yang ada di indonesia ini.

Kita tidak bisa berbangga hati, tambah Alissa Wahid, dengan posisi kita saat ini di tengah geo politik yang carut-marut. Sehingga diberbagai belahan dunia saat ini sedang muncul gerakan-gerakan dalam rangka menyelamatkan peradaban.

Beberapa waktu yang lalu, ungkap Alissa Wahid, ada deklarasi fast di Maroko. Deklarasi ini adalah deklarasi para pemuka agama di dunia menyatakan menolak penghasutan yang akan berujung pada kekerasan masal atas nama agama. Deklarasi ini inisiatif dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Bahkan di PBB sekarang ada utusan khusus sekretaris jendral untuk urusan pencegahan ektrimisme dengan menggunakan kekerasan. Sampai ada utusan-utusan bidang khusus berkaitan dengan ini.

“Kembali ke Indonesia, kita sama-sama sering kali membanggakan keberagaman di Indonesia. Bhineka tunggal ika sering dirayakan dan seterusnya. Semangat kebangsaan kita. Tapi kita juga sering mendapati kejadian-kejadian atau situasi di mana justru bhineka mendapatkan tantangannya,” tandas Alissa Wahid, Putri dari KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering dipanggil Gus Dur.

Alissa Wahid menuturkan, sejak beberapa waktu lalu, kita mendapati serangan-serangan dan ancaman tindakan intoleransi di berbagai penjuru Indonesia. Ini yang menjadi tantangan kita semua. “Kita membanggakan masa lalu, lalu kita melihat masa kini. Bagaimana kita akan menyelamatkan masa depan Indonesia?” jelasnya. (Solikhin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *