FEATURE, BANGKITMEDIA.COM
“Saya tidak menyangka berada dalam dunia sekarang ini, penuh dengan kemajuan dan kemudahan. Apa saja yang kita inginkan, semua tersedia. Saya kadang senang, tapi juga sedih kalau melihat warga kampung yang membiarkan anak-anak kecil main handphone sampai lupa waktu.”
Kegelisahan ini benar-benar dirasakan oleh H. Sukendi, warga dukuh Wonocatur, desa Banguntapan, kecamatan Banguntapan, Bantul. Selain sebagai kepala keluarga, ia juga menjadi Ketua RT dan penggerak masjid di kampungnya. Saat ini, usia Sukendi adalah 48 tahun.
“Saya ini sangat resah kalau ada anak tidak mau belajar. Saya selalu mengajak anak saya untuk belajar. Istri saya juga selalu “ramai” dan “geger” kalau anak-anak belum belajar. Belajar itu nomor satu, kelak menjadi bekal buat anak-anak. Mau jadi apa saja, tidak masalah. Yang penting punya bekal ilmu.”
Itulah keseriusan Sukendi terhadap anak-anaknya. Tiap pagi, Sukendi tak pernah absen mengantarkan anaknya sekolah. Mengantar anak sekolah, baginya, adalah kebahagiaan tak terkira. Selain dengan anak, juga bisa dekat para guru yang bisa ditemui saat nyampe sekolah.
“Kalau mengantar anak, saya biasanya menyempatkan bertemu guru kalau memungkinkan atau ada suatu hal yang perlu saya tanyakan. Para guru itu yang tahu tentang pendidikan, sehingga saya juga harus belajar dengan mereka. Informasi dan ilmu dari guru, itu yang kemudian saya jadikan bahan masyawarah dengan istri dalam mendidik anak-anak,” lanjut Sukendi yang juga Ketua RT 06 Wonocatur.
Setiap sore, sekitar jam 16.30 WIB, anak-anaknya sudah harus mandi dan bersiap belajar. Anak-anaknya harus ngaji al-Qur’an dan ilmu agama setiap habis magrib. Baginya, waktu habis magrib sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai ilmu agama. Ilmu agama adalah pondasi menanamkan karakter dan kepribadian.
“Kalau sudah menjelang magrib, tidak boleh ada televisi hidup. Juga tak boleh ada yang main handphone. Anak-anak harus belajar. Awalnya memang sudah, berat. Tapi saya yakin dan selalu berdoa, bahwa anak-anak akan bisa menyesuaikan. Orang tua tidak boleh kalah dengan anaknya. Bukan dalam arti memaksa ya. Saya melakukannya dengan bahagia, anak-anak juga bisa menjalaninya dengan bahagia.”
Sukendi juga selalu mengajak anaknya untuk jama’ah sholat magrib dan isya’ di masjid. Waktu antara magrib dan isya’ sangat baik untuk jama’ah di masjid, selain juga bisa media sosialisasi dengan warga kampung. Anak-anak bisa saling kenal dan akrab dengan teman-temannya. Nanti habis isya’, anak-anak juga dikondisikan untuk fokus belajar di rumah.
Anak-anak Sukendi sekarang sudah beranjak dewasa. Yang pertama dan kedua sudah kuliah, yang ketiga masih belajar tingkat SMP.
“Saya mengenang masa-masa sulit saat mereka kecil, sungguh berat kalau dijalani. Tapi kalau dengan hati yang senang, semua berjalan dengan nyaman dan asyik. Karena keluarga, bagi saya, adalah pondasi paling utama dalam pendidikan anak. Semuanya berawal dari keluarga,” katanya.
Suharti, istri Sukendi, juga tak pernah lelah dan absen dalam memberikan perhatian buat anak-anaknya. Suharti selalu mengajak anak-anaknya untuk ngaji, jama’ah sholat di masjid, dan belajar. Itu dilakukan dengan penuh telaten, tanpa bosan.
“Sudah jadi tekad saya, sebisa saya, untuk selalu mendidik anak-anak. Tantangan berat, tapi selalu saya batasi main handphone, karena mereka bisa terlena. Sesekali, kalau liburan, saya perbolehkan,” tegas Suharti yang asli dari Klaten.
“Anak-anak juga selalu saya ajari peduli kebersihan. Makanya, kalau membuang sampah, selalu saya ingatkan untuk membuang pada tempatnya. Anak-anak sejak usia dini sudah saya latih untuk peduli dengan dirinya sendiri, jangan sampai mereka lupa dengan dirinya sendiri,” lanjut Suharti.
Bersama Masyarakat
Sebagai Ketua RT sekaligus pengurus Takmir Masjid di kampungnya, Sukendi selalu mendapatkan temuan-temuan baru warga kampungnya. Tantangan gadget yang menjadi mainan baru anak-anak selalu menjadi keluhan warga kampungnya dan jama’ah di masjidnya.
“Setiap ada warga yang minta surat keterangan dari RT, saya juga selalu mengajak ngobrol terkait pendidikan anak-anaknya. Mereka mengaluh terkait anak-anak yang sibuk main game online. Demikian juga ketika rapat RT dan ngaji di masjid, keluhan terkait main game juga selalu muncul,” tegas Sukendi yang juga sering dipanggil Pak RT oleh warga kampungnya.
Bagi Sukendi, sebelum kita mengajari anak-anak disiplin dan peduli, kita sendiri juga harus disiplin dan peduli. Sukendi tidak mau anak-anaknya kelak menjadi pribadi yang individualis, tak mau berbagi dengan sesamanya. Karena manusia, baginya, kalau tak bisa berbagi, rasanya hampa dalam hidup.
“Dari berbagai keluhan warga itu, saya setiap sore hari selalu menyapa warga, tetangga, khususnya anak-anak. Kalau mereka bermain, maka saya ajak mereka segera pulang ke rumah untuk bersih-bersih, segera mandi, dan ke masjid. Alhamdulillah, anak-anak itu banyak yang ke masjid. Saya juga mengajak orang tuanya untuk selalu ‘gatekke’ (perhatian penuh) kepada anak-anaknya.”
Sukendi mengaku “diuntungkan” karena menjadi Ketua RT, sehingga apa yang dilakukan merupakan wujud kepeduliannya sebagai Ketua RT.
“Apa yang saya lakukan itu setelah saya sampaikan ketika rapat RT. Warga setuju. Akhirnya, saya dan juga para sesepuh warga selalu ‘gatekke’ (perhatian penuh) kepada anak-anak kampung. Kalau ada orang tua yang belum sadar, ya kita ingatkan dalam rapat RT. Ini semua kan untuk anak-anak dan orang tuanya juga.”
Ibu Yani, tetangga Sukendi, merasa sangat senang dengan pola pendidikan yang digerakkan Pak RT. Ibu Yani bahkan selalu menganjurkan anak-anaknya untuk mencontoh anak Pak RT. Berkali-kali Ibu Yani juga mengajak anaknya untuk belajar bersama anak Pak Sukendi.
Sukendi bersama istrinya juga mengajak ibu-ibu yang tergabung dalam PKK untuk selalu menjaga pendidikan anak-anaknya. Setiap pertemuan PKK, Sukendi dan istrinya selalu berperan aktif memberikan penyuluhan pendidikan anak. Pertemuan PKK juga mengundang para ahli terkait pendidikan anak, sehingga bisa berdialog terkait problem-problem terkini yang dihadapi anak.
“Kalau saya bicara sendiri, kurang lengkap. Maka kita juga mengundang para ahli untuk menjelaskan kondisi pendidikan dan tantangannya. Alhamdulillah, warga sangat senang. Ibu-ibu muda yang mempunyai anak usia PAUD dan SD juga selalu kita ajak diskusi terkait perkembangan pendidikan anak-anaknya.” Tegas Sukendi.
Selain menjadi Ketua RT, Sukendi juga pengurus Takmir Masjid di kampungnya. Tahun 2018 ini, Sukendi bersama semua pengurus takmir masjid dan ibu-ibu jama’ah pengajian, mendirikan PAUD Masjid Azzahrotun.
“Karena kita selalu mengajak anak-anak belajar di masjid, maka warga kampung akhirnya sepakat mendirikan PAUD berbasis masjid. Warga kampung ingin mendidik anak-anaknya sekaligus mengajari anaknya suka berjama’ah di masjid. Kalau sudah di masjid, anak-anak kan akhirnya mengikuti gaya hidup ala masjid. Ini sangat bagus, mereka akan biasa berjama’ah dan mengaji usai magrib di masjid.”

Budiono, salah satu pengurus Takmir Masjid, juga sangat senang dengan gerakan mendirikan PAUD berbasis masjid ini.
“Ini memudahkan warga dan memberikan rasa nyaman bagi warga. Karena warga juga sekaligus belajar agama di masjid. Tidak sedikit ibu-ibu yang juga ikut belajar membaca al-Qur’an sehabis magrib. Ini sangat bagus, antara anak dan orang tua sama-sama belajar,” tegasnya.
Dari kebersamaan warga ini, lanjut Budiono, kecanduan anak terhadap main handphone dan game online semakin berkurang. Anak-anak dengan nyaman bermain di masjid dan anak-anak diajari untuk selalu peduli dengan kebersihan masjid dan lingkungan.
“Memang tidak mudah untuk mendidik anak di jaman serba internet ini. Tapi langkah-langkah yang dilakukan Pak Sukendi menjadi energi buat masjid dan RT-RT di sini untuk terus berikhtiyar dalam mendidik anak. Alhamdulillah, selain anak-anak mengaji habis magrib, mereka juga banyak yang belajar di masjid habis isya’. Nanti kalau sudah jam 21.00 WIB, mereka akan pulang dan istirahat,” tegas Budiono.
Sukendi bersama pengurus RT dan pengurus Takmir Masjid sudah melakukan ini sejak tahun 2010. Saat itu, awal-awal tahun 2010 memang belum sedahsyat sekarang terkait teknologi, tetapi semangat menjaga anak-anak tak pernah berhenti diikhtiyarkan. Saat ini, anak-anak mulai tumbuh dengan semangat belajar tinggi, juga tidak sedikit yang bisa masuk sekolah favorit negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penulis: Muhammadun, warga RT 06 Wonocatur Banguntapan Bantul.








