Kunci Sukses Santri, Belajar Tekun dan Salat Hajat

Sowan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof.Dr.KH. Asep Saifuddin Chalim, MA

Bangkitmedia.com, MOJOKERTO – Rombongan alumnus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Sabtu-Ahad (7-8/12/2024) mengadakan “Rihlah Ilmiyah” ke beberapa Pesantren di Jawa Timur. Salah satunya Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr KH Asep  Saifuddin Chalim MA, saat menyambut rombongan menyatakan ingin tahaddus binni’mah atas anugerah Allah swt. yang begitu melimpah selama ini. Dari mulai nol tidak punya apa-apa pesantren yang dirintisnya, kini menjadi Pesantren dan Lembaga pendidikan yang disegani, baik di Tanah Air, bahkan dunia pendidikan internasional.

Pada tahun 1980, Kyai Asep menikah dengan Nyai Hj. Fadilah dan dikaruniai 9 orang putra dan putri, yang bernama M. Albarra (Bupati Mojokerto), Imadatussaadah, Fatimatuzzahroh, Muhammad Ilyas, Hanatussaadah, Muhammad Habiburrahman, Muhammadul Azmi Al-Mutawakkil Alallah, Siti Juwairiyah, Muhammad Abdul Chalim Sayyid Dhuha. Terlahir dari keturunan NU tulen.

Kyai Asep memang bernasab sebagai seorang Kyai. Hal ini dapat dilihat dari ayahandanya Kyai Abdul Chalim yang banyak disinggung dan dihubungkan dengan berdirinya NU. Karena Kiai Abdul Chalim adalah seorang tokoh nasionalis yang banyak membantu para pendiri NU, yakni KH. Hasyim Asy’ary dan KH. Wahab Chasbullah.

Kyai Asep yang kini sebagai ketua PERGUNU (Persatuan Guru Nahdatul Ulama), juga bukan merupakan sosok pemimpin yang otoriter, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dari pada kelompok dan hanya mementingkan keputusan pribadi. Namun beliau adalah sosok pemimpin yang demokratis yang mementingkan tujuan bersama agar tercapainya tujuan secara maksimal.

Suasana akrab dan khusu’ ketika mendapat ijazah Kyai Asep Saifuddin Chalim.

Pada awal tahun 1974, Kyai Asep berkelana ke berbagai kota di Jawa untuk mencari pengalaman dan menimba ilmu. Di antara kota yang menjadi saksi atas perjuangan hidupnya adalah Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bandung, Jakarta, Banten, Palembang dan terakhir di Surabaya. Banyak yang dilakukan Kyai Asep dalam perjalanan itu, di Surabaya Kyai Asep pernah menjadi kuli bangunan, bahkan juga pernah jadi juru tagih di Bandung.

Kyai Asep juga pernah mengenyam pendidikan di beberapa pondok pesantren, di antaranya: Pondok Pesantren Cipasung Jawa Barat, Pondok Pesantren Sono Sidoarjo, Pondok Pesantren Siwalanpanji Sidoarjo, Pondok Pesantren Gempeng Bangil, Pondok Pesantren Darul Hadir Malang dan yang terakhir Pondok Pesantren Sidosermo Surabaya.

“Kunci keberhasilan santri-santri saya adalah salat hajat dua belas rakaat, tiap dua rekaat salam dan ditutup dengan witir tiga rakaat dengan berjamaah yang saya imami sendiri, kemudian dilanjut dengan saat sunat Fajar dan salat Subuh berjamaah. Ini yang saya kerjakan secara rutin bersama santri-santri.” ujarnya Kyai Asep

“Jangan sampai engkau lewatkan waktu malam itu tanpa salat hajat, karena itu waktu dan amaliyah yang sangat istimewa, termasuk salat sunat Fajar dan Salat Subuh berjamaah. Bila diakukan secara istiqomah,  insyaallah semua kebutuhan kalian baik di dunia maupun akhirat akan dipenuhi dan ditanggung oleh Allah swt” sabungnya.

Akhirnya rombongan keluarga alumni Krapyak  mendapat berbagai bingkisan sarung, jilbab dan sejumlah buku tentang Pesantren Amanatul Ummat, juga ijazah dan doa dari Kyai Asep,….. Qobiltu. (Arif Faozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *