Jawaban Rais Syuriah PCNU Bantul atas Pengkafiran Maulid Nabi

14 Contoh Kemesraan dan Keromantisan Nabi Muhammad SAW

Posted on

Baginda Nabi Saw adalah tipe suami yang sangat romantis.

Ada empat belas contoh kemesraan dan keromantisan beliau saw. Yaitu sebagai berikut :

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

1. Menempelkan Mulut pada Bekas Makan dan Minum Istri

Sayyidah Aisyah ra berkata :

إن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليؤتى بالإناء فأشرب منه وأنا حائض ثم يأخذه فيضع فاه على موضع في وان كنت لآخذ العرق فآكل منه ثم يأخذه فيضع فاه على موضع في.

Terkadang Rasulullah saw disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid.

Lantas Rasulullah saw mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku.

Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah saw mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.(HR Ahmad)

Kemesraan jenis ini tentunya melebihi kemesraan sepiring berdua.

2. Mengusap Air Mata Istri. Anas Bin Malik ra berkata :

كانت صفية مع رسول الله صلى الله عليه وسلفي سفر وكان ذلك يومها فأبطت في المسير فاستقبلها رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي تبكي وتقول حملتني علي بعير بطئ فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح بيديه عينيها.

Suatu ketika Shofiyah bersama Rasulullah saw dalam perjalanan. Sedangkan hari itu adalah bagiannya. Tetapi Shofiyah sangat lambat sekali jalannya, lantas Rasulullah saw menghadap kepadanya sedangkan ia menangis dan berkata, ‘Engkau membawaku di atas unta yang lamban.’ Kemudian Rasulullah Saw menghapus air mata Shofiyah dengan kedua tangannya. (HR Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra)

3. Kecupan Mesra.
Diriwayatkan Sayyidah Aisyah ra berkata :

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قبل بعض نسائه مص لسانها.

Sungguh Nabi saw ketika mencium salah satu istrinya, beliau mengecup lidahnya. (HR Maqdisi dalam Dzakhiratul Huffazh)

4. Mandi Bersama.
Sayyidah Aisyah ra, ia berkata :

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ » رواه البخاري ومسلم وزاد ابن حبان « وتلتقي أيدينا.

Dahulu aku mandi junub bersama Rasulullah saw dari satu bejana di mana tangan kami bergantian (mengambil air) di dalamnya. (HR Bukhari, Muslim)

Ibnu Hibban menambahkan “Sedangkan tangan kami saling bertemu (bersentuhan).”

5. Tiduran di Pangkuan Istri.

Sayyidah Aisyar ra meriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ رَأْسَهُ فِي حِجْرِي فَيَقْرَأُ وَأَنَا حَائِضٌ.

Rasulullah saw meletakkan kepalanya di pangkuanku kemudian membaca (Al-Qurán) sedangkan aku dalam keadaan haid. (HR Abu Dawud, Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah).

6. Disisir Istri Sayyidah Aisyah ra. berkata:

كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا حَائِضٌ

Aku menyisir rambut Rasulullah saw sedangkan aku dalam keadaan haid. (HR Bukhari dan Muslim)

7. Membelai Istri.

Diriwayatkan dari Urwah Bin Zubair ra, ia meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra, ia berkata:

قلما كان يوم – أو قالت قل يوم – إلا كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يدخل على نسائه فيدنو من كل امرأة منهن فى مجلسه فيقبل ويمس من غير مسيس ولا مباشرة » قالت « ثم يبيت عند التى هو يومها.

Hampir setiap hari Rasulullah saw mengunjungi semua istrinya, lantas mendekatinya satu per satu di tempatnya (rumah). Kemudian Rasulullah saw mencium dan membelainya tanpa bersetubuh atau berpelukan.” Aisyah berkata, “Lantas beliau menginap di (rumah) istri yang mendapat gilirannya.” (HR Daruquthni, Imam Ahmad, Imam Al-Hakim, Abu Dawud, dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir)

8. Ladies First. Ladies First adalah istilah pelayanan optimal untuk seorang wanita, di mana suami membukakan pintu, mendahulukan, mempersilakan dan lain- lainnya.

Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah saw kepada istrinya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dalam sebuah hadits perjalanan pulang dari penaklukan Khaibar:

خَرَجْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَوِّي لَهَا وَرَاءَهُ بِعَبَاءَةٍ ثُمَّ يَجْلِسُ عِنْدَ بَعِيرِهِ فَيَضَعُ رُكْبَتَهُ فَتَضَعُ صَفِيَّةُ رِجْلَهَا عَلَى رُكْبَتِهِ حَتَّى تَرْكَبَ

Kami keluar menuju Madinah.” Anas berkata, “Aku melihat Rasulullah saw menyiapkan tempat duduk Shafiyah di belakangnya dengan kain, kemudian ia duduk di dekat untanya dan memosisikan lututnya, lantas Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga naik (ke unta).” (HR Bukhari).

9. Panggilan Khusus Rasulullah saw suka memanggil Sayyidah Aisyah dengan panggilan kecil:

« يَا عَائِشَ » « يَا عُوَيْش »

“Ya Aisy, Ya Uwaisy”

(HR Bukhari, Muslim, Ibnus Sunni)

Panggilan yang pertama merupakan pemenggalan huruf akhir.

Sedangkan yang kedua adalah pemenggalan huruf akhir sekaligus panggilan kecil.

Dalam kultur Arab pemenggalan huruf akhir dan panggilan kecil menunjukkan panggilan manja/tanda sayang.

Bukan hanya memenggal huruf akhir atau panggilan kecil, Rasulullah saw juga mempunyai panggilan khusus untuk Sayyidah Aisyah ra sebagaimana dalam banyak riwayat hadits.

(Ibn Majah, An-Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra,, At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Al-Hakim, dan lain-lain).

Baca Juga >  Keluarga Maslahat: Dari Nikah Anak sampai Tragedi Kekerasan (03)

Rasulullah saw memanggil Sayyidah Aisyah ra dengan panggilan :

Humaira’ (حميراء)

yang memiliki arti “putih kemerah-merahan”.

Ibnul Atsir menyebutkan dalam An-Nihayah (1/1044):

كان يقول لها أحيانا يا حُمَيْراء تَصْغير الحَمْراء يريد البَيْضاء

Rasulullah saw sering memanggilnya (Aisyah) dg panggilan ‘Ya Humaira’ yang merupakan bentuk tasghir (panggilan kecil) dari ‘Hamra’ (merah) sedangkan yang dimaksud adalah putih kemerah- merahan..

Ibnul Jauzi menyebutkan dalam Kasyful Musyukil, juz I, halaman 1202.

والعرب تقول امرأة حمراء أي بيضاء.

Orang Arab berkata, ‘Wanita yang merah,’ artinya putih.”

Qadhi Iyadh menyebutkan dalam Masyariqul Anwar, juz I, halaman 702.

قوله لعائشة يا حميراء تصغير إشفاق ورحمة ومحبة.

Perkataan beliau kepada Aisyah ‘Ya Humaira’ adalah bentuk tasghir (panggilan kecil) kasih sayang dan cinta.

10. Mengantar Pulang Istri

Diriwayatkan dari Ali bin Husein ra, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَعِنْدَهُ أَزْوَاجُهُ فَرُحْنَ فَقَالَ لِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ لَا تَعْجَلِي حَتَّى أَنْصَرِفَ مَعَكِ.

Suatu ketika Nabi SAW berada di masjid (Nabawi), sedangkan istri-istrinya ada di dekatnya kemudian mereka pulang. Rasulullah berkata kepada Shafiyah binti Huyay ra : ‘Jangan buru-buru agar aku bisa pulang bersamamu.’
(HR Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan:

أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَ.

Sungguh Shafiyah istri Nabi saw
mengabarkannya (Husein bin Ali) bahwa ia mendatangi Rasulullah saw yang sedang i’tikaf di masjid (Nabawi) pada 10 hari terakhir Ramadhan. Kemudian ia berbincang dengan Nabi beberapa waktu lantas berdiri untuk pulang. Kemudian Nabi saw berdiri dan pulang bersamanya.” (HR Bukhari]).

11. Mengajak Istri Bila Hendak Pergi Keluar Kota.

Rasulullah saw bila hendak melakukan bepergian keluar kota selalu membawa salah satu istrinya dengan cara diundi, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra Ia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ.

Rasulullah saw itu ketika hendak melakukan bepergian mengundi di antara istri-istrinya. Siapa pun undiannya yang keluar, maka beliau akan pergi bersamanya.(HR Bukhari dan Muslim)

12. Keluar, berjalan di waktu malam dan berbincang- bincang dg sang istri.

Sayyidah Aisyah ra meriwayatkan sebuah hadits yg cukup panjang yg menceritakan tentang kebiasaan Rasulullah saw saat berada di luar kota bersama istrinya. Diantaranya beliau ra mengatakan :

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ بِاللَّيْلِ سَارَ مَعَ عَائِشَةَ يَتَحَدَّثُ.

Bila malam tiba, maka baginda Nabi saw keluar berjalan bersama Sayyidah Aisyah ra dan berbincang- bincang dengannya.(HR Bukhari dan Muslim).

13. Mengajak Istri Makan di Luar.

Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:

أن رجلا فارسيا كان جارا للنبي صلى الله عليه وسلم وكانت مرقته أطيب شي ريحا فصنع طعاما.
ثم أتى النبي صلى الله عليه وسلم فأومأ إليه أن تعال وعائشة جنبه.
فقال صلى الله عليه وسلم: “وهذه معي” وأشار إلى عائشة فقال لا . قال ثم أشار إليه فقال: “وهذه معي” قال لا.
ثم أشار إليه الثالثة فقال وهذه معي وأشار إلى عائشة فقال نعم..

Seorang lelaki Persia yang merupakan tetangga Nabi saw mempunyai kuah kaldu paling sedap.
Kemudian dia membuat makanan dan mendatangi Nabi saw lantas mengundangnya untuk makan, sedangkan Sayyidah Aisyah ra berada di samping Nabi saw.

Kemudian Nabi saw berkata, ‘Yang ini bagaimana?’

Ia menunjuk Aisyah dan berkata, “Tidak”

Kemudian memberi isyarat kepadanya, “Bagaimana dengan ini?”

Dia berkata, “Tidak.”

Kemudian Nabi memberi isyarat yang ketiga kalinya dan bersabda, “Ini bersamaku?” Kemudian ia berkata, “Ya.”

(HR Ibnu Hibban, Abu Ya’la, dan Darimi)

14. Selalu Berusaha Untuk Meredekan Amarah Istri Dengan Romantis

Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah meriyawatkan dari Sayyidah Aisyah RA:

كان إذا غضبت عائشة عرك النبي صلى الله عليه وسلم بأنفها وقال : يا عويش قولي : اللهم رب محمد اغفر لي ذنبي ، وأذهب غيظ قلبي ، وأجرني من مضلات الفتن

Ketika Aisyah marah, maka Nabi saw mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah, ‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.’

Dengan demikian, maka kita dapat melihat bahwa Rasulullah SAW adalah pribadi yang romantis, mesra, dan sangat pengertian kepada istrinya.

Wallahu a’lam. Semoga manfaat.

Disadur dari tulisan sdr. Imam Abdullah El-Rashied, Alumnus Fakultas Syariah–Imam Shafie College, Mukalla, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman.

Penulis: Habib Muhdlor Ahmad.