Waketum PBNU Prof Maksum: NU Harus Lawan Dua Model Penjajahan

prof maksum pbnu

Berita NU, BANGKITMEDIA.COM

YOGYA- Sejak awal berdiri, NU selalu berada paling depan dalam melawan dua model penjajahan. NU tak pernah rela melihat bangsa ini dalam ketertindasan kaum kolonial. Demikian juga NU tak pernah rela kaum beragama yang justru saling mengafirkan. NU itu moderat, merangkul semuanya dalam kerangka NKRI.

Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Muhammad Maksum Mahfudz  dalam acara pelantikan PCNU Kota Yogyakarta masa khidmat 2018-2023 di Pesantren Nurul Ummah Putri, Kota Gede Yogya, Ahad (29/04).

“Penjajahan dalam hal keagamaan itu sudah ada sejak dulu, sebelum NU lahir. Ada kelompok yang suka sekali mengafirkan sesama. Sebenarnya mereka itu ingin memecah belah kita dalam bentuk keagamaan (diniyyah). Ini penjajahan sejak dulu, mereka ingin merusak persaudaraan dalam keagamaan kita,” tegas Prof Maksum yang juga Guru Besar UGM.

“Ada juga penjajahan watoniyyah atau kenegaraan. Penjajahan ini dilakukan oleh bangsa kolonial. NU didirikan untuk merespon dua bentuk penjajahan tersebut. Dengan demikian, sebagai konsekuensi watoniyahnya adalah kita harus menerima dan mengamalkan Pancasila dan menjaga keutuhan NKRI. Hari ini dua penjajahan itu masih ada, sehingga khidmat diniyah dan watoniyah NU harus selalu dikedepankan untuk melawan penjajahan tersebut,” lanjut Prof Maksum.

Prof Maksum juga mengajak warga NU Yogya untuk meneladani perjuangan KH. Asyhari Marzuqi yang pernah menjadi Rais Syuriah PWNU DIY dan juga Pengasuh Pesantren Nurul Ummah Kota Gede.

Dalam sebuah majlis, lanjut Prof Maksum, Kiai Asyhari pernah  mengajukan sebuah pertanyaan yang reflektif: “Apakah NU di Kota Yogyakarta masih ada?”

“Ini pertanyaan sederhana dari Kiai Asyhari Marzuqi. Tapi pertanyaan ini maknanya sangat mendalam, menjadi pekerjaan besar Pengurus PCNU Kota Yogya sejak dulu sampai sekarang. Pertanyaan tersebut juga wasiat dari Kiai Asyhari Marzuqi untuk menjaga eksistensi NU di Kota Yogyakarta,” tegas Prof Maksum.

Prof Maksum juga menyinggung soal gagasan Kiai Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU 1999-2014, yang menyatakan bahwa khittah ada dalam titik keberagamaan dan titik kesejahteraan. Titik keberagamaan menyangkut amaliyah yang menjadi ciri khas NU, sedangkan kesejahteraan merupakan khittah perjuangaan kenegaraan dalam menegakkan NKRI.

“Apa yang ditegaskan Kiai Sahal ini harus dilanjutkan dan diperjuangkan. Mayoritas warga kita saat ini tidak bisa lagi berwasiat untuk dimakamkan di mana jika meninggal dunia, karena tidak memiliki lahan akibat kepemilikan penjajah terhadap bangsa kita, baik model penjajah klasik dan modern saat ini,” lanjutnya.

“Sekarang ini, usia NU sudah 95 tahun. 5 Tahun lagi akan memasuki 1 abad NU. Mari kita songsong dengan penuh semangat sebagaimana perjuangan para pendiri NU yang luar biasa,” pungkasnya. (amru)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *