Tiga Macam Madin NU dan Standar Pengelolaannya
Madrasah Diniyah (Madin) NU terdiri dari tiga macam. Pertama, Madin yang dikelola di pesantren dengan kurikulum mandiri yang sangat tinggi target intelektualitasnya. Targetnya adalah tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama) yang mempersiapkan lahirnya فقيه في مصالح ااخلق faqiih fi mashalihil khalqi (paham, peka dan peduli terhadap kemaslahatan dan kesejahteraan makhluk).
Kedua, Madin yang lokasinya dekat dengan pesantren dengan personel/ SDM pengurus dan guru yang lekat dengan tradisi pesantren. Kurikulum Madin ini hampir sama dengan Madin pesantren, tapi target utamanya bukan tafaqquh fiddin dalam arti melahirkan ulama masa depan. Tapi lebih memperkuat ideologi Aswaja An-Nahdliyyah dan mengagungkan kemuliaan akhlak (makarimul akhlak).
Diharapkan alumni Madin ini meneruskan studi di pesantren untuk mendalami dan mengembangkan ilmu agama sebagai penerus para kiai. Madin ini biasanya terdiri dari Madin Awaliyyah: 6 tahun, Wustha: 3 tahun, dan Ulya: 3 tahun.
Ketiga, Madin yang ada di kampung-kampung, yang jauh dari pesantren. Target utamanya adalah memperbaiki Akhlakul Karimah dan memperkuat ideologi Aswaja An-Nahdliyyah. Madin ini biasanya terdiri dari: Madin Awaliyyah: 4 tahun (mulai kelas 3 – 6 MI/SD), Wustha: 2 tahun, dan Ulya: 2 tahun. Prakteknya banyak yang hanya selesai di Awaliyyah.
RMI: Konsultan dan Fasilitator Madin NU
RMI NU dengan ketiga macam Madin NU di atas memposisikan dirinya sebagai fasilitator dan konsultan Madin tanpa intervensi, khususnya dalam hal kurikulum terlalu dalam. Kurikulum menjadi otonomi masing-masing Madin. RMI NU hanya memberikan panduan sebagai rujukan yang sifatnya optional, tidak keharusan.
Tugas RMI NU dalam hal ini adalah:
Pertama, membuat tiga macam Madin NU di atas mau bergabung dalam wadah RMI NU untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama dalam rangka mendidik kader-kader masa depan NU.
Kedua, menitipkan dua mata pelajaran utama yang menjadi ciri khas Madin NU, yaitu; Aswaja An-Nahdliyyah dan paham kebangsaan atau nasionalisme (حب الوطن من الايمان).
Ketiga, memberikan panduan tata kelola Madin, baik dalam konteks kelembagaan, sumber daya manusia, administrasi, keuangan, dan jejaring sosial. Panduan kurikulum juga dilampirkan sebagai salah rujukan yang sifatnya optional, bukan pemaksaan.
Keempat, membuat langkah-langkah taktis menuju soliditas Madin NU, antara lain:
- Legalisasi Madin NU
- Pembuatan soal khusus mapel Aswaja
- Penerbitan ijazah
- Menyelenggarakan Wisuda Kolektif tanpa menghilangkan wisuda setiap lembaga Madin di daerah.
- Papanisasi Madin NU
- Memfasilitasi kegiatan pengembangan Madin, seperti lomba
- Membantu akses dana
8+1 Standar Pengelolaan Madin
Madin NU dikelola dengan memperhatikan 8 standar plus 1: Pertama, standar kompetensi lulusan (sudah dijelaskan edisi kemarin). Kedua, standar pendidik dan tenaga kependidikan (sudah dijelaskan kemarin). Ketiga, standar pembiayaan (menjadi pertanyaan banyak pihak). Kemampuan memaksimalkan pendapatan dari Siswa, APBD, dan Baznas harus ditingkatkan.
Keempat, standar sarana prasarana. Standar ini masih harus ditingkatkan, mengingat pendapatan yang masih harus dikembangkan. Kelima, standar isi yang biasanya mencakup visi, misi, tujuan, strategi, profil lulusan, prospek masa depan, dan cakupan kurikulum secara lengkap. Keenam, standar proses yang berisi kewajiban guru membuat silabus, SAP, dan kewajiban administrasi lainnya, seperti mengisi jurnal, absen, dan lain-lain.
Ketujuh, standar pengelolaan yang menggunakan prinsip manajemen berbasis madrasah dengan mengupayakan sinergi seluruh stake holders. Kedelapan, standar penilaian, yang mencakup dimensi efektif (perilaku), kognitif (intelektual), dan psikomotorik (skill praktis profesional).
Selain standar ini ditambah dengan standar kesembilan, yaitu standar ke-NU-an, yang mengokohkan ideologi Aswaja Nahdliyyah yang harus melekat pada jiwa guru, siswa, wali murid, dan seluruh stake holders yang berkepentingan.
Saatnya Madin NU setara dengan Madrasah lain.
Demikian Tiga Macam Madin NU dan Standar Pengelolaannya. Semoga bermanfaat.
(Jamal Ma’mur Asmani, Pengurus PW RMI-NU Jateng)









Saya ingin mengebangkan sistem ini di daerah saya