Tidak Segera Mati, Hewan Kurban Disembelih Lagi: Halal atau Haram?

Posted on

Oleh: Ahmad Muntaha AM, sekretaris LBM PWNU Jawa Timur.

Gegara satu dan lain hal, saat orang menyembelih hewan kurban atau lainnya, terkadang tenggorokan atau saluran pernapasannya belum terputus, sehingga tidak segera mati. Akhirnya terpaksa disembelih lagi.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Memang seperti itu sembelihannya sah dan dagingnya halal dimakan?

Sekira hewan sembelihan masih mempunyai kehidupan normal (hayat mustaqirrah) dengan tanda:

1) dapat bertahan satu atau dua hari, atau

2) gerakan, pandangan dan suaranya masih sewajarnya, kemudian segera disembelih lagi secara sempurna, maka sembelihannya memenuhi syarat dan dagingnya halal dimakan.

Lain halnya bila kondisinya sudah hampir mati, meronta-ronta selayaknya hewan yang sudah disembelih, lalu nekat disembelih lagi, maka sembelihannya tidak memenuhi syarat, dagingnya menjadi bangkai dan haram dimakan.

Nah sekarang kalau penyembelih ragu, apakah sembelihannya memenuhi syarat atau tidak, sehingga dagingnya halal atau haram?

Maka dalam kasus terakhir ini, dagingnya halal, karena hukum asal proses penyembelihannya dianggap telah memenuhi syarat. Syaikh Sulaiman Al Bujairami menerangkan:

ولو شك بعد وقوع الفعل منه هل هو محلل أو محرم، فهل يحل ذلك أو لا؟ فيه نظر. والأقرب الأول لأن الأصل وقوعه على الصفة المجزئة.

“Andaikan setelah selesai orang ragu, apakah penyembelihannya menghalalkan atau justru mengharamkan hewan sembelihan? Apakah sembelihannya itu halal atau tidak? Dalam kasus ini perlu pengkajian. Pendapat yang mendekati kebenaran adalah yang pertama, sembelihannya halal, karena hukum asal penyembelihannya terjadi sesuai dengan penyembelihan yang memenuhi syarat-syaratnya.”

Baca Juga >  Benarkah Semua Perbuatan Nabi Itu Sunnah Yang Wajib Kita Ikuti?

____
Sumber: Muhammad as Syirbini Al Khatib dan Sulaiman bin Muhammad Al Bujairami, Al Iqna’ dan Tuhfatul Habib, V/188:

(والمجزئ منها) اي الأربعة المذكورة في الحل (شيئان) وهما (قطع) كل (الحلقوم والمريء) مع وجود الحياة المستمرة أول قطعهما، لأن الذكاة صادفته وهو حي، كما لو قطع يد حيوان ثم ذكاه. فإن لم يسرع قطعهما ولم يكن حياة مستقرة، بل انتهى لحركة مذبوح لم يحل، لأنه صار ميتة فلا يفيده الذبح بعد ذلك.

(قوله: فإن لم يسرع قطعهما) … ولو شك بعد وقوع الفعل منه هل هو محلل أو محرم، فهل يحل ذلك أو لا؟ فيه نظر. والأقرب الأول لأن الأصل وقوعه على الصفة المجزئة.