Prof Dr Rochmat Wahab, Ketua PWNU DIY 2011-2016.
Wacana tentang anak (siswa/mahasiswa) milenial dewasa ini mengisi di semua sudut ruang publik. Yang kita tangkap lebih banyak muncul sebagai sebutan yang dialamatkan kepada anak-anak (dari usia dini hingga remaja) yang sedang mengalami kehidupan di era ini.
Kita tidak bisa biarkan mereka berlalu secara alamiah tanpa sentuhan edukatif yang berarti. Kita sebagai orang dewasa atau yang concern tentang pendidikan sangat berkepentingan untuk mengetahuinya lebih detil tentang mereka dan penanganannya.
Siapa anak milenial itu? Mereka adalah yang memiliki rentang perhatian yang lebih pendek, yang lebih suka kegiatan interaktif, belajar berdasarkan pengalaman, belajar kolaboratif, dan lebih nyaman menggunakan teknologi. Artinya bahwa anak-anak sekarang cenderung dituntut untuk belajar yang membutuhkan waktu pendek dan variasi media untuk mengatasi kebosanan, belajar yang sarat dengan praktek untuk mengatasi masalah, belajar kelompok untuk bisa sharing, dan memanfatkan jasa teknologi, terutama teknologi informasi. Jika kita perhatikan kondisi ini, mereka cenderung lebih banyak berbuat terkait dengan aktivitas pengajaran daripada aktivitas pendidikan. Inilah tugas besar untuk menegakkan pendidikan yang memanusiakan.
Selain daripada itu perlu juga diketahui karakteristik anak milenial dalam perspektif lain, yang di antaranya: multitasking, terkoneksi (dengan jaringan/media), cerdas teknologi (techno-savvy), suka penghargaan spontan, keseimbangan hidup-kerja dan fleksibitas, kolaborasi, transparansi, dan pengembangan karir. Berdasarkan potensi dan sifat yang melekat pada anak milenial, yang melek digital, kita tidak bisa memisahkan mereka dari dunia kertebukaan yang memungkinkan interkonrksi terjadi. Yang penting bagaimana anak-anak bisa memiliki filter yang efektif, sehingga bisa selamat dari gerusan demoralisasi.
Untuk menyiapkan anak-anak memasuki era melenial, kita perlu upayakan secara optimal:
(1) membekali anak milenial dengan kecakapan Abad ke-21.
(2) guru ditantang terus untuk meng-update penguasaan teknologi dan menerapkannya di kelas.
(3) menerapkan metodologi rekonstruksionism dengan mengimplementasikan STEAM.
(4) menggunakan pendekatan praktikum dalam pembelajaran perlu dilakukan untuk tingkatan kecakapan menyesaikan masalah dan inovasi.
(5) mengupayakan pembelajaran yang juga menekankan learning by making, bukan sekedar learning by doing.
(6) mengusahakan secara sungguh-sungguh pembelajaran yang mengakomodasi dampak penyerta (nurturant effect) yang terkait aspek non kognitif, di samping instructional effect.
(7) memberikan keteladan perilaku beragama untuk menjawab melemahnya keagamaan anak milenial yang menjadi kecenderungan global.
Persoalan begitu kompleks anak milenial yang terkait dengan isu pendidikan perlu dihadapi dengan strategi yang tepat, sehingga dapat diperoleh dampak positif yang lebih banyak daripada dampak negatifnya. Kita bisa adopsi dari negara lain, namun harus dimodifikasi, sehingga hasilnya optimal. Tentu paranan pendidik (orangtua/guru) sangatlah penting untuk melakukan transformasi, sehingga mampu mengantarkan anak untuk menghadapi tantangan pada jamannya.
Jakarta, 23/02/2019.