Karena doa itu ibadah, maka setiap orang berdoa harus memiliki adab-adab kepada Alloh. Imam al-Ghozali membahas dalam Ihyâ’, pada Kitab al-Adzkâr wad Da`awât, di bab Fî Âdabid Du`â’ menjelaskan 10 jenis, setelah menelaah hadits-hadits Kanjeng Nabi dan pendapat-pendapat para imam ahli ibadah. Saya merujuk dengan menggunakan kitab Ithâfu Sâdatil Muttaqîn bi Syarhi Ihyâ’i `Ulûmiddin (Dar Fikr, Beirut, t.t., V: 27-dst), karangan Sayyid Muhammad bin Muhammad al-Husaini az-Zubaidi yang dikenal Murtadho az-Zubaidi, yaitu:
- Memilih waktu-waktu tertentu, seperti hari Jumat, hari Arofah, bulan Romadhon, waktu sahr di malam hari.
- Mengambil keutamaan dari keadaan yang mulia atau dimuliakan Alloh seperti saat hujan deras turun, waktu menunggu sholat jamaah, waktu berjihad, waktu antara adzan dan iqomat.
- Menghadap kiblat dan mengangkat tangan sampai hampir ketiaknya terlihat.
- Merendahkan suara, di antara jahr dan khafi.
- Bedoa dengan tadhoru’, jangan memaksakan dengan perkataan berbunga-bunga.
- Berdoa dengan penuh harap, dengan merendah kiri di hadapan-Nya.
- Yaqin bahwa Alloh akan mengabulkan doanya. Bahwa kapan terkabul-Nya memang hak Alloh.
Imam Sufyan bin Uyainah saja mengatakan bahwa Iblis saja doanya dikabulkan Alloh:
“Janganlah seseorang mencegah kalian untuk berdoa dengan apa yang diketahuinya tentang Alloh, karena Alloah akan menerima doa dari makhluk terburuk sekalipun, yaitu Iblis ketika berdoa: “Ya Alloh beri tangguhlah aku –untuk bisa menggoda manusia- hingga hari kiamat, dan Alloh berfirman: “Sesungguhnya engkau (Iblis) termasuk orang-orang yang diberi tangguh (yang bermakna doanya dikabulkan” (dalam Imam Murtadho az-Zubaidi, Itahâfus Sâdatil Muttaqîn, V: 39).
- Memohon dengan sungguh-sungguh, sampai tiga kali, dan tidak tergesa-gesa minta dikabulkan. Al-Ghozali meriwayatkan bahwa seorang ahli ibadah dan ahli hikmah saja ada yang 20 tahun berdoa dan baru Alloh mengabulkan doanya.
- Jangan langsung berdoa, perlu berdizkir lebih dulu atau diawali dengan menyebut kesucian Alloh, pujian, dan sholawat kepada Kanjeng Nabi, baru setelah itu berdoa. Dan kalau ada tanda-tanda diijabahi hendaklah mengucapkan pujian kepada Alloh, syukur.
- Adab-adab batiniahnya dilakukan, seperti bertaubat, tidak suka menyebarkan fitnah, dan mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi, tidak dalam keadaan bersuci, makan dengan makanan yang haram, tidak menumpahkan darah, ikhlas, dan lain-lain
Adab yang dilakukan tiga orang dari umat dahulu, yang diceritakan hadits di atas, salah satunya adalah: pertama, “perhatikanlah amalan-amalan shaleh yang pernah engkau lakukan karena mengharapkan ridho Alloh”. Hal ini menegaskan, adab doa karena dilandasi dengan amal batin, yaitu ikhlas dan mengharap ridho Alloh. Kedua, keyakinan bahwa Alloh mengabulkan dalam perkataan “semoga Alloh membebaskan kita dari goa ini.”
Bagi seorang yang bersuluk, kadang-kadang menghadapi keadaan malu untuk berdoa kepada Alloh, karena nikmat Alloh yang telah diberikan kepadanya, disadari sudah terlalu besar, sangat besar, misalnya Alloh mengeluarkannya dari maksiat, diberi hidup sehat, dan lain-lain.
(Nur Khalik Ridwan, Pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta)








