Santri Berkreasi Dengan Seni, Namun Juga Tak Lupa Mengaji

Santri Berkreasi Dengan Seni, Namun Juga Tak Lupa Mengaji

Santri Berkreasi Dengan Seni, Namun Juga Tak Lupa Mengaji

Bermusik di Kelilingi Kitab Salaf

Ananda Nugroho, seorang music engineer berlatar belakang santri tetap produktif meski di masa pandemi, berbagai tips dibagi melonjaknya jumlah konsumen hingga rupiah masuk pundi pundi.

Pelaku seni tak pernah mati kembali terbukti. Ide dan gagasan mengalir menyusuri ruang zaman tak bergantung keadaan. Masa pandemi yang umumnya menjadi pengahalang produkstifitas bagi banyak orang, tidak menyurutkan Ananda Nugroho untuk tetap berkarya.

Music Engineer, Otak-Atik Musik

Nanda, begitu panggilan akrabnya, adalah seorang music engineer. Sebagian orang mungkin masih asing dengan istilah music engineer. Music engineer merupakan profesi yang berhubungan dengan peralatan olah suara untuk menghasilkan alunan lagu seperti yang diinginkan. Tergolong seniman, Kang Nanda merupakan orang dibalik  recover atau aransemen ulang lagu, backsound film, maupun soundtrack iklan.

Di tahun 2018 bahkan Kang Nanda tergabung dalam tim yang menggarap iklan produk kopi Kapal Api. Karya gubahan musiknya bisa ditemukan dalam berbagai backsound film yang diunggah di youtube LQ Channel yang memiliki subscriber 12.200. Ya, Kang Nanda memang sudah nyantri di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah, Kotagedhe, Yogyakarta sejak tahun 2011.

Keseharian santri lulusan Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaji dan otak-atik musik. Debut nya sebagai produser, pencipta lagu, dan juga aransemen musik bisa dinikmati dalam lagu perdananya yang berjudul “Secercah Harapan”. Lagu ini bisa dinikmati di aplikasi Spotify dan juga youtube.

Santri Nyeni Tak Lupa Mengaji

Kata siapa seorang santri itu kolot, ketinggalan zaman, apalagi tidak mengerti perkembangan dunia musik? Kang Nanda menepis itu semua. Memang secara umum kita tahu bahwa kehidupan santri pesantren terikat dengan segala jadwal dan aturan, namun Kang Nanda tetap mampu berjalan beriringan antara jadwal mengaji dan produktif dalam menjalani profesi seniman.

Di dalam surau kecil dikelilingi jajaran loker pakaian dan kitab khas pesantren salaf dia tetap bergelut produktif dalam karya seni. Biasanya di waktu pagi hingga sore Kang Nanda mengisi waktu untuk berkarya. Tak jarang pula jika ia mencari suasana syahdunya malam, pukul 22.30 WIB setelah mengaji baru ia pegang alat-alat produksi musik sambil mencari inspirasi.

Pandemi, Kang Santri Tidak Berhenti Berkarya

Meski pada awalnya pandemi agak menyurutkan gelora produktifitas Nanda, namun ia harus tetap kreatif mengatasi keterbatasan yang ditimbulkan pandemi. Dalam meraup rupiah dari konsumen maupun apresiator seni, Nanda biasanya harus bertatap muka dengan mereka untuk diskusi bagaimana genre musik yang diharapkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan hingga mencapai kesepakatan.

Sejak masa pandemi ia mulai memanfaatkan sosial media baik untuk kebutuhan iklan ataupun negosiasi. Permintaan seni juga mengalami lonjakan saat masa pandemi. Hal ini mungkin disebabkan karena imbauan karantina dan PSBB sehingga orang butuh hiburan di rumah.

“Tiada yang susah selagi kita tahu celah. Hidup kadang keras, biar raga kita terbatas, namun kreatifitas tiada bendungan yang luas,” wejangan Kang Nanda sore itu di kamar pesantren. Santri yang memenangkan perlombaan juara 3 Hari Santri Nasional cabang cover sholawat dari Kementerian Agama pada tahun 2019 ini tidak mau menyerah dengan keadaan untuk tetap berkarya.

Demikian Santri Berkreasi Dengan Seni, Namun Juga Tak Lupa Mengaji. Semoga bermanfaat.

Oleh: Ahmad Jamaludin (Mahasiswa Semester 1 Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *