Prosesi pemberangkatan jenazah almarhum KH Munawir Abdul Fatah, dimulai sholat jenazah yang diimami KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir setelah sholat Jum’at di masjid Pondok Pesantren Munawwir, Jumat 28 Desember 2018. Kemudian setelah sholat jenazah dilanjutkan prosesi upacara.
Upacara diawali pembacaan suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari pihak keluarga yang di wakili KH. Dr. Hilmy Muhammad, kedua dari pihak pemerintahan Bantul disampaikan wakil Bupati Bantul KH. Abdul Halim Muslih, sedangkan dari PWNU DIY langsung disampaikan KH. Mas’ud Masduki selaku Rois Syuriah. Dari semua sambutan menyatakan kesaksiannya bahwa Kiai Munawir AF selama hidupnya adalah sosok kiai pedakwah yang santun dan sholeh.
Ribuan pelayat yang mengiringi prosesi pemakaman adalah para santri, warga sekitar, teman dekat, pejabat pemerintahan, dari PWNU DIY, juga semua Kiai, Bu Nyai, dan para santri Krapyak ikut membanjiri prosesi pemakaman. Almarhum dimakamkan di pemakaman Sorowajan, tepatnya di sebelah timur makam Kiai Zainal Abidin Munawwir. Antusias warga mengiringgi almarhum ini sebagai bukti bahwa jasa Kiai Munawir AF sebagai kiai dan guru yang begitu besar.
“Kiai Munawwir AF adalah pejuang dunia pendidikan selain itu beliau juga aktif menulis. Salah satu keistiqomahan beliau selama masih sehat selalu menulis kajian-kajian kitab yang dimuat di Majalah Bangkit, sebagai Majalah kebanggaan warga NU DIY,” tutur Kiai Mas’ud.
Memang benar Kiai Munawwir AF selama masih sehat selalu menyempatkan untuk menulis rubrik aswaja di Majalah Bangkit. Semangat literasi almarhum perlu kita jadikan motivasi lebih-lebih para kaum muda. Almarhum dalam mengajar supaya terus belajar mengimbangginya dengan menulis. Sebab dengan menulis maka kita akan selalu mengali bacaan-bacaan dari berbagai sumber. (red)








