Reporter: Marakhilda NH Siregar
Sleman, Bangkitmedia.com- Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama (NU) KH Miftachul Achyar mengingatkan akan pentingnya manusia untuk belajar namun didampingi dengan kontrol. Sebab katanya, ‘akeh wong pinter podo keblinger’.
“Mungkin ini yang dianggap pernah diramalkan Ki Ronggo Warsito, ‘akeh wong pinter podo keblinger’. Untuk tidak keblinger maka bismirobbik, karena bismirobbik ini adalah kebenaran. Sehingga benar dan pintar harus selalu bergandengan tangan. Dimana ada pintar harus di situ ada benar. Dan ini adalah cita-cita yang akan dilahirkan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta ini,” urai KH Miftachul Achyar saat memberikan sambutan pada Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-101 Nahdlatul Ulama (NU) di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Rabu (31/01/2024).
Beliau juga menambahkan bahwa gelar yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW adalah umat Iqra’. Artinya iqra memiliki perintah membaca namun tidak hanya sekedar membaca tulisan. Namun jauh lebih daripada itu, kemampuan membaca fisik maupun non fisik, membaca sekitar alam, membaca keadaan, membaca situasi2, memnbaca tanda-tanda langit, ayat kauniyah, itulah perintah yang ada dalam perintah Iqra’.
“Artinya umat Nabi Muhammad SAW harus punya kemampuan tanpa batas, dimana ada pengetahuan, dimana ada gelar – gelar pengetahuan, ambil, tapi jangan lupa ‘Iqra selalu bergandengan dengan bismirobbik. Kemampuan yang tanpa batas itu harus selalu didampingi dengan bismirobbik, sebagai pengendali dan pengontrol,” jelasnya.
Dilansir dari p2k.stekom.ac.id, KH Miftachul Akhyar (lahir 30 Juni 1953) merupakan seorang ulama yang menjabat Rais ‘Aam PBNU sejak 2018. Ia juga mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2020. Pada 9 Maret 2022, ia mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI karena ingin fokus menjadi Rais ‘Aam PBNU dan tidak ingin rangkap jabatan.
Selain itu, KH Miftachul Achyar juga merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Kyai Miftah tercatat pernah ‘nyantri’ di beberapa pesantren ternama, di antaranya Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah juga mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia. (*)








