nur sugi

Pengurus Lakpesdam PBNU: Ada Apa dengan Hati Nur Sugi Dkk?

Posted on

Berita, BANGKITMEDIA.COM

YOGYA- Semua pasti sedih dan berkabung dengan bencana yang menimpa saudara-saudara di Palu dan Donggala. Duka mereka adalah duka semua anak bangsa. Tapi ada saja sebagian anak bangsa yang tidak paham, bahkan ini dikaitkan dengan sosok ustadz bernama Nur Sugi Raharja yang biasa disapa Gus Nur.

Karena merasa gemes, Pengurus Lakpesdam PBNU Dr Suratno mengungkapkan ihwal hati Nur Sugi dkk yang masih tidak waras melihat bencana saudara sebangsa.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“HATI. Kadang gemess dan penasaran: itu orang-orang yang bilang gempa dan tsunami Palu gara-gara Gus Nur jadi tersangka (whattt??? Hellaaauwwssss Gus Nur yang suka njancuk2in Banser NU dan dari mulutnya keluar sumpah serapah dan penghuni bonbin), serta orang yang percaya dengan hal itu, hati mereka sebenarnya terbuat dari apa ya?,” kata Suratno yang juga Dosen Universitas Paramadina Jakarta, Senin (01/10) .

“Sungguh aneh karena orang-orang itu berpendidikan tinggi, tampilannya relijiyes, bahkan punya massa dll….,” lanjut Kiai Suratno.

Baca Juga >  Pidato Menristek Dikti dalam Peringatan  HUT  Ke-74  RI Tahun  2019

Kiai Suratno juga menegaskan bahwa sebelumnya juga ada yang bilang gempa Lombok NTB karena TGB/Tuan Guru Bajang dukung Jokowi untuk Pilpres 2019. Ya., orang-orang dan kelompok yang bilang begitu muternya di situ-situ aja sih.

“Kalau hati mereka sama dengan kita: sama-sama dari segumpal darah, kenapa yang muncul selalu antipati, no simpati dan empati? Orang Muslim diajarin “alaa inna fil jasadi mudghoh, fa idza solahat solahal jasadu kulluhu, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluhu.. wa hiya qolbun” ( ingetlah di dalam tubuh ada segumpal darah, kalau itu bagus maka baguslah semua tapi klo itu rusak maka rusaklah semuanya dan segumpal darah itu adalah hati).”

“Pertanyaannya adalah: kenapa hati orang bisa sedemikian rusak?” pungkas Dr Suratno yang pernah menjadi Ketua PCI NU Jerman.