Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh *
Pendidikan merupakan fenomena antropologis yang usianya setua dengan usia manusia itu sendiri. Aktivitas dunia pendidikan sejak awal telah menjadi cara bertindak manusia. Dengannya, manusia melanggengkan warisan budayanya. Kepada generasi yang lebih muda mereka mewariskan nilai-nilai yang menjadi bagian penting dalam kultur masyarakat tempat mereka hidup. Jika proses pewarisan itu tidak terjadi, nilai-nilai yang telah menghidupi masyarakat dan kebudayaan tersebut terancam punah dengan kematian para anggotanya.
Pendidikan berperan vital dalam menentukan keberlanjutan masyarakat dan mengukuhkan identitas individu masyarakat. Peran ini semakin strategis di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks di tengah percaturan arus informasi global. Gagal mensiasati tantangan globalisasi, maka pendidikan justru akan menjadi bumerang yang menyengsarakan masyarakat. Sebaliknya, pendidikan yang bisa mensiasati, maka akan mendapatkan impahan kemajuan informasi global, sehingga tercipta generasi unggul yang terus mewarisi harta kebudayaan bangsanya.
Tantangan arus global yang terus menggerogoti warisan kebudayaan dan warisan pendidikan bangsa perlu kita jawab. Penulis merasa resah bahwa arus global seringkali dimaknai secara sepihak dan parsial, sehingga bukannya malah meningkatkan mutu kecerdasan peserta didik, tetapi malah menjadikan peserta didik kehilangan identitas kebangsaan yang telah ditancapkan oleh para pendiri Republik ini. Identitas kultural kebangsaan merupakan warisan agung para pendiri bangsa yang terbukti mampu menjadikan Indonesia sebagai negara merdeka.
Bagi penulis, strategi pendidikan harus mampu menancapkan keteguhan bahwa hidup adalah perang melawan lupa. Jalinan strategi yang akan dirumuskan harus benar-benar menciptakan insan pendidikan yang bisa elawan lupa; jangan sampai lupa dengan warisan kultural bangsa, jangan lupa dengan berbagai penindasan yang membuat kita terlena, jangan lupa dengan berbagai tipuan yang penuh kepalsuan. Milan Kundera memaknai kehidupan sebagai sebuah kitab melawan lupa. Dalam arti, akumulasi pengetahuan dalam proses pendidikan mampu menciptakan kesadaran baru ihwal perjuangan membebaskan dari berbagai belenggu ketidakadilan dan kemunafikan.
Dalam konteks perang melawan lupa tersebut, perlu kita mewartakan gagasan pendidikan karakter. Bagi penulis, manusia adalah pengayat nilai. Melalui nilai-nilai manusia menera pengalaman masa lalunya, menghayati kehidupannya masa kini, dan menjawab tantangan kedepan bagi tugas penyempurnaan dirinya sebagai makhluq yang hidup bersama orang lain di dunia. Dalam lingkup ini, pendidikan karakter merupakan keseluruhan dinamika relasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati kebebasannya, sehingga dapat semakin bertangggungjawab atas pertumbuhan dirinya sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka.
Pendidikan karakter sebagai sebuah pedagogi memberikan tiga mantra penting setiap tindakan edukatif maupun campur tangan intensional bagi sebuah kemajuan dunia pendidikan. Mantra itu adalah mantra individu, mantra sosial, dan mantra moral. Mantra idividu menyiratkan dihargainya nilai-nilai kebebasan dan tanggungjawab. Nilai-nilai kebebasan inilah yang menjadi prasyarat utama sebuah prilaku bermoral. Yang menjadi subjek bertindak dan subjek moral adalah pribadi itu sendiri. Kebebasan itu bisa diwujudkan dengan kemampuannya mengambil keputusan. Dari keputusannya tercermin nilai-nilai yang menjadi bagian dari keyakinan hidupnya.
Mantra sosial mengacu pada corak relasional antara individu dengan individu lain, atau dengan lembaga lain yang menjadi cerminan kebebasan individu dalam mengorganisir dirinya. Sementara mantra moral menjadi jiwa yang menghidupi gerak dan dinamika masyarakat sehingga masyarakat tersebut menjadi semakin berbudaya dan bermartabat. Tanpa ada mantra moral, masyarakat akan hidup dalam suatu tirani kekuasaan yang melecehkan individu dan menghalangi kebebasan.
Ketiga mantra itulah yang menjadi berdiri tegaknya pendidikan karakter dalam sejarah pendidikan di dunia. Bagi penulis, pendidikan karakter telah berkembang dalam lintasan sejarah dunia. Mulai dari bangsa Yunani, Athena, Hellenisme, Romawi, Kristiani, Modern, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ditegakkan pilar-pilarnya. Pendidikan karakter di Yunani dipelopori oleh para filosofnya. Socrates menggelorakan spirit ”kenalilah dirimu sendiri!”, Plato menggelorkan spirit ”mencetak seorang filosof pemimpin”. Hellenisme menggelorakan karakter kosmopolit. Kaum Sparta menggelorakan spirit karakter patriotik.
Di Indonesia, pendidikan karakter telah ditancapkan para pendiri republik. Di sana ada Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Moh Hatta, RA Kartini, Tan Malaka, Moh Natsir, dan sebagainya. Mereka telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami. Walaupun mereka banyak mengadopsi pola pemikiran Barat, tetapi pijakan berkebudayaan tetaplah dengan identitas kultural bangsa. Karena itulah kekayaan primordial paling efektif dalam membentuk karakter kepribadian anak bangsa.
Tugas ke depan yang menghadang, bagi penulis, adalah menciptakan pendidikan karakter di tengah gerusan arus global yang sangat dahsyat. Strategi-strategi yang diskursif ini menjadi sangat penting untuk merumuskan agenda kerja pendidikan Indonesia di tengah percaturan global.
*Guru MTs Binaul Ummah Wonolelo Pleret Bantul








