Berita NU, BANGKITMEDIA.COM
JAKARTA- Warga nahdliyyin berduka. Seorang Mustasyar PBNU dan juga ulama’ kharismatik asal Betawi, KH Saifuddin Amsir wafat pada Kamis dini hari, 19 Juli 2018, pukul 01.30, di Rumah Sakit OMNI Rawamangun, Jakarta. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun…
“Innālillāhi wa innā ilayhi rāji’ūn. Insya Allah husnul khatimah, Buya KH Saifuddin Amsir. Guru yang luar biasa, yang mengenali satu persatu murid-muridnya. Semoga Allah menerima amal baiknya dan mengampuni segala kesalahannya. Lahul Fatihah,” tulis Achmad Fawaid Sjadzili, Kamis (19/07).
Beliau dikenal sebagai ulama’ yang alim, aktif dalam berbagai forum bahtsul masail PBNU. Saat ini, beliau tercatat sebagai Mustasyar PBNU 2015-2020. Sebelumnya, beliau selalu tercatat sebagai Rais Syuriah PBNU.
Dalam catatan NU Online, ia adalah seorang kiai yang mencintai NU. “Sebandel apa pun kita harus cinta NU,” katanya di sela pengajian Ahad pagi di Masjid Ni‘matul Ittihad Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad (11/2/2018) pagi.
Ia menceritakan bagaimana para kiai di Jakarta dahulu melibatkan diri gerakan NU, sebuah gerakan Ahlussunnah wal Jamaah. “Guru-guru kita dulu terlibat aktif dalam NU. Ente kudu jadi pengurus NU. Kita harus cinta pada NU,” kata Kiai Saifuddin Amsir.
“Di sela kesibukannya mengjar santri di Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, KH Saifuddin Amsir juga kerap berceramah di beragam acara, termasuk jadwal rutin di berbagai majelis ta’lim. Ia juga menulis kitab-kitab. Dalam menyusun karyanya, ia memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jāz (Kemukjizatan), Khawās (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an. Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid,” tulis Abdullah Alawi, redaktur NU Online.
Semoga beliau husnul khotimah. Semoga lahir generasi penerus yang melanjutkan perjuangan beliau. (ich/NUO).








