Keraton Jogja Gelar Malam Puncak Anugerah Festival Shalawat Jawa #2

Mengangkat Kembali Shalawat Jawa

Posted on

YOGYAKARTA, BANGKITMEDIA

Majelis Talim Darul Hasyimi Yogyakarta bersama Keraton Yogyakarta mengadakan Keraton Bersholawat di halaman Masjid Gede Keraton Yogyakarta, Senin (28/10). Shalawatan yang mengundang Habib Luthfy bin Yahya ini digelar dalam rangka Malam Augerah Festival Shalawat Jawa ke-2.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Kita ingin mengangkat kembali shalawat Jawa yang di Yogyakarta,” papar Ambar Setiawan selaku Sekretaris Panitia Keraton Bersholawat, Selasa (29/10).

Sholawat Jawa merupakan pelantunan shalawat dalam Bahasa Jawa. Ambar mengatakan bahwa shalawat Jawa masih banyak dilantunkan terutama di pesantren-pesantren pelosok dan masyarakat pedesaan. Namun sayang, banyak dari kalangan muda yang tidak mengetahui sholawat Jawa ini.

“Kalangan anak muda sudah banyak yang tidak tahu,” ucapnya saat ditemui bangkitmedia.com seusai acara (29/10).

Melalui Festival shalawat Jawa ini, pihaknya berharap agar kaum muda mengenal eksistensi sholawat Jawa. Hal ini juga dilakukan dalam upaya menumbuhkan peran Keraton untuk masyarakat dalam bidang keagamaan. Dimana pada zaman dahulu, keraton sangat berperan dalam bidang keagamaan.

Shalawat tasbih Hadiningrat menjadi lagu yang wajib dilantunkan dalam Festival Shalawat Jawa Ke-2. Shalawat tasbih Hadiningrat merupakan karangan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Tasbih Hadiningrat pada masanya dilantunkan pada waktu tertentu di keraton. Namun saat ini sudah bebas dilantunkan di mana saja.

Baca Juga >  Ini Dua Tanggung Jawab NU Menurut Kiai Ma’ruf Amin

“Hal ini dilakukan agar peserta mengenal dengan baik karena mau tak mau harus melantunkannya,” terang Ambar.

Festival Shalawat Jawa yang dipanitiai oleh kurang lebih 30 orang ini telah dilaksanakan pada 26 Oktober lalu di Malioboro Mall. Lomba diikuti oleh sebelas peserta dari berbagai elemen. dimana juara satu festival disandang oleh Nurul Asatid dari Universitas PGRI Semarang.

Ambar menuturkan, festival shalawat juga digelar dengan tujuan supaya shalawat semakin sering dilantunkan. “Dengan adanya festival ini, meski hanya karena ingin ikut lomba, para peserta akan semakin sering membaca shalawat.” (Fikriyatul Islami Mujahidah/rn/bangkitmedia.com)

*Penulis adalah Mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga yang sedang Magang Profesi di Majalah Bangkit dan Bangkitmedia.com