Kyai Mas’ud Masduki: Kyai Kanjeng itu, “Islamic Book & Culture Festival”

KH Mas'ud Masduki dan Dr KH Zuhdi Muhdlor bersama Kyai Kanjeng

Bangkitmedia.com, YOGYA – Hentakan musik yang nyaring dari Kyai Kanjeng, lantunan salawat dan lagu-lagu khas  besutan Budayawan kondang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun),  menyedot perhatian para hadirin tamu undangan dan para pengujung Pameran Buku IKAPI DIY, dan Pameran Seni Rupa di The Ratan, (Selasa, 27 Januari 2026).

Islamic Book & Culture Festival dalam rangka merayakan 100 tahun Nahdlatul Ulama, berlangsung mulai 27 Januari-2 Februari 2026, di The Ratan, Yogyakarta. Diselenggarakan Kerjasama Lesbumi PWNU DIY, PC Fatayat Kota Yogyakarta dan IKAPI DIY. Agendanya ada Pameran Buku, Pameran Seni Rupa, Pameran Produk Pesantren, Pasar Kuliner, Tebus Sayur Murah, Simaan Alquran, Diskusi Buku, Workshop Seni dan Literasi, dll.

Rintik hujan tipis menjadikan suasana tambah syahdu karena alunan salawat dan musik Kyai Kanjeng berpadu. Acara dibuka KH. Dr. Zuhdi Muhdlor, M.Hum,  Ketua Tanfidziyah PWNU DIY dan doa oleh KH. Dr. Habib Syakur, M.Ag, Wakil Rais Syuriyah PWNU DIY dan juga pengasuh pesantren Al Imdad, Bantul.

“NU pada awalnya adalah hamparan kultural yang mulai ada di ujung barat sampai ujung timur bumi Nusantara, kemudian oleh para pendirinya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri dan tokoh-tokoh sepuh para ulama di Jawa dibentuk jamiyyah yang Bernama Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. Dalam rangka menyamakan visi dan misi untuk menjaga dan melestarikan ajaran ahlissunnah waljamaah, yang kala itu sudah ada berbagai macam aliran keagamaan yang tumbuh subur di Nusantara” ungkap Kyai Zuhdi.

“Karena dakwahnya NU dengan pendekatan budaya lokal, sebagaimana yang dilakukan oleh Walisongo, makanya warganya sangat banyak dibanding ormas keagamaan lainnya, walaupun lahirnya lebih dulu Muhammadiyah,” lanjutnya.

Dalam sesi dialog dengan Ketua Syuriyah PWNU DIY, KH. Mas’ud Masduqi, dan KH Zuhdi Muhdlor dipandu oleh Helmy Mustofa dari Kyai Kanjeng, Kyai Mas’ud menguraikan betapa pentingnya rangkaian bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan.

“Ada rahasia yang indah mengapa di Rajab diutamakan 10 hari awal bulannya, Sya’ban adalah di Tengah-tengahnya (Nisfu Sya’ban), dan Ramadan di 10 hari terakhir istimewanya. Ini tidak lain karena Allah ingin melatih jiwa raga kita untuk masuk di bulan Ramadan dan membawa ketakwaan. Juga rahasia pentingnya adalah  tidak hanya Latihan ruhani saja,  tapi juga Latihan untuk mengurus keummatan” Tambahnya.

Yang menarik para hadirin yaitu Ketika Kyai Mas’ud menyamakan  acara “Islamic Book” dan Cultural Festival, dengan frase “Kyai” dan Frase “Kanjeng”. Sebagai metafora bahwa ajaran kita Islam aswaja itu sangat menghargai tradisi dan budaya masyarakat di berbagai tempat. (Arif Faozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *