Kisah Kang Mus, Sang Master Chef Bakmi dari Pesantren Salafiyyah Al Miftah Kulon Progo

  • Whatsapp
Kisah Kang Mus, Sang Master Chef Bakmi dari Pesantren Salafiyyah Al Miftah kulon Progo

Kisah Kang Mus, Sang Master Chef Bakmi dari Pesantren Salafiyyah Al Miftah kulon Progo

Para Santri Berburu Bakmi Buatan Santri Anti-Nasi

Kulon Progo, 08/11 – Satu-satunya kantin pondok putra sekaligus sekolah yayasan Ichsan Asyhari yang menjadi jantung kehidupan para santri untuk jajan hampir 24 jam dengan penjaganya yaitu, Kang Mus dan kawan-kawan.

Kang Mus, begitulah panggilan akrabnya di kalangan pondok pesantren salafiyyah Al Miftah Kauman, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo. Santri yang bernama lengkap Mustofa Ahmad ini sudah nyantri selama 6 tahun lebih dari ia lulus SD sampai lulus MA dan masih menimba ilmu hingga kini. Karena ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, ia pun direkrut menjadi penjaga kantin ditemani 3 orang lainnya yang masih pelajar, Yusuf Suparjo, Taufik Nur Sholeh, dan saya sendiri Malik Yazid.

Tiga teman Kang Mus itu selalu mengisi hari dengan ngaji, belajar, dan belanja disamping menjadi pengurus pondok. Santri yang sedang menjalani ritual ngrowot (tidak boleh makan makanan yang mengandung beras) dari akhir kelas 12 MA sampai sekarang, mempunyai kesibukan sendiri sebagai penjaga kantin diwaktu pagi dengan membuat produk bakmi.

Dimulai setelah waktu subuh sammpai jam istirahat sekolah tiba, ia pergi ke pasar membeli bahan-bahan bakmi dan beberapa bahan penting lainnya seperti, bawang merah, bawang putih, daun bawang, telur, kubis, seledri, dan lain-lain. Inisiatif ini ia ambil karena ingin membuat cita rasa baru, berbeda dengan produk-produk bakmi titipan dikantin ini.

“Saya membuat bakmi

karena ingin menciptakan produk baru. Walaupun sudah ada dari titipan, saya pikir itu kurang inovasi. Maka dari itu saya berinisiatif membuat bakmi dengan tampilan dan rasa yang baru,” kata Kang Mus saat menjaga kantin.

Setelah melayani para santri yang membeli sarapan di warungnya, Kang Mus menjalankan rutinitasnya membuat bakmi agar nanti ketika jam istirahat tiba, produk bakminya siap untuk dijual. Pernah di suatu ketika, saya diminta kang Mus untuk membeli bawang merah dan bawang putih di Toko Nyai Haroh, anak keenam dari Kyai Pondok Al-Miftah, dan sekaligus toko yang terdekat di pondok kami. Beliau bertanya untuk apa bahan- bahan ini dengan logat khas jawanya. “Untuk membuat bakmi, Bu”, jawabku.

Sebagai Ibu sekaligus Nyai yang ayom terhadap keluarga dan paham masakan, beliau mengatakan “Wong-wong kene ki nek gawe bakmi ora nganggo brambang e” (orang-orang sini-penduduk sekitar pondok-bila membuat bakmi itu tidak memakai bawang merah). Saya hanya bisa membalas dengan senyuman. Sepulang dari toko saya pun memberitahu Kang Mus soal saran dari Bu Nyai Haroh tadi. Tetap kekeh Kang Mus pun langsung bilang, “Itu kan orang sekitar sini, sedangkan aku bukan orang sini,” kata pengurus asal Desa Klegen, Sendangsari, Kulonprogo ini sambil tertawa kecil.

Kisah Kang Mus, Sang Master Chef Bakmi dari Pesantren Salafiyyah Al Miftah kulon Progo

Menariknya, dengan keahlian terbatas dalam hal memasak: tidak ada turunan bakat jago masak dari ibunya; atau mungkin pengalaman merasakan puluhan jenis bakmi yang beragam jenis rasa,

Kang Mus bisa membedakan dan menganalisa mana bakmi yang enak dan yang biasa saja sehingga ia sukses membuat produk buatannya sendiri hanya dengan mengandalkan tutorial pembuatan bakmi dari youtube saja.

Bakmi buatan Kang Mus pun ternyata diminati, paling dicari, dan tidak kalah dengan bakmi-bakmi lain yang harganya lebih tinggi. Kang Mus menjual bakminya seharga seribu rupiah per-bungkus. Dalam sehari, Kang Mus membuat sekitar enam puluh bungkus. Hampir tiap hari sekolah, bakmi kang Mus habis terjual hanya dalam lima belas menit sesuai dengan jam istirahat sekolah yang memang hanya lima belas menit.

Selama produksi dan menjual bakmi, Kang Mus tidak pernah merasakan masalah yang sangat berarti. Kecuali satu, yaitu waktu. “Tidak ada masalah yang berarti walaupun banyak proses pembuatan yang saya tangani, dan saya bisa mengatasinya. Hanya satu masalah yang bisa menghambat dalam hal ini, yaitu waktu”, ujarnya. Sesekali pernah kang Mus telat dalam pembuatan produknya, mengakibatkan membludaknya para siswa berebut bakmi sehingga membuat Kang Mus dan penjaga lainnya kewalahan. Namun hal ini tidak hanya terjadi saat Kang Mus terlambat membuat bakmi. Tidak jarang beberapa pembeli nekat masuk ke tempat pembuatan bakmi meminta bakmi dengan harga yang tidak hanya seribu rupiah melainkan dua atau tiga ribu rupiah langsung dalam suatu wadah tanpa dibungkus karena tidak sabar menunggu antrian.

Siswa yang jam istirahatnya mundur biasanya akan kehabisan bakmi buatan Kang Mus. Meski kantin sudah sepi, dan bakminya jelas habis, siswa yang terlambat istirahat biasanya akan tetap bertanya “Apakah bakminya masih ada Kang?’

Saya bertanya pada beberapa siswa mengapa memilih bakmi Kang Mus, meski di kantin ada beberapa bakmi lain titipan orang. “Tidak tahu, ya karena punya rasa yang berbeda saja dari yang lain. Punya cita rasa khas tersendiri,” jawab Khanifuddin siswa kelas XI MA sambil tersenyum. Jawaban serupa juga dituturkan Fajrul Falah siswa kelas VIII MTs “Memang enak buatan kang Mus. Terus menarik perhatian pembeli karena pada rebutan belinya.”

“Sangat banyak diminati konsumen, setiap konsumen pasti mencari produk yang saya buat, seperti nasi goreng yang dulu pernah saya buat, bakmi pun seperti itu.” ujar Kang Mus soal bakmi buatannya yang lebih spesial dari bakmi lain karena ada taburan kubis, seledri, dan rasa bawang merahnya yang kuat. Sampai saat ini pun produk buatan kang Mus masih terus diproduksi untuk menambah pemasukan kantin. Bahkan setiap malam jumat, ketika santri lain membaca sholawat berzanji, Kang Mus sudah sibuk membuat bakmi. Target Kang Mus, setelah berzanji selesai dan biasanya para santri berkumpul menonton tv berjamaah, bakmi sudah siap diedarkan. Sehat-sehat selalu Kang Mus, kami para santri, penggemar bakmi mu.

Demikian Kisah Kang Mus, Sang Master Chef Bakmi dari Pesantren Salafiyyah Al Miftah kulon Progo. Semoga bermanfaat.

Penulis: Malik Yazid Pradana, Mahasiswa Semester 1 Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta

Editor: Mas Ahmad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *