tahlil

Ketika Santri Tidak Tahu Tahlil

Posted on

Karena sudah lama mondok dan waktunya menikah, akhirnya seorang santri pamit pulang pada Kiai untuk menikah. Setelah menjalani kehidupan rumah tangga di desanya, kebetulan tetangganya mengadakan selamatan. Santri yang sudah menikah ini diundang ke acara ini.

Ketika acara selamatan akan dimulai, Kiai yang biasa memimpin tahlil di desanya ternyata berhalangan, tak bisa hadir.

Tuan rumah dan para undangan saling tatap muka mencari orang yang bisa menggantikan Kiai untuk memimpin tahlil.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Akhirnya, semua mata tertuju pada santri yang baru menikah dan baru pulang dari pondok ini. Ini pasti bisa memimpin tahlil. Pengetahuan agamanya pasti masih segar. Tuan rumah pun memeprsilahkannya untuk memimpin tahlil.

Si santri yang tidak menyangka akan disuruh memimpin tahlil langsung kaget. Ia gelagapan. Diraba sakunya ternyata tidak ada buku saku bacaan tahlil. Lirik kanan-kiri tidak ada buku kecil berjudul Yasin dan Tahlil.

“Waduh, mungkin ada yang lebih sepuh dan pantas daripada saya pak,” katanya dengan suara yang berat.

“Silahkan sampean saja, nak.”

Si santri mulai terlihat tidak nyaman duduk bersila. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di bawah tempat duduknya. “Oh tidak pak. Lebih afdhal yang sepuh,” sahutnya lagi.

“Ayolah nak dipimpin tidak apa-apa.”

“Maaf, pak. Saya sungkan jika ada yang lebih sepuh.” Jawab santri dengan suara terbata-bata dan raut muka memerah.

Karena tiga kali disuruh tetap tidak mau, akhirnya tuan rumah mempersilahkan kepada undangan lain atau tepatnya seorang biasa yang bacaan arabnya kurang fasih tapi hafal tahlil karena saking seringnya mengikuti tahlilan.

Selama tahlilan berlangsung, santri ini sangat kecewa terhadap dirinya. Dia merasa tidak nyaman bahkan malu karena menolak tawaran memimpin tahlil. Padahal, sebagai santri, wajib bisa memimpin tahlil dalam kondisi apa pun.

Ia ingin segera pulang dan tidak ingin menceritakan kepada siapa saja kejadian itu, termasuk dengan teman tidurnya, yakni istrinya tercinta. Ia ingin segera menyembunyikan wajahnya dari masyarakat kampung tempatnya tinggal. Namun, acara tahlilan itu terasa sangat panjang, terlebih saat sayup-sayup tapi menampar ia mendengar salah satu di antara mereka mengatakan, “santri kok tidak tahu tahlil.”

Baca Juga >  Bacaan Qunut Subuh dan Dasar Hukumnya

*****

“Tapi masalahnya bukan saya tidak tahu tahlil. Cuma saya tidak hafal,” katanya memberanikan diri bercerita pada istrinya setelah sampai di rumahnya. Siapa lagi yang bisa dijadikan tempat curhat jika bukan teman hidup semati.

“Mulai sekarang, kang mas harus menghafalkan tahlil. Nanti disuruh lagi. Malu tauk alumni pesantren tidak bisa memimpin tahlil,” istrinya menasihati.

Siang-malam santri itu kemudian menghafalkan tahlil. Sekitar satu bulan bacaan tahlilnya sudah di luar kepala alias sangat hafal.

“Salahnya kang mas tidak ngafalin waktu mondok. Setelah kejadian itu baru tahu bahwa santri itu harus hafal tahlil,” ujar istrinya ketika ia bilang bahwa sudah hafal tahlil dan siap untuk memimpin tahlil.

Namun, ketika si santri ini sudah hafal, tidak ada seorang pun di kampungnya yang menyuruhnya lagi untuk memimpin tahlil. Apalagi sang Kiai di kampung itu selalu hadir dalam setiap undangan yang melibatkan dirinya. Atau meskipun sang Kiai tidak hadir, masyarakat tidak menyuruhnya lagi.

Agar ia tidak sia-sia menghafalkan tahlil dan bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa dirinya adalah santri tulen yang hafal tahlil, akhirnya ia mengadakan acara sendiri di rumahnya, setelah Kiai di kampungnya berangkat umrah. Semua masyarakat diundang kecuali yang berpotensi mampu memimpin tahlil.

Setelah semua undangan berkumpul di rumahnya dan acara tahlil akan dimulai, tapi sayangnya tidak ada yang mau disuruh mempimpin tahlil, akhirnya santri yang sekarang menjadi tuan rumah inilah yang memimpinnya.

Sejak saat itulah, ia dikenal santri yang ternyata bisa memimpin tahlil dan sering dimintai untuk memimpin tahlil mewakili Kiai yang berhalangan hadir.

Usai acara tahlil ia puas karena benar-benar menjadi santri tulen yang bisa memimpin tahlil. Sebab, di kampungnya (mungkin juga di kampungmu) santri yang tidak tahu memimpin tahlil dianggap santri gadungan.

Penulis: Masykur Arif, Sumenep Madura.